Semua Pasti Bisa: Belajar Optimisme dari Kakek Penjual Petai di Pantai Muara Padang
Oleh: Drs. H. Marlis, MM, C.Med ( CEO ALINIA GROUP )
Minggu, 28 Juni 2026 – Pagi itu, di trotoar Pantai Muara Padang, ketika ratusan warga menikmati udara segar sambil berjalan kaki dan berolahraga, perhatian saya tertuju pada seorang kakek yang duduk sederhana di atas selembar tikar plastik. Di hadapannya tersusun rapi beberapa ikat petai dan buah sukun yang siap dijual.

Namanya Syafrudin, usianya telah melewati 60 tahun. Wajahnya dipenuhi guratan pengalaman, tetapi senyumnya tetap hangat menyapa setiap orang yang melintas. Dengan suara lembut dan penuh harapan, ia menawarkan dagangannya tanpa rasa canggung ataupun malu.
Aktivitas ini bukanlah pekerjaan yang baru ia tekuni. Sejak tahun 1997, atau hampir tiga dekade lamanya, Kakek Syafrudin setia mencari nafkah di tempat yang sama. Keramaian warga yang rutin berolahraga setiap pagi justru ia lihat sebagai peluang usaha untuk menghidupi keluarganya.
Saya dan istri akhirnya berhenti. Kami membeli satu ikat petai seharga Rp25.000 dan satu buah sukun seharga Rp20.000. Nilainya mungkin tidak besar bagi sebagian orang, tetapi bagi seorang pedagang kecil seperti Kakek Syafrudin, setiap pembelian adalah harapan yang sangat berarti.
Dari hasil berjualan setiap pagi, ia bercerita bahwa jika dagangannya laris, ia bisa membawa pulang keuntungan sekitar Rp150.000. Uang itulah yang digunakan untuk membeli beras, memenuhi kebutuhan rumah tangga, dan membantu membiayai tiga orang anaknya yang masih bersekolah. Sebagai ayah dari enam orang anak, ia memilih tetap bekerja keras daripada menyerah pada keadaan.
Yang paling mengesankan bukanlah jumlah keuntungan yang diperoleh, melainkan semangat hidup yang ia tunjukkan. Di usia yang tidak lagi muda, ia masih bangun pagi, menata dagangan, menyapa pembeli dengan ramah, dan percaya bahwa rezeki akan datang kepada mereka yang mau berusaha.
Kisah Kakek Syafrudin mengajarkan bahwa martabat seseorang tidak ditentukan oleh besar kecilnya pekerjaan, melainkan oleh kejujuran, kerja keras, dan tanggung jawab dalam mencari nafkah yang halal.
Dari sosok sederhana ini, saya ingin menyampaikan pesan khusus kepada generasi muda. Jangan pernah malu menjadi seorang entrepreneur. Sekecil apa pun usaha yang dijalankan—berjualan petai, sukun, gorengan, kopi, atau membuka usaha rumahan—semuanya merupakan pekerjaan yang terhormat apabila dilakukan dengan jujur dan penuh integritas.
Menjadi entrepreneur berarti berani menciptakan peluang, mandiri, serta berusaha memberikan manfaat bagi keluarga dan masyarakat. Banyak pengusaha besar memulai usahanya dari langkah-langkah kecil seperti yang dilakukan Kakek Syafrudin.
Namun, pilihan menjadi entrepreneur atau bekerja sebagai karyawan sama-sama merupakan pilihan yang baik. Yang terpenting adalah menjalaninya dengan profesional, jujur, dan bertanggung jawab. Bagi mereka yang memiliki semangat membangun usaha sendiri, kisah Kakek Syafrudin menjadi bukti bahwa usaha kecil pun dapat menjadi jalan menuju kemandirian.
Semoga semakin banyak masyarakat yang peduli kepada pedagang-pedagang kecil seperti Kakek Syafrudin. Tidak selalu dengan memberi bantuan, tetapi cukup dengan membeli dagangan mereka. Barangkali bagi kita nilainya kecil, tetapi bagi mereka, itulah harapan untuk menyambung kehidupan.
Terima kasih, Kakek Syafrudin. Dari tikar plastik sederhana di trotoar Pantai Muara Padang, Bapak telah mengajarkan kepada kita semua makna ketekunan, harga diri, optimisme, dan keberanian untuk terus berusaha.
Karena sesungguhnya, selama masih ada kemauan untuk bekerja dan berusaha, tidak ada kata menyerah. Semua PASTI BISA. (*/ Marlis – CEO ALINIA GROUP )



