BREAKING: Wabah Hantavirus di Kapal Pesiar Tewaskan 3 Orang, Penumpang Dikarantina Massal

JAKARTA, ALINIANEWS.COM – Sebuah kapal pesiar asal Belanda, MV Hondius, menjadi sorotan dunia setelah dikaitkan dengan wabah hantavirus yang menewaskan sejumlah penumpang dari berbagai negara. Kapal ekspedisi tersebut akhirnya berlabuh di dekat pelabuhan Granadilla, tenggara Tenerife, Spanyol, Minggu (11/5), setelah berlayar sejak 1 April dari Argentina membawa 175 penumpang dan awak kapal.

Kasus ini memicu respons darurat kesehatan internasional. Sejumlah negara langsung mengevakuasi warga mereka untuk menjalani isolasi ketat dan pemantauan medis berhari-hari. Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) sendiri telah mengonfirmasi sedikitnya sembilan kasus, terdiri dari tujuh kasus positif dan dua kasus suspek.

Tiga penumpang dilaporkan meninggal dunia, yakni pasangan asal Belanda dan seorang perempuan asal Jerman. Dua di antaranya dipastikan terinfeksi hantavirus.

Iklan

Wabah ini pertama kali terdeteksi setelah 32 penumpang turun di Pulau St Helena pada 24 April. WHO kemudian mengumumkan kasus pertama pada 4 Mei lalu.

Inggris Karantina Puluhan Penumpang

Pemerintah Inggris memulangkan 20 warga negaranya bersama satu warga Jerman yang tinggal di Inggris dan satu warga Jepang. Mereka diterbangkan menggunakan pesawat sewaan menuju Bandara Manchester sebelum dibawa ke Rumah Sakit Arrowe Park di Merseyside.

Seluruh penumpang diwajibkan menjalani observasi medis selama 72 jam sebelum melanjutkan isolasi mandiri selama 42 hari.

Badan Keamanan Kesehatan Inggris (UKHSA) memastikan penerbangan dilakukan dengan “langkah-langkah pengendalian infeksi yang ketat”.

Menteri Kesehatan Publik Inggris Sharon Hodgson menegaskan belum ada penumpang yang menunjukkan gejala.

BACA JUGA  Hercules Ngaku Pernah Ditawari Tinggal di Hambalang oleh Prabowo: “Takut Saya Dibunuh Orang”

“Dengan tidak adanya kasus atau gejala di antara mereka dan langkah-langkah pemantauan dan isolasi ketat kami, risiko bagi masyarakat tetap sangat rendah,” ujarnya.

Amerika Serikat Isolasi Ketat Penumpang

Sebanyak 18 warga Amerika Serikat telah dipulangkan. Enam belas orang menjalani pemeriksaan di Pusat Medis Universitas Nebraska, sementara dua lainnya berada di Atlanta.

Dua penumpang dirawat di fasilitas khusus penanganan patogen di Universitas Emory. Salah satunya diketahui mengalami gejala ringan dan dipulangkan menggunakan unit biokontainment khusus.

Departemen Kesehatan dan Layanan Kemanusiaan Amerika Serikat (HHS) menilai risiko terhadap masyarakat umum “sangat, sangat rendah”.

Pejabat HHS, John Knox, mengatakan seluruh warga yang kembali akan menjalani penilaian kesehatan menyeluruh sebelum ditentukan apakah cukup isolasi di rumah atau harus tetap dirawat di fasilitas khusus.

Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Amerika Serikat (CDC) bahkan meminta penumpang menjalani pemantauan hingga 42 hari dengan pemeriksaan suhu tubuh setiap hari.

Spanyol hingga Prancis Siaga

Di Spanyol, 14 warga negara yang dipulangkan dari Tenerife menjalani karantina wajib di rumah sakit militer Madrid. Menteri Kesehatan Spanyol Mónica García menyebut satu orang sempat dinyatakan positif sementara.

“Individu tersebut tetap diisolasi, tanpa gejala, dan dalam kondisi umum yang baik,” katanya.

Sementara di Prancis, kasus hantavirus pertama terdeteksi setelah seorang perempuan mengalami gejala dalam penerbangan dari Tenerife menuju Paris.

Menteri Kesehatan Prancis Stéphanie Rist menyebut pasien kini menjalani isolasi ketat dan kondisinya terus dipantau.

BACA JUGA  APCHADA Sumbar dan BSI Bangun Kolaborasi Strategis, Peternak Closed House Siap Tangkap Peluang Besar Program MBG

Belanda, Jerman, Kanada hingga Swiss Bergerak Cepat

Pemerintah Belanda menerbangkan warganya ke Eindhoven sebelum dibawa langsung ke rumah masing-masing menggunakan kendaraan khusus untuk menjalani karantina.

Pemerintah setempat memastikan petugas kesehatan akan menghubungi mereka setiap hari guna memantau kemungkinan munculnya gejala.

Jerman juga mengisolasi empat warga negaranya di Rumah Sakit Universitas Frankfurt sebelum dipulangkan ke daerah masing-masing untuk pemantauan lanjutan.

Kanada mengisolasi enam warganya, sedangkan Swiss mengonfirmasi satu kasus positif setelah seorang pria yang turun di Saint Helena dinyatakan terinfeksi sepulang ke negaranya.

Diduga Berasal dari Amerika Selatan

WHO menyebut dua kasus awal sempat melakukan perjalanan pengamatan burung di Argentina, Chili, dan Uruguay, termasuk ke lokasi habitat tikus pembawa virus.

Sejumlah pejabat Argentina menduga wabah berkaitan dengan strain Andes, jenis hantavirus yang memang banyak ditemukan di Argentina dan Chili.

Investigasi asal-usul wabah hingga kini masih berlangsung.

Indonesia: Sudah Ada 23 Kasus Hantavirus

Di tengah ramainya kasus internasional tersebut, Kementerian Kesehatan RI mengungkapkan Indonesia sebenarnya telah menemukan 23 kasus hantavirus tipe HFRS di sembilan provinsi.

Namun, pemerintah menegaskan virus yang ditemukan di Indonesia berbeda dengan tipe yang ramai dibicarakan di kapal pesiar tersebut.

Mengutip penjelasan Kemenkes RI, hantavirus bukan penyakit baru. Penularannya umumnya terjadi melalui kontak dengan tikus atau celurut yang terinfeksi, termasuk urine, kotoran, maupun debu yang terkontaminasi.

Secara global, penyakit ini terbagi dalam dua bentuk klinis:

  • HFRS (Haemorrhagic Fever with Renal Syndrome) yang menyerang ginjal dan ditemukan di Asia serta Eropa, termasuk Indonesia.
  • HPS (Hantavirus Pulmonary Syndrome) yang menyerang sistem pernapasan dan banyak ditemukan di wilayah Amerika.
BACA JUGA  Viral! BGN Anggarkan Rp800 Juta untuk “Kelola Opini Publik”, Publik Soroti Program MBG

Kemenkes memastikan hingga kini tipe HPS belum pernah dilaporkan di Indonesia.

“Masyarakat diimbau untuk tetap tenang karena kasus fatalitas yang dipastikan terjadi akibat adanya infeksi penyerta, bukan murni akibat Virus Hanta,” tulis Kemenkes RI melalui akun resminya.

WHO dalam penilaian risikonya Mei 2026 juga menyatakan risiko penyebaran global tetap rendah dan tidak merekomendasikan pembatasan perjalanan maupun perdagangan internasional.

Gejala dan Cara Pencegahan

Kemenkes mengingatkan masyarakat untuk tetap waspada, terutama bagi yang beraktivitas di area berisiko tinggi.

Gejala HFRS meliputi:

  • Demam tinggi
  • Sakit kepala
  • Nyeri badan dan lemas
  • Ikterik atau tubuh menguning

Sedangkan gejala HPS meliputi:

  • Demam
  • Nyeri badan
  • Batuk
  • Sesak napas

Masa inkubasi virus HFRS berkisar satu hingga dua minggu, sementara HPS dapat muncul dalam rentang satu hingga delapan minggu setelah paparan.

Pemerintah mengimbau masyarakat menerapkan perilaku hidup bersih dan sehat (PHBS), seperti rajin mencuci tangan, membersihkan debu menggunakan kain basah, menyimpan makanan di wadah tertutup, hingga menutup akses masuk tikus ke dalam rumah.

Masyarakat juga diminta segera memeriksakan diri ke fasilitas kesehatan apabila mengalami gejala setelah beraktivitas di area yang berpotensi terpapar tikus atau lingkungan terkontaminasi. (*/Rel)

spot_img

Latest news

- Advertisement -spot_img

Berita Terkait

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses