Dari Penertiban ke Kematian: Mengurai Misteri Kematian Pengamen Karim

PADANG, ALINIANEWS.COM – Siang itu, hiruk-pikuk Padang seperti biasa tak pernah benar-benar sunyi. Karim (32) biasa dikenal sebagai pengamen, wajah yang tak asing bagi banyak orang. Namun, sejak Senin (23/3/2026), jejak Karim di titik itu mendadak terhenti.

Hari itu, Karim diamankan oleh aparat Satpol PP. Dalam catatan resmi, ia disebut sebagai orang dengan gangguan jiwa (ODGJ). Dari jalanan, ia kemudian berpindah tangan diserahkan ke Dinas Sosial, lalu dibawa ke RSJ HB Saanin Padang.

Dua hari kemudian, Rabu (25/3/2026), Karim dinyatakan meninggal dunia.

Iklan

Kabar itu menyebar cepat di antara mereka yang mengenalnya. Bagi sebagian orang, Karim bukan sekadar pengamen yang singgah meminta recehan. Ia adalah sosok yang dikenal, berinteraksi, dan menjadi bagian dari denyut keseharian Pasar Raya.

“Korban disebut ODGJ, namun fakta di lapangan berbeda. Karim dikenal oleh banyak orang, bahkan memiliki relasi sosial yang baik,” ujar kuasa hukum keluarga, Afrinaldo, saat aksi di lokasi kejadian, Kamis (2/4/2026).

Pernyataan itu menjadi titik awal pertanyaan yang lebih besar: siapa sebenarnya Karim di mata negara, dan apa yang sebenarnya terjadi dalam dua hari terakhir hidupnya?

Rantai yang Terputus di Tengah Jalan

Perjalanan Karim sejak diamankan hingga meninggal dunia membentuk sebuah rantai penanganan yang kini disorot. Dari jalanan ke petugas, dari petugas ke institusi sosial, lalu ke rumah sakit setiap mata rantai menyimpan cerita yang belum sepenuhnya terang.

BACA JUGA  Kampus atau Pabrik Pengangguran? Saatnya Program Studi Tak Relevan “Diamputasi”

LBH Cakra Nusantara Indonesia Bersatu melihat ada yang janggal. Mereka resmi melaporkan dugaan penganiayaan berat ke Polresta Padang. Dugaan itu muncul bukan tanpa alasan, melainkan dari hasil penelusuran ke sejumlah pihak yang dinilai tidak selaras dengan kondisi di lapangan.

Di sisi lain, penyebab pasti kematian Karim masih menunggu hasil autopsi dari RS Bhayangkara Padang. Hasil itulah yang diharapkan bisa menjawab apakah kematian ini murni persoalan medis, atau ada faktor lain yang lebih gelap.

Suara dari Jalanan

Beberapa hari setelah kematian Karim, pasar raya itu kembali ramai. Namun kali ini bukan oleh aktivitas jual beli, melainkan oleh suara tuntutan.

Keluarga, pedagang, dan warga berkumpul. Mereka berdiri di titik yang sama tempat Karim terakhir terlihat. Spanduk dibentangkan, suara disuarakan menuntut kejelasan, menolak diam.

Bagi mereka, ini bukan sekadar soal satu nyawa yang hilang. Ini tentang bagaimana seseorang diperlakukan sejak pertama kali dianggap “bermasalah”.

Narasi bahwa Karim adalah ODGJ pun dipertanyakan. Di mata orang-orang yang sehari-hari melihatnya, label itu terasa janggal bahkan menyesatkan.

Di Antara Label dan Tanggung Jawab

Kasus ini kini bergerak di antara dua arus: versi resmi dan kesaksian lapangan.

Di satu sisi, ada prosedur penertiban, penyerahan, penanganan medis. Di sisi lain, ada pengalaman nyata warga yang mengenal Karim sebagai individu yang hidup, berinteraksi, dan bukan sosok yang terasing dari lingkungan sosialnya.

BACA JUGA  UNESCO Mulai Melirik Padang? Pakar Kuliner Sebut Kota Ini Layak Jadi Gastronomi Dunia

Di titik inilah pertanyaan tentang tanggung jawab menjadi tak terhindarkan.

Apakah yang terjadi saat penertiban?
Bagaimana kondisi Karim saat diserahkan?
Apa yang berlangsung selama dua hari di rumah sakit?

Jawaban atas pertanyaan-pertanyaan itu tersebar di tangan berbagai pihak—Satpol PP, Dinas Sosial, hingga rumah sakit. Namun hingga kini, belum ada satu pun simpul yang benar-benar terbuka.

Menunggu Terang di Ujung Proses

Kini, semua mata tertuju pada proses penyelidikan di Polresta Padang. Publik menunggu apakah rangkaian peristiwa ini akan diurai secara utuh, atau justru berhenti pada kesimpulan yang dangkal.

Kasus Karim bukan hanya tentang kematian seorang pengamen. Ia menjadi cermin tentang bagaimana sistem memperlakukan mereka yang berada di pinggiran yang sering kali lebih mudah diberi label daripada dipahami.

Di pertigaan Pasar Raya itu, aktivitas telah kembali berjalan. Namun bagi sebagian orang, tempat itu kini menyimpan satu hal yang tak kasat mata: jejak terakhir seorang manusia, dan pertanyaan panjang tentang siapa yang harus bertanggung jawab atas kepergiannya. (*/Red)

spot_img

Latest news

- Advertisement -spot_img

Berita Terkait

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses