Kasus Hantavirus dari Kapal Pesiar Internasional Sampai ke Jakarta? Ini Penjelasan Kemenkes

JAKARTA, ALINIANEWS.COM – Kasus hantavirus yang mengguncang kapal pesiar MV Hondius kini ikut menyeret Indonesia ke dalam radar investigasi internasional. Seorang warga negara asing (WNA) yang tinggal di Jakarta teridentifikasi sebagai kontak erat pasien dari klaster kapal pesiar tersebut, memicu respons cepat pemerintah dan pengawasan intensif lintas lembaga.

Meski hingga kini belum ada kasus positif terkait klaster MV Hondius di Indonesia, Kementerian Kesehatan bergerak cepat melakukan pelacakan epidemiologi, isolasi, hingga pemeriksaan laboratorium terhadap WNA tersebut.

Kasus ini menjadi perhatian serius karena berkaitan dengan Andes virus, salah satu jenis hantavirus yang dikenal memiliki tingkat fatalitas tinggi dan pernah dikaitkan dengan kemungkinan penularan antarmanusia dalam kondisi tertentu.

Iklan

Bermula dari Kapal Pesiar MV Hondius

Wabah bermula dari kapal pesiar ekspedisi MV Hondius yang melakukan pelayaran di kawasan Atlantik Selatan dan Antartika. Sejumlah penumpang dilaporkan mengalami gejala berat dan beberapa di antaranya meninggal dunia.

Berdasarkan laporan internasional, kasus tersebut berkaitan dengan hantavirus tipe Andes yang dapat memicu Hantavirus Pulmonary Syndrome (HPS), penyakit serius yang menyerang sistem pernapasan.

World Health Organization (WHO) bersama sejumlah negara kemudian melakukan investigasi besar-besaran terhadap seluruh penumpang dan kontak erat kapal tersebut.

Indonesia mulai masuk dalam pemantauan setelah International Health Regulation National Focal Point (IHR NFP) Inggris mengirimkan notifikasi resmi kepada pemerintah Indonesia pada Kamis (7/5/2026).

BACA JUGA  BREAKING: Wabah Hantavirus di Kapal Pesiar Tewaskan 3 Orang, Penumpang Dikarantina Massal

Notifikasi itu menyebut seorang pria WNA berusia sekitar 60 tahun yang tinggal dan bekerja di Jakarta Pusat diduga memiliki kontak sangat dekat dengan pasien kedua dari klaster MV Hondius yang kemudian meninggal akibat infeksi hantavirus Andes.

Kontak Erat dengan Pasien yang Meninggal

Kementerian Kesehatan menjelaskan WNA tersebut memiliki sejumlah faktor risiko penting selama perjalanan.

Mulai dari berada di kapal yang sama, menginap di hotel yang sama di St Helena, hingga duduk berdekatan dalam penerbangan menuju Johannesburg, Afrika Selatan.

Setelah itu, pria tersebut melanjutkan perjalanan ke Qatar sebelum akhirnya tiba di Indonesia pada 30 April 2026.

Riwayat perjalanannya juga cukup panjang. Ia diketahui sempat berada di Argentina sejak pertengahan Maret sebelum bergabung dalam pelayaran MV Hondius pada 1 April hingga 23 April 2026.

Karena dianggap memiliki risiko tinggi, pemerintah Indonesia langsung melakukan investigasi epidemiologi tertutup untuk mencegah potensi penyebaran.

Pada Sabtu (9/5/2026), pria tersebut dievakuasi ke RSPI Sulianti Saroso guna menjalani pemeriksaan lanjutan dan observasi medis.

Hasil Laboratorium Negatif

Kabar melegakan datang setelah Kementerian Kesehatan mengumumkan hasil pemeriksaan laboratorium terhadap lima spesimen yang diambil dari WNA tersebut.

Hasilnya dinyatakan negatif untuk hantavirus, baik tipe HPS maupun Hemorrhagic Fever with Renal Syndrome (HFRS).

Selain itu, kondisi pria tersebut disebut stabil dan tidak menunjukkan gejala klinis yang mengarah pada infeksi aktif.

BACA JUGA  Indonesia Siap Jual Listrik ke Singapura, Nilai Proyek Tembus Rp480 Triliun: Bahlil Ingatkan Harga Harus "Cengli"

Meski begitu, pemantauan tetap dilakukan mengingat masa inkubasi hantavirus bisa berlangsung lebih dari dua minggu.

Selama berada di Indonesia, WNA tersebut juga disebut menjalani karantina mandiri dan bekerja dari rumah setelah mengetahui adanya risiko paparan.

Hingga kini, pemerintah memastikan belum ditemukan bukti penyebaran lokal hantavirus dari klaster MV Hondius di Indonesia.

Dinkes DKI: Masih Suspek, Jangan Panik

Kepala Dinas Kesehatan DKI Jakarta, Ani Ruspitawati menegaskan kasus tersebut saat ini masih berstatus suspek dan belum dapat dinyatakan positif sebelum ada penegakan diagnosis melalui laboratorium.

“Yang sekarang masih suspek, harus ditetapkan penegakan diagnosisnya melalui laboratorium, belum tegak (pasti), masih suspek,” ujar Ani.

Ia juga mengingatkan bahwa hantavirus bukanlah virus baru seperti Covid-19.

“Hantavirus sebetulnya virus lama ya, itu bukan virus baru jadi berbeda dengan Covid dulu kan memang dia new emerging, kalau ini sebenarnya virus lama. Sudah dimonitor terus sebenarnya setiap tahun,” jelasnya.

Menurut Ani, penularan hantavirus di Indonesia sejauh ini masih berasal dari hewan pengerat ke manusia, bukan antarmanusia.

“Penularannya melalui tikus, air liur, air seni, kotoran tikus, yang terkontaminasi ke manusia atau kemudian debunya terhirup oleh manusia,” katanya.

Ia menambahkan hanya varian Andes yang hingga kini diketahui memiliki potensi penularan antarmanusia dan varian tersebut belum ditemukan di Indonesia.

“Yang menular antar manusia hanya satu varian sampai saat ini dari penjelasan WHO hanya yang Andes, yang ditemukan di Amerika Selatan,” kata Ani.

BACA JUGA  Pengusaha China Keluhkan Beban Investasi di Indonesia, Ini Jawaban Tegas Purbaya

“Dan Andes sampai sejauh ini, tidak ada di Indonesia. Jadi yang ada di kita masih yang menularnya dari vektornya dari tikus ke manusia,” sambungnya.

Masyarakat Diminta Tetap Waspada

Dinas Kesehatan DKI Jakarta meminta masyarakat tetap tenang namun waspada dengan menerapkan pola hidup bersih dan sehat (PHBS).

“Harus cuci tangan, pakai masker ketika memang kita perkirakan kita ada di tempat-tempat yang berisiko,” ujar Ani.

Ia juga mengimbau masyarakat menjaga kebersihan lingkungan guna meminimalkan risiko penularan virus dari tikus.

“Yang penting sebetulnya tidak perlu panik tapi waspada gitu. Yang penting adalah bagaimana kita menjaga pola hidup yang bersih, sehat,” katanya. (*/Rel
)

spot_img

Latest news

- Advertisement -spot_img

Berita Terkait

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses