Namun, kepulangan mereka menyisakan cerita pilu. Para relawan mengaku mengalami tindakan kekerasan dan penyiksaan selama berada dalam tahanan Israel.
Pengakuan itu disampaikan langsung saat Komite Pengarah Global Sumud Flotilla dan Ketua Dewan Pengarah Global Peace Convoy Indonesia (GPCI), Maimon Herawati, menemui kesembilan relawan di Istanbul, Turki.
Menurut Maimon, sejumlah relawan mengalami luka memar di bagian dada, wajah, hingga sesak napas akibat tindakan kekerasan yang diduga dilakukan aparat Israel.

“Juga ada yang diestrum, juga ada yang ditendang, dipukul sampai kemudian matanya memar-memar,” kata Maimon melalui keterangan video yang dikutip Sabtu (23/5/2026).
Dalam pertemuan itu, Maimon juga sempat menanyakan langsung kondisi salah seorang relawan asal Indonesia, Hendro Prasetyo.
“Hendro diapain?” tanya Maimon.
“Saya ditonjok, disetrum dua kali, ditendang dua kali,” jawab Hendro.
Maimon menyebut kondisi yang dialami relawan Indonesia masih tergolong lebih ringan dibanding sebagian aktivis kemanusiaan dari negara lain yang ikut dalam armada tersebut.
“Ini bisa disebut sebagai situasi yang ringan, karena di antara relawan, ada yang kemudian dibawa dengan stretcher, ada yang harus mendapatkan operasi, ada yang patah kaki dan tangan, dan saya dengar juga ada kasus-kasus yang lebih buruk lagi,” ujarnya.
Ia menilai perlakuan terhadap para aktivis kemanusiaan itu menjadi gambaran situasi yang dialami warga Palestina di dalam tahanan Israel.
Menurut Maimon, saat ini terdapat lebih dari 9.000 warga Palestina yang berada di penjara Israel, termasuk ratusan perempuan dan anak-anak.
“Mereka mengalami penyiksaan luar biasa. Banyak yang meninggal karena penyiksaan. Semoga seluruh dunia terbuka matanya,” katanya.
Sebelumnya, armada kemanusiaan Global Sumud Flotilla dicegat militer Israel di perairan internasional dekat Siprus pada Senin (18/5/2026) saat dalam perjalanan menuju Jalur Gaza untuk menyalurkan bantuan kemanusiaan dan menembus blokade.
Awalnya, lima WNI dilaporkan ditahan Israel, yakni Andi Angga Prasadewa dari Rumah Zakat-GPCI, Bambang Noroyono atau Abeng dari Republika, Thoudy Badai yang merupakan jurnalis foto Republika, Andre Prasetyo Nugroho dari Tempo TV>, serta Rahendro Herubowo eks jurnalis iNews.
Belakangan, empat WNI lainnya juga turut ditahan. Mereka adalah Asad Aras Muhammad, Hendro Prasetyo, Herman Budianto Sudarno, dan Ronggo Wirosanu.
Kesembilan relawan tersebut akhirnya dipulangkan ke Indonesia dan disambut langsung Menteri Luar Negeri RI Sugiono serta Duta Besar Palestina untuk Indonesia, Abdalfatah A. K. Alsattari.
Dalam kesempatan itu, Sugiono menyampaikan apresiasi kepada pemerintah Turki, Yordania, dan Mesir yang membantu proses pemulangan para relawan Indonesia dari kawasan konflik Timur Tengah.




