JAKARTA, ALINIANEWS.COM – Program Makan Bergizi Gratis (MBG) kembali berjalan pasca libur Lebaran dengan penguatan sistem pengawasan keamanan pangan di seluruh tahapan produksi dan distribusi. Pada hari pertama operasional, Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Harapan Mulia I Kemayoran mendistribusikan sebanyak 3.298 porsi kepada penerima manfaat.
Kepala SPPG Harapan Mulia I Kemayoran, Fakhri Irfan Pribadi, menjelaskan bahwa sebelum operasional dimulai kembali, pihaknya melakukan evaluasi menyeluruh bersama berbagai pihak.
“Untuk persiapan dibukanya MBG kembali pasca Lebaran atau pasca Ramadan, tentunya teman-teman relawan merasa senang karena mulai bekerja kembali. Persiapannya sama seperti sebelumnya, yaitu kami melakukan evaluasi terlebih dahulu sebelum tahapan operasional,” kata Fakhri di Kemayoran, Selasa (31/3).

Ia menambahkan, evaluasi dilakukan secara internal bersama Badan Gizi Nasional (BGN), mitra yayasan, serta relawan. Sementara secara eksternal, koordinasi dilakukan dengan instansi terkait seperti Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) dan Kementerian Kesehatan.
“Evaluasi dilakukan secara internal bersama BGN, mitra yayasan, dan relawan. Secara eksternal, kami juga berkoordinasi dengan instansi yang menangani keamanan pangan, seperti BPOM dan Kementerian Kesehatan,” imbuhnya.
Pada hari pertama, distribusi MBG menjangkau tujuh sekolah dan satu posyandu dengan jadwal yang telah diatur. Untuk tingkat SD distribusi dimulai pukul 07.00, SMP pukul 09.30, SMA/SMK pukul 11.00–12.00, dan posyandu pukul 09.00.
Dalam pelaksanaannya, pengawasan kualitas makanan dilakukan secara ketat sebelum didistribusikan kepada penerima. Fakhri menyebut pihaknya melakukan uji organoleptik bersama tenaga kesehatan sebelum makanan dibagikan.
“Kami melakukan uji organoleptik bersama KSPG dan ahli gizi sebelum distribusi. Jika terdapat aroma, tekstur, atau kualitas yang tidak sesuai, makanan ditarik dan tidak didistribusikan,” ungkapnya.
Selain itu, sistem keamanan pangan diterapkan secara menyeluruh mulai dari penerimaan bahan baku hingga distribusi akhir dengan menggunakan metode Hazard Analysis Critical Control Point (HACCP). Standar kebersihan personal relawan juga diperketat.
“Jika bahan baku tidak sesuai dari segi aroma atau tekstur, kami kembalikan ke supplier,” tegas Fakhri.
SPPG juga mengantisipasi potensi risiko pada penerima manfaat, termasuk alergi makanan. Data alergi siswa dikumpulkan melalui kerja sama dengan pihak sekolah untuk menyesuaikan menu yang diberikan.
“Kami bekerja sama dengan sekolah untuk mendata alergi siswa. Jika ada alergi, menu diganti, misalnya dari ikan menjadi ayam,” ujarnya.
Dari sisi sumber daya manusia, keterlibatan masyarakat lokal menjadi bagian penting dalam operasional program. Fakhri menyebut sekitar 70 persen tenaga kerja berasal dari warga sekitar, sesuai petunjuk teknis yang berlaku.
“Kami melakukan evaluasi berkala setiap satu hingga dua minggu. Evaluasi meliputi edukasi gizi, pelatihan relawan, dan kemampuan SDM,” tambahnya.
Sementara itu, Badan Gizi Nasional (BGN) menegaskan bahwa pengawasan keamanan pangan dalam program MBG dilakukan secara berlapis dan berkelanjutan. Sistem ini mengacu pada pedoman sertifikasi keamanan pangan yang mengatur pengawasan sejak tahap awal hingga pasca-sertifikasi.
Kepala Biro Hukum dan Humas BGN, Khairul Hidayati, menyebut pendekatan tersebut bersifat preventif untuk mencegah potensi masalah sejak dini.
“BGN memastikan keamanan pangan tidak berhenti pada proses sertifikasi. Pengawasan dilakukan sebelum, saat, dan setelah sertifikat diterbitkan agar standar yang telah ditetapkan benar-benar dijalankan,” ujarnya.
Ia menambahkan, setelah sertifikasi diberikan, pemantauan dan evaluasi tetap dilakukan secara berkala guna menjaga konsistensi penerapan standar.
“Pendekatan ini bersifat preventif. Tujuannya mencegah potensi masalah sejak dini, bukan menunggu kejadian lalu bertindak,” katanya.
Dengan penguatan pengawasan dan evaluasi yang berkelanjutan, pemerintah berharap program MBG dapat terus berjalan optimal serta memberikan manfaat maksimal bagi masyarakat, khususnya dalam pemenuhan gizi. (*/Rel)




