Pensiun Bukan Akhir Pengabdian: Kisah “Hendra” Menjaga Ketersediaan Obat di Tengah Krisis BBM
Oleh :Â Bendri Basri, SE
PADANG, 5 Juli 2026 — Bagi sebagian orang, masa pensiun identik dengan menikmati hari tua bersama keluarga. Namun, bagi Hendra (nama samaran), pensiun justru menjadi awal perjuangan baru.

Setiap pagi sekitar pukul 08.00 WIB, pria berusia 59 tahun itu sudah berdiri di depan apotek kecil yang dikelolanya di kawasan Tarandam, Kota Padang. Seragam perusahaan farmasi multinasional yang dikenakannya selama lebih dari 30 tahun kini telah berganti dengan seragam sederhana milik apotek yang ia bangun sendiri.
“Saya sempat berpikir setelah pensiun hidup akan lebih santai, menikmati waktu bersama keluarga dan teman-teman. Tetapi ternyata Tuhan memberi amanah baru yang tantangannya tidak kalah berat,” ujarnya sambil tersenyum.
Di tangannya tergenggam telepon genggam yang dipenuhi panggilan dari para sales dan distributor obat. Hampir semuanya menanyakan hal yang sama: apakah hari itu ada pesanan obat.
Empat tahun lalu, setelah mengakhiri karier panjangnya di perusahaan distribusi farmasi, Hendra memutuskan membuka apotek sendiri. Keputusan itu bukan semata-mata mengejar keuntungan, melainkan untuk mewujudkan impian memiliki usaha yang dapat diwariskan kepada keluarga sekaligus memberikan manfaat bagi masyarakat.
«”Selama puluhan tahun saya bekerja mengejar target perusahaan. Sekarang saya ingin membangun sesuatu yang benar-benar menjadi milik sendiri.”»
Pada tahun pertama, ia mulai mengenal satu per satu pelanggan tetapnya. Ia hafal ibu yang rutin membeli obat hipertensi setiap bulan, guru yang selalu datang membeli vitamin untuk anak-anaknya, hingga para lansia yang mempercayakan kebutuhan obat kepada apoteknya.
“Dulu saya menjual obat bernilai ratusan juta rupiah ke rumah sakit dan apotek besar. Sekarang mungkin hanya menjual satu strip paracetamol. Tetapi ketika pelanggan mengucapkan ‘terima kasih’, kebahagiaannya terasa jauh lebih besar.”
Meski omzet belum terlalu besar, kepuasan batin menjadi keuntungan yang tak ternilai.
“Papa akhirnya benar-benar menjadi bos,” ujar putra bungsunya dengan bangga.
Krisis BBM Mengganggu Distribusi Obat
Memasuki pertengahan 2026, tantangan baru datang. Kelangkaan BBM yang memicu antrean panjang di berbagai SPBU ikut mengguncang rantai distribusi obat-obatan.
“Distributor juga kesulitan. Banyak truk tidak bisa beroperasi karena sulit mendapatkan solar. Pengiriman obat ke berbagai daerah menjadi terlambat hingga beberapa hari,” tutur Hendra.
Akibatnya, berbagai jenis obat penting seperti antibiotik, obat batuk anak, hingga cairan infus sering terlambat datang atau bahkan kosong.
Di sisi lain, biaya distribusi meningkat sehingga harga obat ikut terdorong naik.
“Kami sebenarnya tidak tega menaikkan harga obat kepada masyarakat. Tetapi ongkos distribusi memang meningkat sehingga tidak banyak pilihan.”
Yang paling berat baginya adalah ketika harus menjelaskan kepada pasien bahwa obat yang dibutuhkan belum tersedia.
“Pernah seorang ayah datang membawa resep untuk anaknya yang sedang demam tinggi. Obatnya kosong karena belum dikirim distributor. Saat itu saya hanya bisa memberikan saran penanganan sementara sambil berharap stok segera datang. Sebagai manusia, hati saya benar-benar tersentuh.”
Bertahan dengan Pengalaman
Berbekal pengalaman lebih dari tiga dekade di dunia farmasi, Hendra memilih tidak menyerah.
Ia mulai menjemput langsung kebutuhan obat ke distributor, memperkuat manajemen persediaan, serta menambah stok obat-obatan yang paling banyak dibutuhkan masyarakat sebelum kelangkaan semakin meluas.
“Memang lebih melelahkan, tetapi pelayanan kepada masyarakat harus tetap berjalan.”
Suatu sore, di tengah hujan deras yang mengguyur Kota Padang, seorang ibu datang membeli minyak kayu putih.
“Syukurlah apotek ini masih buka. Di tempat lain stoknya sudah habis,” kata sang pelanggan.
Ucapan sederhana itu menjadi pengingat bahwa keberadaan sebuah apotek kecil tetap memiliki arti besar bagi masyarakat.
Pengabdian Tidak Mengenal Pensiun
Menjelang pukul 23.00 WIB, setelah merapikan etalase dan memastikan seluruh pelayanan hari itu selesai, Hendra menutup tokonya dengan penuh rasa syukur.
Baginya, pensiun bukanlah akhir dari perjalanan, melainkan awal pengabdian dengan cara yang berbeda.
«”Orang bilang pensiun waktunya istirahat. Bagi saya, istirahat justru berarti tetap bekerja, tetap menghadapi tantangan, tetapi kini semuanya dilakukan untuk keluarga dan untuk membantu masyarakat. Ada suka dan duka, tetapi saya bersyukur masih diberi kesempatan untuk terus bermanfaat.”»
Di balik kesederhanaan sebuah apotek di sudut Kota Padang, tersimpan kisah tentang ketangguhan, dedikasi, dan semangat seorang pensiunan yang memilih tetap mengabdi. Sebab, bagi Hendra, pengabdian kepada masyarakat tidak pernah mengenal kata pensiun. (*/ Bendri Basri )




