“Cukup Meremehkan Derita Kami! Rakyat Sumatera Menuntut Status Bencana Nasional!”**
Oleh : Drs.H.Marlis,MM
Di atas tanah yang terbelah, di pinggir sungai yang meluap menjadi lautan lumpur, di tengah desa-desa yang kini hanya tinggal bayangan masa lalu, Sumatera berdiri—meskipun tubuhnya penuh luka. Di tengah tragedi yang merenggut rumah, keluarga, dan harapan ribuan warga, muncul sebuah ucapan yang menorehkan luka baru:

“Bencana di Sumatera hanya heboh di media sosial.”
Ucapan dari Kepala BNPB itu menyebar cepat, bukan sebagai informasi, tetapi sebagai tamparan keras yang menggores martabat masyarakat yang sedang berduka.
Bagaimana mungkin penderitaan yang begitu nyata dianggap sekadar “heboh”?
Apa yang disebut heboh itu, bagi warga di lapangan, adalah teriakan terakhir dari sudut-sudut desa yang terisolasi karena hanya kamera ponsel yang masih bisa bekerja saat semua akses terputus.
Dari Aceh hingga Sumatera Barat, dari Tapanuli hingga Nias, bencana ini bukan sekadar banjir dan longsor. Ini adalah pertempuran hidup dan mati.Para ayah melawan arus deras untuk menyelamatkan anak-anak yang bukan anak kandung mereka.Para ibu membagi sesuap nasi untuk pengungsi lain.Para relawan berjalan kaki berjam-jam menembus lumpur karena alat berat belum tiba. Aparat TNI, Polri, BPBD, dan pemuda-pemuda kampung bahu-membahu tanpa tidur.Tidak ada yang menginginkan viral.Tidak ada yang merancang drama.Yang ada hanyalah usaha bertahan, di tengah keterbatasan yang amat pahit.Dan ketika perjuangan itu disederhanakan menjadi “heboh medsos”, rakyat Sumatera tersentak—lalu bangkit dengan kepala tegak.
Dari tenda-tenda pengungsian yang basah oleh hujan dan air mata, terdengar satu seruan yang sama:
“Kami bukan mencari perhatian.Kami sedang meminta pertolongan.” Rakyat Sumatera tidak ingin dimengerti lewat kamera, tetapi lewat tindakan nyata negara.Karena yang hancur bukan hanya rumah—tetapi masa depan anak-anak, mata pencaharian, dan jalur kehidupan di puluhan daerah. Maka wajar jika hari ini rakyat Sumatera menyuarakan protes moral:
“Hentikan meremehkan derita kami.”
TUNTUTAN BESAR ITU AKHIRNYA MENGGEMA:
PRESIDEN PRABOWO, TETAPKAN STATUS BENCANA NASIONAL!”
Gelombang bencana yang menghantam Sumbar, Sumut, dan Aceh sudah berada jauh di atas kapasitas pemerintah daerah. Puluhan daerah terputus, ribuan rumah hilang, dan banyak korban masih belum ditemukan.
Karena itulah dari hati yang terluka lahir satu seruan besar:
“Pak Prabowo Subianto, kami menuntut: tetapkan ini sebagai STATUS BENCANA NASIONAL.”
Bukan untuk gagah-gagahan. Bukan untuk politik.Tetapi demi nyawa—demi percepatan logistik, evakuasi, alat berat, tenaga medis, dan mobilisasi kekuatan penuh negara. Status Bencana Nasional adalah jalan satu-satunya untuk mempercepat penyelamatan, pemulihan, dan rekonstruksi Sumatera. Dan rakyat Sumatera percaya bahwa Presiden Prabowo memiliki jiwa besar untuk mendengar seruan ini.
SUMATERA MEMANG TERLUKA, TAPI TIDAK PERNAH TAKLUK
Duka ini nyata. Luka ini dalam. Tetapi semangat Sumatera lebih besar dari kehancuran apa pun.Bencana boleh meruntuhkan bangunan, tetapi tidak akan pernah meruntuhkan keteguhan jiwa rakyat yang bangkit berdiri. Dengan suara yang membahana dari puing-puing dan tanah yang retak, rakyat Sumatera berkata:
“Kami tidak heboh. Kami terluka. Dan kami menuntut keadilan negara!”
Sumatera sudah berbicara. Sekarang Indonesia menunggu langkah Presiden. Dan sejarah akan mencatat siapa yang mendengar seruan dari tanah yang sedang menangis. (*/Marlis )




