Trump Akui Kirim Senjata untuk Demonstran Iran, Klaim Gagal Sampai ke Tangan Rakyat

JAKARTA, ALINIANEWS.COM — Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengungkapkan bahwa pemerintahannya sempat mengirimkan sejumlah besar senjata untuk mendukung demonstran antipemerintah di Iran. Namun, upaya tersebut disebutnya gagal karena persenjataan tidak pernah sampai ke tangan para pendemo.

Pernyataan itu disampaikan Trump kepada wartawan saat perayaan Paskah di Gedung Putih, Senin (6/4/2026) waktu setempat. Ia mengaku kecewa karena senjata yang dikirim justru tidak digunakan sebagaimana rencana awal.

“Kami telah mengirimkan senjata, banyak senjata, senjata-senjata itu seharusnya diberikan kepada rakyat agar mereka dapat melawan para preman ini,” ujar Trump.

Iklan

Namun, ia menambahkan bahwa distribusi senjata tersebut tidak berjalan sesuai harapan. “Tahukah Anda apa yang terjadi? Orang-orang yang menerima senjata itu menyimpannya,” ungkapnya.

Trump bahkan memperingatkan pihak yang diduga menahan distribusi senjata tersebut akan menghadapi konsekuensi. “Jadi, saya sangat kecewa dengan kelompok orang tertentu, dan mereka akan membayar mahal untuk hal itu,” katanya, tanpa merinci pihak yang dimaksud.

Sejumlah laporan media menyebutkan bahwa Trump menuding perantara Kurdi sebagai pihak yang diduga mengambil alih senjata yang seharusnya disalurkan kepada kelompok pembangkang di Teheran.

Selain itu, Trump juga mengklaim pemerintahannya menerima banyak komunikasi dari warga sipil Iran yang mendesak Amerika Serikat untuk terus menekan pemerintah Teheran. Klaim tersebut disampaikan tanpa bukti rinci.

“Mereka rela menderita demi kebebasan,” kata Trump.

BACA JUGA  Indonesia Bidik Impor Minyak dan LPG Rusia, Kontrak Jangka Panjang Disiapkan

Dalam kesempatan yang sama, Trump kembali melontarkan peringatan keras kepada Iran. Ia menyebut negara tersebut bisa “dihancurkan dalam semalam” jika tidak segera menyepakati gencatan senjata dengan Amerika Serikat.

“Seluruh negara dapat dihancurkan dalam semalam. Dan malam itu mungkin besok malam,” ujarnya. “Saya harap saya tidak perlu melakukannya,” imbuhnya.

Trump juga menetapkan tenggat waktu hingga Selasa (7/4/2026) malam bagi Teheran untuk menyetujui kesepakatan gencatan senjata. Ia menuntut Iran menghentikan program nuklir serta membuka kembali akses di Selat Hormuz.

Di sisi lain, polemik juga muncul terkait klaim kemenangan Iran dalam kesepakatan gencatan senjata. Trump menolak laporan tersebut dan menyebutnya sebagai “PENIPUAN”, sekaligus mengkritik pemberitaan media internasional.

Sementara itu, Gedung Putih melalui Sekretaris Pers Karoline Leavitt menegaskan bahwa gencatan senjata sementara antara AS dan Iran merupakan keberhasilan bagi Washington.

“Ini adalah kemenangan bagi Amerika Serikat yang diwujudkan oleh Presiden Trump dan militer kita yang luar biasa,” kata Leavitt.

Ia menambahkan bahwa operasi militer yang berlangsung sebelumnya telah mencapai target lebih cepat dari perkiraan awal.

“Berkat kemampuan luar biasa para prajurit kita, kita telah mencapai dan melampaui tujuan militer inti kita dalam 38 hari,” ujarnya.

Menurut Gedung Putih, capaian tersebut memberikan posisi tawar yang kuat bagi AS dalam negosiasi lanjutan, sekaligus membuka peluang menuju solusi diplomatik dan stabilitas jangka panjang di kawasan. (*/REL)

BACA JUGA  Apa yang Dibicarakan Prabowo dan Putin? Ini Hasilnya
spot_img

Latest news

- Advertisement -spot_img

Berita Terkait

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses