LPG 3 Kg Bakal Diganti? Pemerintah Siapkan Gas Baru yang Diklaim Lebih Murah 30 Persen

JAKARTA, ALINIANEWS.COM – Pemerintah mulai menyiapkan energi alternatif sebagai pengganti LPG 3 kilogram (kg) guna menekan ketergantungan impor gas elpiji yang selama ini membebani anggaran negara. Dua langkah besar yang kini didorong pemerintah adalah pengembangan Dimethyl Ether (DME) berbasis batu bara dan penggunaan Compressed Natural Gas (CNG) dalam tabung ukuran 3 kg.

Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Bahlil Lahadalia, mengatakan langkah tersebut menjadi bagian dari strategi pemerintah mengurangi impor LPG yang saat ini mencapai sekitar 7 juta ton per tahun.

Menurut Bahlil, besarnya impor LPG membuat negara harus mengeluarkan devisa sangat besar setiap tahun. Bahkan, subsidi yang ditanggung pemerintah juga terus meningkat.

Iklan

“Devisa kita setiap tahun hanya untuk membeli LPG saja, sekitar Rp 130 sampai Rp 140 triliun. Apalagi kalau harga minyak dunia seperti sekarang, itu pasti lebih besar lagi. Dan subsidi kita, itu Rp 80 sampai Rp 87 triliun,” ujar Bahlil saat ditemui di Kementerian ESDM, Jakarta, Rabu (6/5/2026).

Salah satu proyek yang kini kembali dipercepat pemerintah adalah pengembangan DME sebagai substitusi LPG. Proyek ini sebenarnya telah lama direncanakan, namun belum berjalan optimal karena berbagai kendala.

Di era pemerintahan Prabowo Subianto, proyek tersebut kembali didorong melalui groundbreaking 13 Proyek Hilirisasi Nasional Fase II senilai Rp116 triliun.

Salah satu proyek utama dalam program itu adalah pembangunan fasilitas produksi DME berkapasitas 1,4 juta ton per tahun di Tanjung Enim, Sumatera Selatan.

BACA JUGA  Guru Honorer Dihapus Mulai 2027? Pemerintah Buka Suara soal Nasib Ratusan Ribu Guru Non-ASN

“Menurut pendapat saya ini cukup bersejarah dan sangat membanggakan yaitu groundbreaking hilirisasi tahap kedua, yang mencakup 13 proyek strategis hilirisasi senilai kurang lebih Rp 116 triliun meliputi lima proyek di sektor energi, lima proyek di sektor mineral, tiga proyek di sektor pertanian,” kata Prabowo dalam peresmian virtual, Rabu (29/4/2026).

Prabowo menilai hilirisasi menjadi jalan penting menuju kebangkitan ekonomi nasional. Ia juga menyebut pembangunan industri hilirisasi merupakan kelanjutan dari fondasi yang dibangun pemerintahan sebelumnya.

“Kita lakukan di banyak bidang. Dalam tahun pertama pemerintahan yang saya pimpin, yang kita lakukan adalah memperkuat pondasi yang sudah dilakukan oleh presiden-presiden terdahulu dari mulai presiden pertama sampai ke presiden ke-7,” ujarnya.

Dikutip dari laman Kementerian ESDM, DME memiliki karakteristik yang hampir mirip dengan LPG, baik secara kimia maupun fisika. Karena itu, DME dapat menggunakan infrastruktur LPG yang sudah ada saat ini, mulai dari tabung, tempat penyimpanan, hingga sistem distribusi.

Secara teknis, DME memiliki kandungan panas sebesar 7.749 Kcal/Kg, sedangkan LPG mencapai 12.076 Kcal/Kg. Meski demikian, DME memiliki massa jenis lebih tinggi sehingga perbandingan kalorinya sekitar 1 banding 1,6 terhadap LPG.

Selain itu, DME juga dinilai lebih ramah lingkungan karena mudah terurai di udara, tidak merusak ozon, serta mampu menekan emisi gas rumah kaca hingga 20 persen. Api yang dihasilkan disebut lebih biru dan stabil, tanpa menghasilkan sulfur maupun partikel berbahaya.

BACA JUGA  Viral Siswa SD Disebut Dikeluarkan Usai Kritik MBG, BGN Bantah: “Itu Tidak Benar”

Selain DME, pemerintah juga tengah menguji penggunaan Compressed Natural Gas (CNG) dalam tabung ukuran 3 kilogram untuk masyarakat.

Bahlil menjelaskan penggunaan CNG sebenarnya sudah diterapkan, terutama pada tabung ukuran 12 kilogram dan 20 kilogram yang digunakan hotel serta restoran. Namun pemerintah kini sedang mengembangkan teknologi agar CNG bisa digunakan masyarakat dalam tabung yang lebih kecil.

“Tapi kan untuk CNG ini, untuk yang 12 kilogram, yang 20 kilogram itu sudah jalan, untuk dipakai di hotel dan restoran. Dan kemudian bagus, dan itu lebih efisien. Tapi kan rakyat enggak mungkin kita suruh yang berat-berat itu, 20 kilogram. Nah, ini yang kita lagi godok. Dan ini sudah kita kerjakan sebenarnya sejak setahun lalu. Tapi untuk mendapatkan teknologi yang 3 kilogramnya, ini lagi kita tes,” terang Bahlil.

Ia memastikan pemerintah tetap akan memberikan subsidi terhadap penggunaan CNG, sebagaimana subsidi LPG 3 kilogram saat ini.

“Arahan Bapak Presiden, baik itu CNG maupun LPG akan selalu mengedepankan untuk membantu rakyat yang memang harus kita bantu. Dengan demikian, subsidi saya pastikan masih menjadi yang harus dilakukan untuk rakyat,” ujar Bahlil.

Pada kesempatan lain, Bahlil juga mengklaim harga CNG bisa lebih murah sekitar 30 persen dibandingkan LPG.

“CNG itu sudah dilakukan kajian. Harganya jauh lebih murah, kurang lebih sekitar 30 persen lah lebih murah,” katanya di Kompleks Istana Kepresidenan, Jakarta Pusat, Selasa (5/5/2026).

BACA JUGA  Roy Suryo Minta Kasus Ijazah Jokowi Dihentikan

Menurut dia, harga CNG lebih murah karena bahan bakunya tersedia melimpah di dalam negeri sehingga tidak membutuhkan biaya impor dan transportasi yang besar seperti LPG.

“Kenapa dia lebih murah? Karena yang pertama gasnya itu ada di kita dan industrinya kan ada di kita, di dalam negeri. Jadi tidak kita melakukan impor. Cost transportasinya aja udah bisa meng-cover. Dan yang kedua, dia itu berada di hampir semua wilayah yang ada sumber-sumber gasnya, jadi itu jauh lebih efisien,” kata Bahlil. (*/Rel)

spot_img

Latest news

- Advertisement -spot_img

Berita Terkait

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses