JAKARTA, ALINIANEWS.COM — Militer Amerika Serikat dilaporkan mengintensifkan kehadiran militernya di sekitar perairan Venezuela dalam beberapa pekan terakhir. Sejumlah pesawat tempur, drone pengintai, hingga pengebom strategis dikerahkan di wilayah Karibia dan mendekati garis pantai Venezuela, di tengah meningkatnya kekhawatiran akan eskalasi konflik antara Washington dan Caracas.
Dikutip dari AFP, pengerahan ini melengkapi langkah sebelumnya ketika AS mengirim armada kapal perang ke Laut Karibia sejak September 2025 dengan dalih pemberantasan narkoba. Dalam operasi tersebut, militer AS bahkan mengklaim telah melakukan serangan terhadap kapal-kapal yang dituding menyelundupkan narkoba, yang disebut menyebabkan sekitar 90 orang tewas.
Data dari situs pelacakan penerbangan Flightradar24 menunjukkan keberadaan jet tempur F/A-18 milik Angkatan Laut AS yang berputar di Teluk Venezuela selama lebih dari 40 menit pada Selasa (9/12/2025), hingga mendekati garis pantai negara itu. Pada hari yang sama, pesawat tempur lain juga terdeteksi beroperasi di udara dekat wilayah Venezuela.

Selain jet tempur, sebuah drone pengawasan jarak jauh dilaporkan melakukan penerbangan berulang selama beberapa jam di sepanjang sekitar 500 mil perairan Laut Karibia. Penerbangan ini menjadi yang pertama kalinya drone jenis tersebut mengirimkan sinyal di kawasan itu dalam setidaknya satu bulan terakhir. Aktivitas serupa kembali terpantau pada Jumat (12/12/2025).
AFP juga melaporkan bahwa antara akhir Oktober hingga akhir November, AS telah mengerahkan lima pesawat pengebom strategis B-1 dan B-52, serta dua jet F/A-18, dalam radius sekitar 25 mil dari pantai Venezuela. Selain itu, sejumlah pesawat lain terlihat beroperasi di langit Karibia meski tidak tercatat dalam data Flightradar24.
Foto-foto yang dirilis militer AS turut memperlihatkan pesawat pengebom yang dikawal jet tempur siluman F-35, jenis pesawat yang tidak terdeteksi dalam sistem pelacakan penerbangan publik.
Langkah militer ini sejalan dengan kebijakan Presiden AS Donald Trump yang disebut meningkatkan tekanan terhadap Presiden Venezuela Nicolas Maduro. Washington menuding Maduro sebagai pemimpin “Cartel of the Suns”, kelompok yang bulan lalu ditetapkan AS sebagai organisasi teroris.
Pemerintahan Trump menilai pengerahan kekuatan militer tersebut sebagai bagian dari upaya memerangi perdagangan narkoba. Namun, sejumlah pihak menilai eskalasi ini membuka peluang terjadinya konflik terbuka, bahkan invasi darat AS ke Venezuela.
Di sisi lain, Presiden Nicolas Maduro menuding Amerika Serikat berambisi menggulingkan pemerintahannya demi menguasai cadangan minyak Venezuela. Ia menegaskan negaranya tengah bersiap menghadapi ancaman eksternal.
Sebagai respons, angkatan bersenjata Venezuela melantik sekitar 5.600 tentara baru pekan lalu, setelah Maduro menyerukan peningkatan perekrutan militer nasional.
Ketegangan semakin memanas setelah AS mengklaim telah menyita sebuah kapal tanker minyak di lepas pantai Venezuela pada Rabu (10/12/2025). Hingga kini, situasi di kawasan Karibia masih menjadi sorotan internasional, seiring meningkatnya aktivitas militer kedua negara dan kekhawatiran akan pecahnya konflik berskala lebih besar. (*/Rel)




