SELEMBAR KERTAS LUSUH DI TOILET PWI SUMBAR, TAPI PESANNYA MENYENTAK KESADARAN
Oleh : Drs. H. Marlis, MM, C.Med ( Jurnalis Yunior ( Icak Icak )
Sore itu, tanpa direncanakan sebelumnya, saya untuk pertama kalinya mampir ke Kantor Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Sumatera Barat. Sebuah kunjungan sederhana, namun justru meninggalkan kesan yang sangat dalam.

Di ruang Ketua PWI Sumbar, suasana terasa hangat dan penuh kekeluargaan. Saya disambut langsung oleh Wartawan Senior Sumbar, Widia Nafis selaku Ketua PWI Sumbar, bersama Firdaus Abi, Romi Delfiano, dan Syaiful Husein. Percakapan kami mengalir begitu cair. Kami berbicara tentang dunia pers, kondisi sosial masyarakat, dinamika daerah, tantangan integritas, hingga bagaimana menjaga marwah profesi di tengah perubahan zaman yang begitu cepat.
Tidak ada suasana formal yang kaku. Yang terasa justru energi intelektual dan kejujuran dari para insan pers senior yang sudah kenyang pengalaman menghadapi berbagai fase perjalanan jurnalistik di Sumatera Barat.
Namun, ada satu momen kecil yang justru paling membekas dalam ingatan saya sore itu.
Ketika hendak pulang, saya sempat mampir ke toilet kantor. Di dinding toilet yang sederhana, tertempel selembar kertas lusuh berisi tulisan sederhana :
“KELUARKAN AIR KRAN DULU,
BARU KELUARKAN AIRMU
Agar Toilet ini Tidak Bau”
#wartawanitubersih
Kalimat itu mungkin terlihat biasa. Bahkan bagi sebagian orang mungkin terasa lucu dan sederhana. Tapi entah kenapa, saya justru terdiam beberapa detik membaca tulisan tersebut.
Ada pesan moral yang sangat kuat di balik kesederhanaannya.
Tulisan itu bukan sekadar pengingat agar toilet tetap bersih. Lebih dari itu, ia seperti simbol budaya disiplin, kepedulian, dan tanggung jawab sosial yang sering dianggap remeh.
Kebersihan sejatinya bukan soal besar kecilnya tempat, melainkan soal kesadaran.
Dan menariknya, pesan itu justru lahir dari ruang paling sederhana dalam sebuah kantor wartawan : toilet.
Dalam dunia yang hari ini penuh dengan pencitraan besar, slogan megah, dan pidato panjang, terkadang nilai edukasi paling jujur justru lahir dari secarik kertas lusuh di sudut ruangan yang nyaris tak diperhatikan orang.
Kalimat “#wartawanitubersih” juga terasa sangat filosofis.
Bersih bukan hanya soal toilet.
Tetapi bersih dalam berpikir, bersih dalam menulis, bersih dalam menyampaikan informasi, serta bersih dari kepentingan yang dapat merusak independensi profesi wartawan itu sendiri.
Karena sesungguhnya, wartawan bukan hanya penulis berita. Wartawan adalah penjaga nurani publik. Mereka merekam sejarah, mengawasi kekuasaan, sekaligus menjadi jembatan suara masyarakat.
Dan semua itu harus dimulai dari hal-hal kecil : disiplin, etika, dan kebersihan mental.
Saya justru melihat, tulisan sederhana di toilet PWI Sumbar itu memiliki nilai edukasi yang sangat tinggi. Ia mengajarkan bahwa menjaga lingkungan adalah bagian dari karakter. Bahwa rasa malu meninggalkan kotoran untuk orang lain adalah tanda adanya peradaban.
Mungkin inilah yang mulai hilang di banyak tempat hari ini : kesadaran kecil yang berdampak besar.
Sore itu saya pulang bukan hanya membawa cerita pertemuan dengan para wartawan senior Sumbar, tetapi juga membawa sebuah pelajaran hidup dari selembar kertas lusuh di toilet.
Kadang-kadang, kebijaksanaan tidak lahir dari ruangan mewah.
Ia justru lahir dari tempat sederhana, yang dibaca oleh orang-orang yang masih mau berpikir. ( */Marlis Alinia )



