Tangis Korban Banjir Tanah Datar: Selimut, Pakaian Dalam hingga Seragam Sekolah Kini Jadi Kebutuhan Mendesak

TANAH DATAR, ALINIANEWS.COM – Pemerintah Kabupaten Tanahdatar melalui Dinas Komunikasi dan Informatika resmi merilis daftar kebutuhan mendesak bagi korban banjir bandang dan tanah longsor yang melanda sejumlah wilayah sejak Selasa (12/5/2026). Memasuki hari ketiga pascabencana, fokus penanganan mulai bergeser pada kebutuhan personal para pengungsi yang kehilangan hampir seluruh barang miliknya.

Selain kebutuhan pangan, warga yang bertahan di posko pengungsian maupun menumpang di rumah kerabat kini kesulitan mendapatkan pakaian layak pakai, perlengkapan ibadah, hingga kebutuhan dasar rumah tangga.

Bupati Tanahdatar Eka Putra melalui Kepala Dinas Kominfo Tanahdatar, Dedi Tri Widono, mengatakan pendataan dilakukan secara rinci oleh OPD bersama camat di wilayah terdampak agar bantuan yang datang tidak menumpuk pada satu jenis barang tertentu.

Iklan

“Terkait kebutuhan mendesak masyarakat terdampak bencana, saat ini warga sangat membutuhkan pakaian, makanan dan sembako, perlengkapan bayi serta kebutuhan penerangan,” ujar Dedi kepada wartawan, Jumat (15/5/2026).

Berdasarkan data Tim Gabungan Pemerintah Kabupaten Tanahdatar, kebutuhan logistik dapur kini menjadi prioritas utama. Warga membutuhkan kompor, alat memasak, hingga magic com untuk mengolah makanan di lokasi pengungsian maupun hunian sementara.

Selain itu, perlengkapan tidur seperti selimut, bantal, dan sandal menjadi kebutuhan paling banyak diminta warga terdampak. Cuaca yang masih tidak menentu membuat selimut sangat dibutuhkan, terutama bagi lansia dan anak-anak.

Pemerintah daerah juga mencatat perlengkapan ibadah dan pakaian harian mulai menipis di sejumlah posko. Pengungsi membutuhkan jilbab, mukena, pakaian dalam dewasa, hingga pakaian layak pakai untuk aktivitas sehari-hari.

BACA JUGA  Terungkap! 90 Persen Resort di Mentawai Diduga Dikuasai Asing, Daerah Terancam Cuma Jadi Penonton

Sebagian besar warga dilaporkan tidak sempat menyelamatkan barang pribadi ketika banjir bandang menerjang permukiman pada Selasa malam. Banyak keluarga kini sepenuhnya bergantung pada bantuan pemerintah dan relawan.

Perhatian khusus juga diberikan kepada anak-anak sekolah yang terdampak bencana. Pemerintah memasukkan seragam sekolah, sepatu, tas, dan buku tulis ke dalam daftar prioritas agar para siswa bisa kembali belajar setelah kondisi mulai membaik.

“Bantuan yang masuk memang belum seluruhnya diterima, namun pemerintah daerah sudah mulai menyalurkannya melalui wali nagari maupun langsung kepada warga. Posko utama juga menjadi pusat penerimaan bantuan sebelum didistribusikan kembali kepada masyarakat,” jelas Dedi.

Pemerintah daerah mengimbau masyarakat, organisasi sosial, komunitas, dan pihak swasta yang ingin menyalurkan bantuan agar mengacu pada daftar kebutuhan resmi supaya bantuan lebih efektif dan tepat sasaran.

Sementara itu, dampak bencana terus meluas. Hingga Jumat pagi, Tim Gabungan mencatat sebanyak 340 kepala keluarga terdampak di 16 nagari yang tersebar di tujuh kecamatan, yakni Lintau Buo, Lintau Buo Utara, Tanjung Emas, Padang Ganting, Salimpaung, Sungai Tarab, dan Tanjung Baru.

Sebanyak 58 warga kini masih berada di pengungsian akibat rumah mereka tidak lagi aman ditempati.

Kerusakan infrastruktur tercatat cukup masif. Sedikitnya 12 ruas jalan mengalami rusak berat dan 12 ruas lainnya rusak ringan. Enam jembatan dilaporkan putus, satu rusak berat, dan dua lainnya rusak sedang.

BACA JUGA  Perumda AM Gandeng Kejari Padang, Pelanggan Nunggak Rekening Air Kini Masuk Sorotan

Kerusakan juga terjadi pada 15 jaringan irigasi, tiga damparit, dan sembilan unit pompa atau kincir air.

Di sektor permukiman, empat rumah dilaporkan hanyut, 19 rumah rusak berat, 11 rusak sedang, dan 104 rusak ringan. Selain itu, tiga sekolah dan 10 rumah ibadah ikut terdampak, sementara satu sepeda motor dan tujuh mobil hanyut terbawa arus.

Sektor pertanian dan peternakan turut terpukul. Sawah seluas 198,28 hektare dan ladang seluas 1,92 hektare terdampak banjir. Sebanyak 23 pelaku UMKM ikut merasakan dampaknya.

Pada sektor peternakan, satu ekor sapi atau kerbau, dua kambing, dan 2.325 ayam maupun itik dilaporkan mati atau hanyut. Sebanyak 59 kolam ikan juga rusak diterjang banjir.

Proses pembersihan material lumpur di rumah warga mulai dilakukan sejak Kamis (14/5/2026) dengan melibatkan tim Damkar dan BPBD.

Saat meninjau lokasi banjir di Nagari Taluk, Kecamatan Lintau Buo, Eka Putra mengatakan bantuan personel tambahan dari unsur militer segera diterjunkan untuk mempercepat pembersihan rumah warga.

“Pembersihan material tadi saya lihat sudah disemprot oleh tim pemadam dan besok akan dibantu dari Batalyon Pandeka Gunung Marapi satu pleton. Mudah-mudahan sangat membantu untuk membersihkan rumah-rumah yang terkena banjir,” ujar Eka Putra.

Pemerintah Kabupaten Tanahdatar saat ini menetapkan masa tanggap darurat bencana selama 14 hari, terhitung sejak 13 hingga 26 Mei 2026. Posko utama dipusatkan di kantor BPBD Tanahdatar dengan posko pendukung di masing-masing kantor camat wilayah terdampak.

BACA JUGA  Mangrove Sumbar Rusak Parah, Nelayan Terancam Kehilangan Rp2,7 Triliun Tiap Tahun

Pemerintah daerah menegaskan data korban dan kerusakan masih bersifat sementara dan dapat berubah mengikuti perkembangan kondisi di lapangan. (*/Rel)

spot_img

Latest news

- Advertisement -spot_img

Berita Terkait

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses