JAKARTA, ALINIANEWS.COM – Program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang diinisiasi Presiden Prabowo Subianto masih mendapat dukungan kuat dari masyarakat. Survei nasional Cyrus Network yang dilakukan pada 1–5 April 2026 mencatat, sebanyak 65,4 persen publik menyatakan mendukung program tersebut.
“Sebanyak 65,4 persen masyarakat mendukung Makan Bergizi Gratis. Artinya, 2 dari 3 rakyat Indonesia masih memberikan harapan program ini,” ujar Peneliti Utama Cyrus Network, Syahril Ilhami, dalam konferensi pers daring, Selasa (14/4/2026).
Meski demikian, dukungan tersebut tidak lepas dari catatan kritis. Sebanyak 45,6 persen responden menginginkan adanya perbaikan dalam implementasi program. “Jumlah ini cukup besar, hampir 70 persen dari pendukung MBG menginginkan perbaikan,” kata Syahril.

Dari sisi manfaat, mayoritas responden menilai MBG telah memberikan dampak nyata. Sebanyak 31,5 persen menyebut program ini membantu pemenuhan gizi masyarakat, 28,4 persen mengurangi beban ekonomi keluarga, dan 23 persen mendukung kesehatan kelompok rentan seperti anak sekolah, balita, ibu hamil, dan ibu menyusui.
“Artinya 3 alasan dukungan ini menjadi manfaat MBG yang sudah nyata dirasakan oleh masyarakat,” ujarnya.
Selain itu, terdapat alasan lain meski dalam persentase lebih kecil, seperti mendorong pemerataan kesejahteraan (6,8 persen), berdampak jangka panjang bagi generasi muda (4,3 persen), serta mendukung UMKM dan petani lokal (4,1 persen).
Di sisi lain, kelompok yang tidak mendukung sebesar 32,7 persen—menyoroti sejumlah persoalan mendasar. Mulai dari pelaksanaan yang dinilai belum optimal (30,1 persen), kualitas makanan yang diragukan (22,3 persen), hingga ketidaktepatan sasaran (11,7 persen).
“Ini bisa menjadi saran masukan ke depan untuk Badan Gizi Nasional sebagai penyelenggara MBG,” tutur Syahril.
Survei juga menunjukkan tingkat pengetahuan publik terhadap program ini sangat tinggi, mencapai 98,6 persen. Bahkan, 61,6 persen responden mengaku keluarganya menjadi penerima manfaat langsung, sementara 11,3 persen lainnya terlibat sebagai penerima manfaat tidak langsung, seperti bekerja di dapur atau menjadi pemasok bahan pangan.
“Ini jumlah yang sangat besar, artinya program ini sudah secara masif ada dan dirasakan oleh masyarakat,” jelasnya.
Cyrus Network turut mencatat dinamika dukungan publik sejak program ini diluncurkan. Dari total responden yang mendukung, 51,2 persen mengaku telah mendukung sejak awal, sementara 17,2 persen menyatakan dukungannya meningkat. Namun, 30,9 persen responden mengaku dukungannya justru menurun.
Secara lebih luas, survei ini juga mengukur persepsi publik terhadap dampak MBG di berbagai sektor. Hasilnya, 70,6 persen responden yakin program ini berdampak pada ekonomi masyarakat, 64,4 persen pada peningkatan kesehatan, 61,2 persen pada kualitas pelaksanaan yang menjangkau seluruh anak Indonesia, serta 60,8 persen pada peningkatan kecerdasan generasi penerus.
Meski optimisme cukup tinggi, sejumlah kritik tetap muncul. Selain masalah pelaksanaan dan kualitas, responden juga menyoroti besarnya anggaran (16,7 persen), distribusi yang belum merata (17,7 persen), hingga anggapan bahwa program ini bukan prioritas utama (9,2 persen).
Survei ini melibatkan 1.260 responden yang tersebar di 126 desa/kelurahan di 38 provinsi, dengan metode wawancara tatap muka. Responden merupakan warga negara Indonesia berusia minimal 17 tahun atau sudah menikah.
Temuan ini menegaskan bahwa MBG telah menjadi program yang dikenal luas dan dirasakan manfaatnya, namun keberlanjutannya akan sangat ditentukan oleh kemampuan pemerintah menjawab kritik publik, terutama pada aspek implementasi di lapangan. (*/Rel)




