JAKARTA, ALINIANEWS.COM — Presiden Amerika Serikat Donald Trump melontarkan peringatan keras kepada Wakil Presiden Venezuela Delcy Rodriguez. Trump menegaskan Rodriguez akan membayar “harga yang sangat besar” jika tidak bersikap kooperatif terhadap Amerika Serikat, bahkan lebih berat dibandingkan mantan Presiden Venezuela Nicolas Maduro yang sebelumnya ditangkap melalui intervensi AS.
Dalam wawancara dengan majalah The Atlantic, Trump menyebut Rodriguez yang saat ini memimpin Venezuela sementara berpotensi menghadapi konsekuensi lebih serius apabila tidak mengikuti kehendak Washington.
“Jika [Delcy Rodriguez] tidak melakukan hal yang benar, dia akan membayar harga yang sangat besar, mungkin lebih besar daripada Maduro,” kata Trump, seperti dikutip Al Jazeera.

Pernyataan tersebut disampaikan Trump sebagai respons atas sikap Rodriguez yang menolak intervensi bersenjata Amerika Serikat, yang berujung pada penangkapan Maduro dan istrinya oleh pasukan AS. Trump mengklaim penolakan tersebut sebagai bentuk ketidakpatuhan Caracas terhadap kebijakan Washington.
Sebelumnya, Trump sempat memuji Rodriguez pada Sabtu lalu, tak lama setelah penangkapan Maduro. Namun sikap Rodriguez berubah tegas setelah ia menyatakan bahwa Venezuela akan mempertahankan kedaulatan atas sumber daya alamnya.
Dalam konferensi pers di Caracas, Rodriguez menegaskan tidak akan membuka ruang negosiasi dengan Amerika Serikat. Pernyataan itu bertolak belakang dengan klaim Trump yang menyebut adanya peluang kerja sama.
“Rodriguez tampil dengan ketenangan penuh dalam sebuah konferensi pers tak lama setelah pernyataan Trump, sambil menegaskan bahwa Venezuela bukan koloni negara mana pun,” ujar Chris Gilbert, profesor di Universitas Bolivarian Venezuela, kepada Al Jazeera.
Menurut Gilbert, Rodriguez berupaya menegaskan legitimasi pemerintahannya dengan menautkan otoritas negara pada dukungan rakyat serta proses demokratis. Ia juga memaparkan strategi pertahanan nasional yang bertumpu pada aliansi antara militer, rakyat, dan kepolisian.
Rodriguez turut menyinggung mobilisasi milisi di berbagai lingkungan sebagai bagian dari kesiapan nasional menghadapi tekanan eksternal.
Di sisi lain, Trump membela langkah penangkapan Maduro yang dilakukan dengan kekuatan militer. Ia menilai perubahan rezim di Venezuela justru akan membawa kondisi yang lebih baik.
“Anda tahu, membangun kembali di sana dan pergantian rezim, apa pun istilahnya, lebih baik daripada kondisi sekarang. Tidak mungkin lebih buruk lagi,” ujar Trump.
Lebih jauh, Trump juga memberi sinyal bahwa kebijakan intervensi Amerika Serikat tidak terbatas pada Venezuela. Ia menyebut negara atau wilayah lain berpotensi menjadi sasaran kepentingan strategis AS.
“Kami memang membutuhkan Greenland, tentu saja,” kata Trump, merujuk pada pulau yang merupakan bagian dari Denmark, salah satu negara anggota NATO.
Pernyataan-pernyataan Trump tersebut kembali memicu kekhawatiran internasional terkait arah kebijakan luar negeri Amerika Serikat yang dinilai semakin agresif dan berpotensi memperluas konflik geopolitik global. (*/Rel)




