MBG : Mesin Baru Pertumbuhan Ekonomi Rakyat
Oleh : Drs. H. Marlis, MM, C.Med (Ketua DPW HMD GEMAS Sumbar)
Padang, 31 Januari 2026 – Indonesia tengah memasuki babak penting pembangunan nasional. Di satu sisi, kita berbicara tentang bonus demografi dan kualitas generasi masa depan. Di sisi lain, kita dihadapkan pada tantangan ketimpangan ekonomi antarwilayah dan rapuhnya ekonomi rakyat di akar rumput. Dalam konteks inilah Program Makan Bergizi (MBG) menemukan relevansinya yang paling strategis. MBG bukan sekadar program pemenuhan gizi. Ia adalah kebijakan transformatif yang bekerja langsung di jantung ekonomi rakyat. Dari dapur-dapur sederhana di desa hingga rantai pasok pangan di daerah, MBG menghadirkan model pembangunan baru: negara hadir, rakyat bergerak, ekonomi lokal bangkit. Di banyak wilayah, MBG telah menjelma menjadi simbol harapan. Harapan bagi petani yang kembali menanam dengan keyakinan pasar tersedia. Harapan bagi ibu-ibu rumah tangga yang kini memiliki penghasilan tetap. Harapan bagi UMKM pangan yang mulai naik kelas karena terdorong standar mutu dan kepastian permintaan. Inilah wajah pembangunan yang hidup—pembangunan yang menyentuh manusia.

Dari Anggaran Negara ke Denyut Ekonomi Daerah
Kekuatan utama MBG terletak pada desain kebijakannya: belanja negara tidak berhenti di pusat, tetapi mengalir langsung ke daerah. Setiap rupiah yang dialokasikan bergerak melalui rantai pasok lokal—beras dari sawah warga, sayur dari kebun petani, telur dari peternak rakyat, ikan dari nelayan setempat. Ketika dapur-dapur MBG memprioritaskan bahan baku lokal, maka uang negara berputar di nagari, desa, dan kecamatan. Ini bukan sekadar distribusi anggaran, melainkan pemerataan kesempatan ekonomi. Bagi banyak daerah, MBG adalah stimulus ekonomi paling nyata yang pernah hadir.
Dari Penerima Manfaat Menjadi Pelaku Ekonomi
Cerita dari lapangan memperlihatkan transformasi sosial yang menggetarkan. Petani kecil yang sebelumnya bergantung pada tengkulak, kini memiliki pembeli tetap. Ibu rumah tangga yang dahulu tidak berpenghasilan, hari ini menjadi bagian dari sistem produksi pangan nasional. Pemuda desa mulai membangun usaha distribusi dan pasokan bahan baku. Mereka bukan lagi sekadar penerima manfaat. Mereka adalah pelaku pembangunan. Inilah kekuatan MBG: mengubah masyarakat dari objek kebijakan menjadi subjek ekonomi.
Negara sebagai Offtaker, Rakyat sebagai Produsen
Dalam kerangka besar kebijakan, MBG menempatkan negara sebagai offtaker utama produk pangan rakyat. Model ini menjawab persoalan klasik ekonomi daerah: produksi ada, tetapi pasar tidak pasti. Melalui MBG, negara tidak hanya mengatur, tetapi hadir sebagai pembeli. Petani, peternak, nelayan, dan UMKM mendapatkan kepastian permintaan. Dengan kepastian itu, keberanian untuk berproduksi tumbuh. Investasi kecil-kecilan mulai bergerak. Ekonomi lokal menemukan ritmenya kembali. Jika konsistensi ini dijaga, MBG akan menjadi fondasi kokoh bagi kemandirian pangan nasional.
Lapangan Kerja yang Tumbuh dari Kampung ke Kampung
Setiap dapur MBG membuka peluang kerja: juru masak, tenaga kebersihan, staf administrasi, pengemudi, hingga petugas distribusi. Di hulu, sektor pertanian dan peternakan ikut menggeliat. Ini adalah penciptaan lapangan kerja berbasis komunitas. Peluang hadir di kampung halaman, bukan hanya di kota besar. Anak-anak muda tidak harus pergi jauh untuk mencari penghidupan, karena roda ekonomi mulai berputar di daerah mereka sendiri. Dalam perspektif kebijakan publik, ini berarti MBG ikut menahan laju urbanisasi sekaligus memperkuat ekonomi desa.
Inkubator Wirausaha Daerah
Standar operasional MBG secara tidak langsung mendidik UMKM lokal untuk lebih profesional: belajar menjaga kualitas, mengatur stok, mencatat keuangan, dan memenuhi tenggat waktu. Banyak pemasok kecil kini mulai memperluas kapasitas usahanya. MBG menjadi ruang belajar sekaligus inkubator wirausaha berbasis daerah. Dari sini lahir pengusaha-pengusaha baru yang tumbuh bersama program negara. Ketika UMKM naik kelas, ekonomi daerah menjadi lebih tangguh.
Multiplier Effect yang Menghidupkan Wilayah
Dampak MBG tidak berhenti di dapur. Warung kembali ramai, jasa transportasi meningkat, pasar tradisional menggeliat. Inilah multiplier effect yang sesungguhnya—ketika satu kebijakan mampu menggerakkan banyak sektor sekaligus.
Produktivitas daerah meningkat karena seluruh rantai nilai bergerak bersama. Dari hulu hingga hilir, MBG menciptakan siklus ekonomi yang saling menguatkan.
Penutup: Dari Dapur Rakyat untuk Indonesia Raya
Program Makan Bergizi adalah investasi besar bangsa—investasi untuk generasi sehat sekaligus ekonomi rakyat yang berdaulat. Ia membuktikan bahwa kebijakan nasional dapat diterjemahkan menjadi kesejahteraan lokal, selama keberpihakan kepada rakyat dijaga.
Tugas kita ke depan adalah memastikan arah ini tetap lurus: produk lokal menjadi tulang punggung pasokan, UMKM diberi ruang tumbuh, dan masyarakat terus dilibatkan sebagai pelaku utama.
Jika itu konsisten dilakukan, MBG akan tercatat dalam sejarah bukan hanya sebagai program gizi, tetapi sebagai tonggak kebangkitan ekonomi rakyat—sebuah gerakan nasional yang dimulai dari dapur-dapur sederhana, mengalir ke desa-desa, dan bermuara pada Indonesia yang mandiri, adil, dan bermartabat. (*/Marlis – Ketua DPW HMD GEMAS SUMBAR )




