Rupiah Jebol ke Rp18.187 per Dolar AS, Pasar Mulai Cemas dengan MBG dan Kopdes Merah Putih?

JAKARTA, ALINIANEWS.COM – Nilai tukar rupiah kembali berada di bawah tekanan. Mata uang Garuda ditutup melemah cukup dalam pada perdagangan Senin (8/6/2026), di tengah meningkatnya kekhawatiran pasar terhadap kondisi fiskal domestik dan memanasnya situasi geopolitik global.

Berdasarkan data pasar spot, rupiah ditutup terdepresiasi 151,50 poin atau 0,84 persen ke level Rp18.187 per dolar Amerika Serikat (AS). Bahkan, kurang dari dua jam sebelum penutupan perdagangan, rupiah sempat menyentuh level Rp18.201 per dolar AS atau melemah sekitar 0,91 persen.

Tekanan terhadap rupiah muncul dari kombinasi faktor domestik dan eksternal. Di dalam negeri, pasar mulai mencermati besarnya kebutuhan anggaran pemerintah untuk sejumlah program prioritas, termasuk Program Makan Bergizi Gratis (MBG) dan Koperasi Desa (Kopdes) Merah Putih.

Iklan

Kondisi tersebut memunculkan kekhawatiran investor terhadap potensi pelebaran defisit transaksi berjalan, terlebih ketika surplus perdagangan Indonesia yang selama ini menjadi penyangga stabilitas rupiah terus menunjukkan tren penyusutan.

Analis Mata Uang dan Komoditas Ibrahim Assuaibi mengatakan pasar sedang mengukur kemampuan pemerintah menjaga keseimbangan fiskal di tengah berbagai program strategis yang membutuhkan pembiayaan besar.

Menurutnya, tekanan terhadap sektor eksternal semakin meningkat karena surplus perdagangan yang terus menurun tidak lagi sekuat sebelumnya dalam menopang nilai tukar rupiah.

Di saat bersamaan, pemerintah juga menghadapi risiko meningkatnya subsidi energi akibat lonjakan harga minyak dunia. Situasi itu dipicu meningkatnya ketegangan geopolitik di Timur Tengah, termasuk dampak gangguan distribusi energi global setelah penutupan Selat Hormuz oleh Iran.

BACA JUGA  Prabowo Minta Sekolah Rakyat Diperbanyak di Seluruh Indonesia: Hampir Semua yang Minta Harus Diterima!

Kenaikan harga minyak mentah berpotensi memperbesar kebutuhan impor energi Indonesia sekaligus meningkatkan permintaan terhadap dolar AS. Dampaknya, kebutuhan devisa bertambah dan dapat memberikan tekanan tambahan terhadap posisi fiskal pemerintah maupun beban utang negara.

Di tengah tekanan tersebut, cadangan devisa Indonesia juga mengalami penurunan. Bank Indonesia melaporkan posisi cadangan devisa pada akhir Mei 2026 sebesar 144,9 miliar dolar AS atau sekitar Rp2.590,2 triliun. Angka itu turun dibandingkan posisi akhir April 2026 yang mencapai 146,2 miliar dolar AS.

Secara historis, posisi tersebut menjadi yang terendah dalam hampir dua tahun terakhir atau sejak Juni 2024 ketika cadangan devisa berada di level 140,2 miliar dolar AS.

Meski demikian, Bank Indonesia menilai kondisi cadangan devisa masih berada pada level yang aman. Saat ini, cadangan devisa mampu membiayai 5,6 bulan impor atau 5,5 bulan impor dan pembayaran utang luar negeri pemerintah, jauh di atas standar kecukupan internasional sekitar tiga bulan impor.

“Bank sentral juga meyakini ketahanan sektor eksternal Indonesia tetap terjaga seiring masih memadainya cadangan devisa yang dimiliki saat ini,” ujar Ibrahim kepada wartawan, Senin sore.

Tekanan terhadap pasar keuangan global juga datang dari eskalasi konflik di Timur Tengah. Ketegangan meningkat setelah Israel melancarkan serangan terhadap sejumlah target di Iran, termasuk fasilitas petrokimia di wilayah barat daya negara tersebut.

BACA JUGA  Bank Nagari Buka-Bukaan Soal Temuan BPK dan Fraud di Tiga Cabang, Ini Penjelasannya

Media lokal Iran melaporkan ledakan terdengar di beberapa kota besar seperti Teheran, Tabriz, dan Isfahan. Situasi ini semakin memperkecil harapan pasar terhadap normalisasi distribusi minyak dunia melalui Selat Hormuz.

Di sisi lain, Iran juga meluncurkan serangan balasan berupa rentetan rudal ke sejumlah target di Israel. Konflik yang terus membesar membuat investor global kembali memburu aset-aset aman, termasuk dolar AS.

Meski demikian, Presiden Amerika Serikat Donald Trump masih menunjukkan optimisme bahwa peluang tercapainya kesepakatan damai tetap terbuka.

“Itu tidak akan berdampak pada kesepakatan,” kata Trump kepada Financial Times.

“Saya yang menentukan. Saya yang menentukan semuanya. Dia tidak menentukan,” lanjutnya merujuk pada Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu.

Selain faktor geopolitik, pasar juga mendapat dorongan dari data ekonomi Amerika Serikat yang lebih kuat dari perkiraan. Pada Mei 2026, ekonomi AS menciptakan 172.000 lapangan kerja baru, jauh melampaui ekspektasi pasar yang hanya sekitar 85.000 pekerjaan.

Sementara itu, data nonfarm payrolls (NFP) April direvisi naik menjadi 179.000 pekerjaan dari sebelumnya 115.000 pekerjaan. Tingkat pengangguran AS juga tetap stabil di level 4,3 persen.

Kuatnya pasar tenaga kerja AS memperkuat ekspektasi bahwa Federal Reserve (The Fed) akan mempertahankan suku bunga tinggi lebih lama. Bahkan sebagian pelaku pasar mulai memperhitungkan kemungkinan kenaikan suku bunga apabila tekanan inflasi meningkat akibat lonjakan harga energi.

BACA JUGA  Pasar Belum Percaya? Rupiah dan IHSG Anjlok Meski BI-Kemenkeu Perkuat Koordinasi

Pekan ini, perhatian investor akan tertuju pada rilis data inflasi Amerika Serikat, terutama Indeks Harga Konsumen (Consumer Price Index/CPI) yang dijadwalkan diumumkan pada Rabu waktu setempat. Data tersebut diperkirakan menjadi penentu utama arah kebijakan suku bunga The Fed sekaligus pergerakan pasar keuangan global dalam jangka pendek. (*/REL)

spot_img

Latest news

- Advertisement -spot_img

Berita Terkait

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses