JAKARTA, ALINIANEWS.COM — Presiden Amerika Serikat Donald Trump menegaskan militernya akan tetap disiagakan di dalam dan sekitar wilayah Iran hingga kesepakatan yang telah dicapai benar-benar dijalankan.
Pernyataan itu disampaikan Trump melalui platform Truth Social, di tengah berlangsungnya gencatan senjata sementara antara Amerika Serikat dan Iran.
“Seluruh kapal, pesawat, dan personel militer kami akan tetap berada di tempatnya sampai kesepakatan nyata yang telah dicapai benar-benar dipatuhi sepenuhnya,” tulis Trump.

Ia menyebut pengerahan tersebut mencakup tambahan amunisi dan persenjataan guna mengantisipasi kemungkinan eskalasi, meski pihaknya menilai lawan sudah dalam kondisi melemah.
Saat ini, Washington dan Teheran tengah menjalani masa gencatan senjata selama dua pekan. Kesepakatan itu tercapai hanya satu jam sebelum tenggat yang sebelumnya ditetapkan Trump, yang sempat mengancam akan menyerang infrastruktur Iran apabila jalur pelayaran strategis di Selat Hormuz tidak dibuka.
Trump menegaskan dua poin utama dalam kesepakatan tersebut, yakni Iran tidak mengembangkan senjata nuklir dan jalur pelayaran internasional tetap aman.
“Telah disepakati sejak lama, dan terlepas dari semua retorika palsu yang bertentangan, tidak ada senjata nuklir dan Selat Hormuz akan tetap dibuka dan aman,” tegasnya.
Ia juga memperingatkan bahwa opsi militer tetap terbuka jika kesepakatan dilanggar.
“Jika karena alasan apa pun hal itu tidak terjadi, yang sangat kecil kemungkinannya, maka penembakan akan dimulai, lebih besar, lebih baik, dan lebih kuat daripada yang pernah dilihat siapa pun sebelumnya,” kata Trump.
Trump memastikan militer AS saat ini dalam kondisi siaga penuh sembari menunggu perkembangan lanjutan.
“Sementara itu, militer hebat kami sedang bersiap dan beristirahat, bahkan menantikan penaklukan berikutnya. AMERIKA KEMBALI!” ujarnya.
Seiring gencatan senjata, kedua negara dijadwalkan melanjutkan perundingan di Islamabad pada Jumat (10/4/2026). Pemerintah AS menunjuk Wakil Presiden JD Vance untuk memimpin delegasi dalam pembicaraan tersebut.
Dari pihak Iran, delegasi dilaporkan akan tiba lebih awal untuk memulai negosiasi berdasarkan sejumlah usulan yang telah diajukan sebelumnya.
Ketegangan antara kedua negara meningkat sejak akhir Februari 2026, memicu kekhawatiran global terhadap stabilitas kawasan, terutama terkait keamanan jalur energi internasional di Selat Hormuz.
Menjelang perundingan, pemerintah Pakistan bahkan menetapkan hari libur di Islamabad sebagai bentuk persiapan menghadapi agenda diplomatik yang dinilai krusial tersebut. (*/Rel)




