OPINI MITRA MBG: Rp6 Juta per Hari Itu Bukan Hadiah Negara, Apalagi Uang Jatuh dari Langit
Oleh : Drs.H.Marlis,MM, C.Med ( Ketua DPW HMD Gemas Sumbar )
Belakangan ini berkembang opini di tengah masyarakat bahwa Mitra Program Makan Bergizi Gratis (MBG) memperoleh keuntungan besar karena mendapatkan “Rp6 juta per hari” dari pemerintah. Bahkan ada yang beranggapan bahwa menjadi Mitra SPPG adalah bisnis yang sangat mudah, minim risiko, dan dijamin untung.

Pandangan tersebut tidak hanya keliru, tetapi juga tidak adil bagi ribuan Mitra dan Yayasan yang telah mengorbankan waktu, tenaga, pikiran, serta modal miliaran rupiah demi menyukseskan Program Strategis Nasional yang digagas Presiden Prabowo Subianto.
MITRA BUKAN PENERIMA BANTUAN, TETAPI INVESTOR
Hal pertama yang harus dipahami publik adalah bahwa Mitra MBG bukanlah penerima bantuan pemerintah.
Mitra adalah investor yang membangun sendiri fasilitas SPPG dengan dana pribadi, pinjaman bank, menjual aset, bahkan ada yang menggadaikan harta keluarga demi memenuhi standar yang ditetapkan Badan Gizi Nasional (BGN).
Nilai investasi yang harus dikeluarkan tidak kecil.
Untuk satu unit SPPG, kebutuhan investasi berkisar antara Rp2 miliar hingga Rp4 miliar, bahkan bisa lebih besar tergantung lokasi dan kapasitas layanan.
Pertanyaannya, investor mana yang mau mengeluarkan uang miliaran rupiah hanya untuk mendapatkan “bonus” Rp6 juta per hari?
Jawabannya tentu tidak ada.
Karena faktanya, Rp6 juta per hari tersebut bukan bonus, melainkan bagian dari mekanisme pengembalian investasi dan biaya usaha yang telah dikeluarkan sebelumnya.
MASYARAKAT HANYA MELIHAT ANGKA MASUK, TETAPI TIDAK MELIHAT ANGKA KELUAR
Kesalahan terbesar dalam opini publik saat ini adalah hanya melihat angka pemasukan tanpa memahami beban biaya yang harus ditanggung.
Setiap SPPG harus menanggung:
Penyusutan bangunan.
Penyusutan kendaraan distribusi.
Penyusutan peralatan dapur.
Perawatan dan perbaikan aset.
Penggantian alat yang rusak.
Biaya administrasi dan legalitas.
Biaya sertifikasi.
Biaya asuransi.
Risiko kerusakan aset.
Risiko perubahan kebijakan.
Risiko penghentian operasional.
Risiko keterlambatan pembayaran.
Semua biaya tersebut adalah biaya nyata yang harus diperhitungkan dalam dunia usaha.
Tidak ada satu pun pengusaha yang menghitung keuntungan hanya dari uang yang masuk tanpa memperhitungkan modal dan risiko yang telah dikeluarkan.
JIKA MUDAH DAN MENGUNTUNGKAN, MENGAPA TIDAK SEMUA ORANG MAU MEMBANGUN SPPG?
Ini pertanyaan yang sederhana tetapi sangat mendasar.
Jika benar menjadi Mitra MBG adalah jalan pintas menuju kekayaan, maka seharusnya seluruh masyarakat berlomba-lomba membangun SPPG.
Faktanya justru tidak demikian.
Banyak calon Mitra mundur setelah mengetahui besarnya investasi yang dibutuhkan.
Banyak pula Mitra yang saat ini masih berjuang menyelesaikan pembangunan dapur dengan segala keterbatasan pendanaan.
Sebagian bahkan harus berutang ke bank atau menggunakan seluruh tabungan hidupnya demi mendukung program pemerintah ini.
Mereka mengambil risiko yang tidak kecil.
MITRA ADALAH PIHAK YANG PALING BERANI MENGAMBIL RISIKO
Di saat banyak orang masih meragukan keberhasilan Program MBG pada awal peluncurannya, para Mitra justru mengambil keputusan besar.
Mereka membeli tanah.
Mereka membangun dapur.
Mereka membeli kendaraan.
Mereka menyiapkan SDM.
Mereka mengurus perizinan.
Mereka memenuhi seluruh persyaratan yang terus berkembang dari waktu ke waktu.
Semua dilakukan tanpa kepastian kapan investasi tersebut benar-benar kembali.
Karena itu sangat tidak tepat apabila Mitra kemudian dicap sebagai pihak yang “mencari keuntungan besar dari uang negara.”
NEGARA DAN MITRA SEHARUSNYA MENJADI MITRA STRATEGIS
Program MBG tidak mungkin berjalan hanya dengan anggaran negara semata.
Program ini membutuhkan partisipasi masyarakat, dunia usaha, yayasan, koperasi, dan investor lokal.
Karena itu keberadaan Mitra sesungguhnya adalah bentuk gotong royong nasional.
Negara menyediakan program.
Mitra menyediakan investasi.
Masyarakat menerima manfaat.
Relawan memperoleh pekerjaan.
Petani, peternak, nelayan, dan UMKM memperoleh pasar baru.
Inilah ekosistem yang sedang dibangun.
HENTIKAN NARASI YANG MENYESATKAN
Sudah saatnya publik menghentikan narasi yang menyederhanakan persoalan seolah-olah Mitra MBG mendapatkan “uang gratis” Rp6 juta per hari.
Narasi seperti itu bukan hanya menyesatkan, tetapi juga berpotensi merusak semangat para Mitra yang telah berjuang dan berkorban untuk mendukung Program Makan Bergizi Gratis.
Kami mengajak masyarakat untuk melihat persoalan ini secara utuh dan objektif.
Karena yang terjadi sesungguhnya bukanlah pembagian bonus dari negara, melainkan proses pengembalian investasi atas modal miliaran rupiah yang telah ditanamkan oleh para Mitra dengan segala risiko yang mereka tanggung sendiri.
Mitra MBG bukan sedang menikmati durian runtuh. Mitra MBG sedang berjuang mengembalikan modal, menjaga keberlanjutan usaha, sekaligus membantu negara menyiapkan generasi emas Indonesia. (*/Marlis – Ketua HMD GEMAS SUMBAR )



