PADANG, ALINIANEWS.COM – Polda Sumatera Barat berencana menambah personel pengamanan proyek Flyover Sitinjau Lauik menyusul insiden dugaan pengancaman dan penghalangan terhadap pekerja proyek strategis nasional tersebut.
Langkah itu diambil setelah muncul sejumlah aksi yang dinilai mengganggu kelancaran pembangunan jalan layang senilai Rp2,79 triliun yang digadang-gadang menjadi solusi atas tingginya angka kecelakaan di jalur ekstrem Padang–Solok.
Kepala Sub Direktorat Kawasan Tertentu Direktorat Pengamanan Objek Vital (Ditpamobvit) Polda Sumbar, AKBP Sumintak, mengatakan pihaknya tengah mengusulkan penambahan satu regu personel untuk memperkuat pengamanan di lokasi proyek.

“Rencananya kita minta tambahan personel sekitar satu regu lagi,” kata AKBP Sumintak di Padang, Senin (9/6/2026).
Saat ini, pengamanan proyek Flyover Sitinjau Lauik dilakukan oleh satu regu yang berjumlah delapan personel dan bersiaga penuh selama 24 jam. Dengan tambahan satu regu lagi, jumlah personel yang berjaga akan menjadi 16 orang.
“Kalau bisa kita tambah satu regu lagi sampai suasana ini kondusif,” ujarnya.
Diduga Ada Pihak Luar yang Mengganggu Proyek
Penambahan pengamanan dilakukan menyusul adanya dugaan aksi penghalangan terhadap pekerjaan konstruksi yang dilakukan oleh sekelompok orang. Bahkan, beberapa di antaranya disebut melakukan tindakan intimidasi terhadap petugas di lapangan.
Berdasarkan hasil penelusuran kepolisian, orang-orang yang diduga melakukan penghalangan bukan berasal dari kawasan sekitar proyek maupun dari kaum pemilik lahan yang selama ini berproses dalam penyelesaian administrasi.
“Mereka bukan orang sini. Jadi sebenarnya tidak ada hubungan dengan permasalahan ini,” tegas AKBP Sumintak.
Sementara itu, Direktur PT Hutama Panorama Sitinjau Lauik (HPSL), Michael Arthur Paulus Rumenser, membenarkan bahwa aksi penghalangan terhadap aktivitas proyek bukan kali pertama terjadi.
Menurutnya, pada kejadian sebelumnya perusahaan memilih tidak melaporkan persoalan tersebut karena masih menunggu proses konsinyasi lahan berjalan.
“Pada saat itu kita tidak melaporkannya ke polisi karena sedang dalam proses konsinyasi,” katanya.
Namun setelah kejadian serupa kembali terjadi, pihak perusahaan langsung berkoordinasi dengan Polda Sumbar guna mencari langkah terbaik agar pembangunan tidak kembali terhambat.
Progres Sudah Hampir 19 Persen
Di tengah dinamika yang terjadi di lapangan, pembangunan Flyover Panorama I Sitinjau Lauik terus berjalan. Hingga 25 Mei 2026, progres fisik proyek telah mencapai 18,755 persen.
Michael mengatakan seluruh proses pengadaan lahan kini juga telah rampung 100 persen sehingga menjadi modal penting untuk mempercepat pekerjaan konstruksi pada tahap berikutnya.
Perkembangan tersebut dipaparkan saat kunjungan kerja rombongan Kementerian Perencanaan Pembangunan Nasional (PPN)/Bappenas ke lokasi proyek beberapa waktu lalu.
Flyover Panorama I merupakan proyek infrastruktur strategis yang dirancang untuk mengurangi risiko kecelakaan di kawasan Sitinjau Lauik yang selama ini dikenal sebagai salah satu jalur paling ekstrem di Sumatera Barat.
Bappenas: Proyek Ini Sangat Penting
Deputi Bidang Infrastruktur Kementerian PPN/Bappenas, Abdul Malik Sadat Idris, menegaskan proyek tersebut memiliki peran besar dalam meningkatkan keselamatan pengguna jalan sekaligus mendukung pertumbuhan ekonomi daerah.
“Flyover Panorama I memiliki peran penting dalam meningkatkan keselamatan pengguna jalan pada koridor Padang–Solok sekaligus mendukung konektivitas dan pertumbuhan ekonomi wilayah. Kami ingin memastikan pembangunan berjalan sesuai rencana serta memperoleh dukungan yang diperlukan agar manfaatnya dapat segera dirasakan masyarakat,” ujarnya.
Menurut Michael, pembangunan Flyover Panorama I menjadi langkah awal untuk menghadirkan sistem transportasi yang lebih aman dan efisien di kawasan Sitinjau Lauik.
Selain mengurangi risiko kecelakaan, proyek ini juga diharapkan mampu memperlancar distribusi logistik, meningkatkan mobilitas masyarakat, serta menjadi fondasi bagi pembangunan Flyover Panorama II pada masa mendatang.
“Kami berharap kunjungan ini menjadi momentum untuk memperkuat komitmen bersama dalam mewujudkan infrastruktur yang aman, andal, dan berkelanjutan di Sumbar. Dengan dukungan seluruh pihak, Flyover Panorama I diharapkan dapat segera hadir sebagai solusi bagi masyarakat,” kata Michael.
Jalur Ekstrem yang Lama Jadi Momok Pengendara
Sitinjau Lauik merupakan ruas jalan utama yang menghubungkan Kota Padang dan Kota Solok. Jalur ini dikenal memiliki kombinasi tikungan tajam dan tanjakan curam yang tidak memenuhi standar geometrik ideal untuk lalu lintas modern.
Kondisi tersebut membuat kawasan Sitinjau Lauik selama bertahun-tahun menjadi titik rawan kecelakaan, terutama bagi kendaraan berat yang melintas setiap hari.
Karena itu, pembangunan Flyover Panorama I dengan nilai investasi mencapai Rp2,79 triliun melalui skema Kerja Sama Pemerintah dan Badan Usaha (KPBU) diharapkan menjadi solusi permanen untuk meningkatkan keselamatan sekaligus mendukung pertumbuhan ekonomi Sumatera Barat.



