BGN Tetapkan MBG Enam Hari di Daerah 3T, Ini Alasannya!!!

JAKARTA, ALINIANEWS.COM – Badan Gizi Nasional (BGN) menetapkan skema baru dalam pelaksanaan Program Makan Bergizi Gratis (MBG) bagi siswa sekolah. Dalam kebijakan terbaru, penyaluran MBG dilakukan selama lima hari sekolah dalam sepekan. Namun, ketentuan ini dikecualikan untuk daerah terdepan, terluar, tertinggal (3T) serta wilayah dengan prevalensi stunting tinggi.

Sebelumnya, distribusi MBG mengikuti durasi hari sekolah yang berbeda di setiap daerah, yakni antara lima hingga enam hari. Dengan kebijakan baru ini, pemerintah mulai menyeragamkan penyaluran menjadi lima hari, kecuali untuk wilayah prioritas yang dinilai membutuhkan intervensi lebih intensif.

Kepala BGN, Dadan Hindayana, menegaskan bahwa perlakuan khusus diberikan bagi daerah 3T dan wilayah rawan stunting sebagai langkah strategis dalam pemenuhan gizi anak.

Iklan

“Pemberian MBG untuk daerah 3T dan risiko stunting tinggi dilakukan selama enam hari sekolah atau Senin sampai Sabtu. Ini merupakan langkah strategis memastikan anak-anak menerima gizi yang cukup setiap hari,” ujar Dadan, dilansir dari laman Antara, Senin (30/3/2026).

BGN menilai bahwa perbedaan durasi ini penting untuk menjawab tantangan akses pangan bergizi yang masih terbatas di sejumlah wilayah. Oleh karena itu, program MBG di daerah 3T diberikan lebih banyak dibandingkan wilayah lainnya.

Dalam menentukan daerah penerima kebijakan khusus ini, BGN menekankan pentingnya pendataan yang akurat dan terintegrasi. Data Survei Status Gizi Indonesia (SSGI) 2024 dari Kementerian Kesehatan menjadi rujukan utama dalam menetapkan wilayah prioritas, terutama di kawasan Indonesia timur.

BACA JUGA  Mantan Dirjen Kemendikbudristek Ringankan Nadiem di Sidang Chromebook, Sebut Program Berbasis Diskusi dan Data

“Tim kami akan bekerja sama dengan dinas pendidikan dan kesehatan setempat untuk memastikan data akurat, sehingga MBG tepat sasaran,” kata Dadan.

Pendataan tersebut mencakup jumlah sekolah, jumlah siswa, serta tingkat prevalensi stunting di masing-masing wilayah. Sejumlah daerah di Indonesia timur, Sumatera, dan Papua menjadi prioritas karena masih mencatat angka stunting yang relatif tinggi.

Dadan juga menekankan bahwa keakuratan data menjadi fondasi utama keberhasilan program ini. Menurutnya, MBG tidak sekadar program bantuan, tetapi bagian dari upaya jangka panjang untuk meningkatkan kualitas sumber daya manusia.

“Integritas data sangat penting karena program ini menyangkut kesehatan dan masa depan generasi muda. Kami tidak ingin ada anak yang tertinggal dari pemenuhan gizi,” tuturnya.

Melalui kebijakan ini, BGN berharap seluruh anak sekolah, khususnya di wilayah 3T dan daerah rawan stunting, tetap mendapatkan asupan gizi yang memadai guna mendukung tumbuh kembang optimal sekaligus mempercepat penurunan angka stunting di Indonesia. (*/Rel)

spot_img

Latest news

- Advertisement -spot_img

Berita Terkait

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses