JAKARTA, ALINIANEWS.COM – Pemerintah terus memperkuat pengelolaan sumber daya air sebagai langkah strategis untuk meningkatkan indeks pertanaman (IP) dan menjaga produktivitas pertanian nasional. Upaya ini dilakukan melalui sinergi antara Kementerian Pertanian dan Kementerian Pekerjaan Umum dalam mempercepat pembangunan serta optimalisasi sistem irigasi di berbagai wilayah.
Staf Khusus Menteri Pertanian Bidang Kebijakan Pertanian, Sam Herodian, menyampaikan optimisme terhadap kinerja sektor pertanian tahun ini. Menurutnya, koordinasi lintas wilayah yang semakin solid, khususnya di Pulau Jawa, menjadi fondasi penting dalam menjaga stabilitas produksi pangan.
“Kami optimistis tahun ini akan lebih baik. Kerja sama yang terbangun saat ini sudah mengarah pada model percontohan terintegrasi, mulai dari penyiapan air hingga benih. Ini harus terus dilanjutkan dan diperluas ke seluruh Indonesia,” ujar Sam, Rabu (1/4/2026).

Ia menekankan bahwa pengelolaan air menjadi faktor krusial dalam budidaya padi. Menurutnya, tanaman padi tidak membutuhkan air berlimpah, melainkan pengaturan yang tepat agar produktivitas tetap optimal.
“Jika pengelolaan air dan pola tanam bisa disinkronkan, termasuk percepatan tanam pascapanen, maka siklus produksi akan lebih efisien dan hasilnya optimal,” tambahnya.
Senada dengan itu, Direktur Jenderal Prasarana dan Sarana Pertanian Kementan, Andi Nur Alam Syah, mengingatkan pentingnya menjaga semangat swasembada pangan, terutama memasuki periode krusial April hingga Mei.
“Tidak boleh menurunkan semangat kita dalam mempertahankan swasembada yang berkelanjutan. Bulan April dan Mei ini sesuai arahan Menteri Pertanian harus kita jaga bersama. Mudah-mudahan semua bisa berjalan lancar,” ujarnya.
Alam menegaskan, fokus pemerintah saat ini adalah memperkuat infrastruktur pertanian, mulai dari irigasi, ketersediaan pupuk, hingga distribusi alat dan mesin pertanian (alsintan).
Sementara itu, Direktur Konservasi dan Pengembangan Sumber Air Pertanian, Asmarhansyah, mengingatkan potensi kekeringan masih membayangi pada 2026. Karena itu, percepatan program irigasi seperti irigasi perpompaan, perpipaan, pembangunan konservasi, dan jaringan irigasi tersier menjadi prioritas.
“Program ini harus dipercepat agar musim kemarau dapat diantisipasi sejak dini. Optimalisasi sarana yang sudah dibangun juga penting, dengan dukungan aktif dari dinas dan penyuluh di lapangan,” jelasnya.
Di tingkat daerah, Kepala Dinas Pertanian dan Peternakan Provinsi Jawa Tengah, Frans Tavares, mengungkapkan bahwa peningkatan IP masih terkendala ketersediaan air.
“Rata-rata IP di Jawa Tengah masih sekitar 1,8 hingga 1,9. Ini perlu ditingkatkan karena kendala utama adalah ketersediaan air, sehingga sebagian petani baru dapat menanam satu kali dalam setahun,” ujarnya.
Dukungan teknis juga diperkuat oleh BBWS Pemali Juana. Kepala BBWS Pemali Juana, Sudarto, mengatakan pihaknya telah menyusun peta overlay berbasis spasial untuk memetakan potensi kekeringan.
“Kami mengintegrasikan data potensi kekeringan dengan infrastruktur sumber daya air seperti bendungan, embung, dan tampungan lainnya. Ini menjadi dasar dalam memprediksi dan menangani kekeringan secara lebih tepat,” jelasnya.
Antisipasi El Nino, Pemerintah Andalkan Pompanisasi
Selain penguatan irigasi, pemerintah juga mengandalkan pompanisasi sebagai strategi menghadapi potensi El Nino ekstrem yang diperkirakan mulai berdampak pada April.
Andi Nur Alam Syah mengungkapkan bahwa sejak 2023 hingga 2025, pemerintah telah menyalurkan puluhan ribu pompa air ke kelompok tani.
“Pemerintah sejak 2023 hingga 2025 telah menyalurkan sebanyak 80.158 unit pompa air kepada kelompok tani di seluruh Indonesia. Ini adalah aset strategis yang harus dimanfaatkan secara optimal untuk menghadapi potensi kekeringan,” ujarnya.
Ia menegaskan bahwa bantuan tersebut harus dimanfaatkan secara kolektif, didukung kesiapan sumber air dan pengelolaan distribusi yang baik.
“Optimalkan pemanfaatan pompa yang sudah ada. Pastikan sumber air disiapkan, saluran diperbaiki, dan distribusi air diatur dengan baik. Ini kunci agar lahan tetap produktif meskipun tekanan iklim meningkat,” tegasnya.
Pemerintah juga mengimbau petani untuk melakukan langkah antisipatif sejak dini, mulai dari identifikasi sumber air hingga pengaturan pola tanam.
Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman mengingatkan bahwa pengalaman menghadapi El Nino 2023 menjadi pelajaran penting. Saat itu, ancaman kekeringan sempat memicu rencana impor beras hingga 10 juta ton, namun berhasil ditekan.
“Dulu tahun 2023 itu ada El Nino juga yang tidak kalah kerasnya, dahsyatnya. Rencana waktu itu saya masih ingat dalam Ratas kita mau impor beras 10 juta ton. Tapi dengan kerja keras, paralel, sambil kita kerja keras mengantisipasi El Nino, kita melakukan pompanisasi, irigasi, oplah, itu kita berhasil menekan impor hanya sekitar 3 juta ton,” jelasnya.
Menurutnya, kombinasi pompanisasi, perbaikan irigasi, serta optimalisasi lahan menjadi kunci menjaga produksi dan ketahanan pangan nasional.
Dengan langkah terintegrasi ini, pemerintah optimistis produksi pangan tetap terjaga meski dihadapkan pada ancaman kekeringan dan perubahan iklim yang semakin tidak menentu. (*/Rel)




