MENDAYUNG RINDU DI SUNGAI TALANG, PERJALANAN SAMPAN BERTIGA YANG TAK PERNAH KEMBALI
Oleh: Bendri Basri, SE
PADANG, 6 Juli 2026 – Ada perjalanan yang selesai ketika seseorang tiba di tujuan. Namun, ada pula perjalanan yang tak pernah benar-benar berakhir karena terus hidup dalam ingatan. Bagi saya, perjalanan itu adalah Sungai Talang. Kalau sekarang orang naik mobil menuju Pasar Tarusan hanya membutuhkan waktu sekitar lima menit, dahulu saya, Uda Buyung Kasman, dan almarhum Eldas membutuhkan waktu lebih dari dua jam. Bukan karena jalan macet. Bukan pula karena kendaraan mogok. Kami memang memilih “jalan” yang paling membahagiakan bagi tiga anak kampung: mendayung sampan menyusuri Sungai Talang. Waktu itu usia kami sekitar 13 tahun. Masih duduk di bangku kelas II SMP. Usia ketika keberanian sering kali lebih besar daripada rasa takut dan petualangan terasa jauh lebih penting daripada memikirkan risiko. Ide nekat itu muncul begitu saja saat liburan sekolah.

“Pai lah kito ka Pasa Tarusan naik sampan!” ajak Uda Buyung. Saya dan Eldas, yang tubuhnya paling kecil di antara kami bertiga, langsung mengangguk setuju. Tak ada yang memikirkan derasnya arus. Tak ada yang memikirkan bekal perjalanan. Apalagi membayangkan Amak di rumah yang mungkin akan mencari-cari kami. Dalam pikiran tiga anak kampung itu hanya ada satu kata: petualangan!
Sampan yang kami gunakan adalah milik almarhum Uwan Janir, mamak atau paman yang sangat kami hormati di kampung. Jangan membayangkan sebuah perahu bagus dengan mesin tempel dan perlengkapan keselamatan. Sampan itu sederhana. Kayunya sudah menghitam dimakan usia. Catnya mengelupas di sana-sini. Dayung yang layak hanya satu. Untuk dayung kedua, kami menggunakan potongan papan seadanya. Namun, bagi kami bertiga, sampan tua itu jauh lebih hebat daripada kapal pesiar mana pun.
Itulah “Titanic” versi Sungai Talang.
Perjalanan dimulai dengan penuh kegembiraan. Air sungai masih tenang. Kami bergantian mendayung. Uda Buyung duduk di belakang sebagai pengendali sampan karena tubuhnya paling gadang. Eldas duduk di tengah, menjadi tukang kacau sambil bernyanyi dengan suara sumbang. Sementara saya duduk di depan, sesekali mencipratkan air kepada mereka ketika lengah.
“Oi, jan kareh juo mandayuang! Panek ambo!” teriak Uda Buyung. Kami tertawa terbahak-bahak. Sampan sampai oleng ke kiri dan ke kanan. Burung-burung punai yang hinggap di batang nipa seolah ikut menertawakan tingkah tiga anak kampung yang sedang merasa menjadi penjelajah dunia. Semakin jauh perjalanan, arus sungai mulai terasa semakin kuat.
Rasa gembira perlahan bercampur dengan ketegangan. Ada takut. Ada cemas. Namun, setiap kali melewati rumah-rumah penduduk di pinggir sungai dan melihat orang-orang melambaikan tangan kepada kami, rasa takut itu tiba-tiba menghilang.
Berganti dengan kebanggaan. Seolah-olah kami bertiga sedang menjalankan sebuah ekspedisi besar.
“Kami barangkek dari Sungai Talang! Ka Pasa Tarusan!”
Begitulah kira-kira kebanggaan kami saat itu. Lebih dari dua jam kami mendayung. Telapak tangan mulai lecet. Baju basah. Perut lapar. Tenaga hampir habis. Namun, ketika jembatan Pasar Tarusan mulai terlihat dari kejauhan, seluruh kelelahan itu seketika lenyap. Kami berteriak kegirangan. Rasanya mungkin seperti Christopher Columbus ketika melihat daratan setelah berlayar berbulan-bulan. Bedanya, Columbus menemukan benua baru. Kami menemukan Pasar Tarusan. Sampan tua itu akhirnya kami sandarkan di bawah jembatan. Tidak ada medali. Tidak ada upacara penyambutan. Tidak ada wartawan yang mengabadikan perjalanan heroik tiga bocah Sungai Talang. Hadiah terbesar kami hanyalah sebungkus es tebak Pak Jabar di Pasar Tarusan seharga 100 perak. Kami menikmatinya bersama-sama.
Di tengah tubuh yang lelah, tangan yang lecet, dan pakaian yang masih basah, es tebak sederhana itu terasa sebagai minuman paling nikmat di dunia. Jauh lebih nikmat daripada cappuccino Starbucks yang baru saya kenal puluhan tahun kemudian. Kini, puluhan tahun telah berlalu. Sampan tua milik almarhum Uwan Janir itu entah berada di mana. Sungai Talang juga tak lagi sepenuhnya sama seperti yang tersimpan dalam ingatan masa kecil kami. Dan yang paling menyedihkan, kami tak lagi bertiga. Eldas, sahabat seperjalanan kami, telah lebih dahulu berpulang ke rahmatullah.
Kini tinggal saya dan Uda Buyung. Setiap kali bertemu di kampung, entah mengapa cerita tentang perjalanan dengan sampan itu selalu kembali.
“Ben, lah lupo ang raso tangan lalecet mandayuang?” tanya Uda Buyung suatu ketika. Saya tersenyum dan menggelengkan kepala. Tidak, Da. Saya tidak akan pernah lupa. Bagaimana mungkin melupakan perjalanan yang mengajarkan begitu banyak hal tentang kehidupan?
Hari itu, tanpa guru dan tanpa ruang kelas, Sungai Talang mengajarkan kami bahwa kebahagiaan ternyata sangat sederhana. Cukup sebuah sampan tua. Dua orang sahabat. Satu sungai. Dan sebuah tujuan yang kami tentukan sendiri.Tak perlu cepat. Tak perlu mewah. Tak perlu menjadi siapa-siapa. Yang penting, kami mendayung bersama-sama. Mungkin begitulah kehidupan.
Pada akhirnya, bukan seberapa cepat kita sampai ke tujuan yang paling kita rindukan. Bukan pula seberapa mewah kendaraan yang membawa kita dalam perjalanan. Yang paling berharga adalah siapa yang duduk bersama kita di dalam “sampan kehidupan”, siapa yang tertawa ketika perjalanan terasa menyenangkan, dan siapa yang tetap memegang dayung ketika arus mulai terasa berat.
Hari ini, ketika rindu datang, saya kadang berdiri di pinggir Sungai Talang. Saya memandang air yang terus mengalir. Kemudian memejamkan mata. Dalam keheningan itu, rasanya saya masih bisa mendengar suara Uda Buyung. Masih terdengar suara tawa kami bertiga. Dan dari kejauhan, seperti datang dari lorong waktu puluhan tahun silam, terdengar kembali suara Eldas:
“Oi, jan kareh bana mandayuang!”
Saya tersenyum. Namun, tanpa disadari, mata mulai basah. Sebab saya tahu, perjalanan itu tidak mungkin diulang. Sampannya mungkin telah tiada. Sungainya telah berubah. Usia kami pun tak lagi muda. Dan salah seorang pendayungnya telah lebih dahulu pergi menghadap Sang Pencipta. Namun, kenangan memiliki caranya sendiri untuk membuat orang-orang yang kita cintai tetap hidup.
Di dalam ingatan. Di dalam cerita. Dan di dalam hati orang-orang yang pernah berjalan—atau mendayung—bersama mereka. Air mata saya pun perlahan jatuh. Mengalir bersama Sungai Talang. Seolah berubah menjadi dayung yang membawa saya kembali menyusuri masa lalu. Ke sebuah sampan tua. Ke tawa tiga anak berusia 13 tahun. Ke perjalanan dua jam menuju Pasar Tarusan. Dan ke masa ketika kebahagiaan begitu sederhana. Sekali lagi.
Al-Fatihah untuk almarhum Eldas. Semoga Allah SWT mengampuni segala khilafnya, menerima seluruh amal ibadahnya, melapangkan kuburnya, dan menempatkannya di tempat terbaik di sisi-Nya.
Selamat jalan, kawan seperjalanan. Sampan kita memang tak akan pernah kembali. Namun, cerita tentang tiga anak Sungai Talang yang pernah mendayung bersama akan tetap mengalir, selama sungai kenangan masih hidup di dalam hati.




