JAKARTA, ALINIANEWS.COM – Organisasi Front Persaudaraan Islam (FPI) memberikan peringatan kepada pemerintah terkait rencana pengiriman 8.000 personel Tentara Nasional Indonesia (TNI) ke Jalur Gaza, Palestina. FPI mengingatkan agar pasukan TNI yang dikerahkan tidak sampai berhadapan langsung dengan kelompok Hamas yang selama ini dikenal sebagai kelompok militer Palestina yang menjaga wilayah Gaza.
Peringatan tersebut disampaikan Sekretaris Majelis Syuro DPP FPI, Hanif Alatas, usai menghadiri acara berbuka puasa bersama Presiden Prabowo Subianto di Istana Kepresidenan Jakarta pada Kamis (5/3/2026). Hanif mengatakan dirinya hadir mewakili pimpinan FPI, Rizieq Syihab, yang turut diundang dalam acara tersebut.
“Kami minta jangan sampai ada tentara Republik Indonesia diutus ke Gaza kemudian berhadapan langsung, konfrontasi dengan para pejuang di Hamas, itu kami enggak mau,” kata Hanif pada Kamis malam.

Menurut Hanif, FPI pada prinsipnya mendukung langkah pemerintah jika pengiriman personel TNI ke Gaza bertujuan membantu perjuangan kemerdekaan Palestina. Bahkan, FPI menyatakan siap membantu dengan mengirimkan relawan apabila diperlukan.
Namun, ia menilai situasi akan berbeda apabila pengiriman pasukan tersebut berada di bawah mandat Board of Peace (BOP) atau Dewan Perdamaian yang digagas oleh Amerika Serikat.
“Kalau dikirim ke Gaza buat memerdekakan Palestina, kami dukung bahkan kami siap support relawan. Tapi kalau dikirim ke Gaza di bawah komando Amerika, lalu melucuti senjata para pejuang di Gaza, hingga akhirnya konfrontasi, ini yang kami enggak mau,” tutur Hanif.
Selain menyampaikan sikap tersebut, FPI juga meminta pemerintah Indonesia menarik diri dari keanggotaan Board of Peace. Hanif mengungkapkan permintaan itu telah disampaikan melalui surat yang dititipkan kepada salah satu menteri untuk diteruskan kepada Presiden Prabowo.
“Kami sudah sampaikan surat, dititipkan melalui salah satu menteri beliau, dan kita sudah sampaikan ke Presiden tetap kita minta supaya Republik Indonesia menarik diri dari BOP. Bukan karena tidak percaya sama Presiden, bukan, tapi kami tidak percaya Amerika, tidak percaya dengan Israel,” ucapnya.
Sebelumnya, pemerintah Indonesia telah menyatakan komitmennya untuk mengirimkan 8.000 prajurit TNI ke Jalur Gaza melalui misi Pasukan Stabilisasi Internasional atau International Stabilization Force (ISF). Jumlah tersebut menjadi yang terbesar dibandingkan negara lain yang turut terlibat dalam misi tersebut.
Pasukan stabilisasi ini dipimpin oleh Komandan ISF Mayor Jenderal Jasper Jeffers III dari Amerika Serikat. Dalam pertemuan perdana Dewan Perdamaian di Washington D.C. pada 19 Februari 2026, Indonesia juga ditunjuk sebagai wakil komandan atau Deputy Commander ISF.
Prajurit TNI yang akan diberangkatkan berasal dari berbagai satuan, antara lain Korps Zeni TNI Angkatan Darat, batalion kesehatan, batalion mekanis, hingga batalion perbantuan.
Kementerian Luar Negeri RI menegaskan bahwa keterlibatan Indonesia dalam misi tersebut bersifat non-kombatan. Pasukan TNI disebut hanya menggunakan kekuatan senjata secara terbatas untuk kepentingan pertahanan diri serta tidak akan terlibat dalam pelucutan senjata pihak manapun.
Ulama Hanif Alatas kembali menegaskan bahwa TNI yang ditugaskan ke Gaza seharusnya membawa misi membantu perjuangan rakyat Palestina, bukan sebaliknya.
“Kita minta jangan sampai ada tentara Republik Indonesia diutus ke Gaza kemudian berhadapan langsung, konfrontasi dengan para pejuang di Hamas itu kami enggak mau,” kata Hanif usai pertemuan Presiden Prabowo Subianto dengan organisasi masyarakat Islam di Kompleks Istana Kepresidenan Jakarta, Kamis (5/3/2026).
Ia kembali menekankan bahwa FPI akan mendukung pengiriman pasukan apabila bertujuan memperjuangkan kemerdekaan Palestina.
“Nah kalau dikirim ke Gaza buat memerdekakan Palestina, ya kita dukung bahkan kita siap support relawan. Tapi kalau dikirim ke Gaza di bawah komando Amerika lalu melucuti senjata para pejuang di Gaza akhirnya konfrontasi, ini yang kami enggak mau,” kata Hanif.
Sementara itu, Komandan ISF Mayor Jenderal Jasper Jeffers III sebelumnya menyampaikan bahwa Indonesia menjadi salah satu dari lima negara yang telah berkomitmen mengirimkan pasukan dalam misi stabilisasi tersebut.
Di sisi lain, Menteri Luar Negeri RI Sugiono menegaskan bahwa pengiriman prajurit TNI ke Gaza bertujuan untuk melindungi warga sipil Palestina serta mendukung upaya bantuan kemanusiaan di wilayah konflik.
“Kita akan melindungi warga-warga sipil di sana, dan berupaya untuk melakukan langkah-langkah humanitarian assistance (bantuan kemanusiaan) di sana. Jadi, kita bergerak dalam kerangka tersebut di ISF,” kata Sugiono saat ditemui di sela-sela sidang Dewan HAM PBB di Jenewa, Swiss, pada 24 Februari 2026.




