JAKARTA, ALINIANEWS.COM – Presiden Prabowo Subianto memaparkan alasan Indonesia bergabung dengan forum Dewan Perdamaian atau Board of Peace (BoP) serta penandatanganan perjanjian tarif dengan Amerika Serikat dalam pertemuan bersama para ulama dan tokoh organisasi masyarakat Islam di Istana Merdeka, Kamis (5/3/2026).
Penjelasan tersebut disampaikan Presiden saat acara silaturahmi dan buka puasa bersama yang dihadiri sejumlah tokoh nasional serta pimpinan organisasi Islam. Pemerintah menilai forum itu menjadi ruang dialog untuk menjelaskan berbagai kebijakan strategis di tengah dinamika geopolitik global.
Menteri Agraria dan Tata Ruang/Kepala BPN Nusron Wahid mengatakan, Presiden sengaja menjelaskan langsung sejumlah isu yang berkembang di masyarakat, termasuk prasangka bahwa kesepakatan tarif dengan Amerika Serikat tidak menguntungkan Indonesia.

“(Diskusinya Presiden) bagaimana kondisi global, kenapa Indonesia masuk BoP, bagaimana antisipasi dampak perang Iran. Jangan sampai perang Iran berdampak terhadap krisis yang ada di sini, baik itu krisis pangan maupun krisis energi. Kemudian menjelaskan kenapa Indonesia tanda tangan terhadap ART, Agreement Reciprocal Trade dengan Amerika,” kata Nusron.
Menurut Nusron, perjanjian tersebut bertujuan menjaga keseimbangan perdagangan antara kedua negara sekaligus memastikan produk Indonesia tetap kompetitif di pasar Amerika. Ia menjelaskan, sebelumnya produk Indonesia terancam dikenakan tarif hingga 32 persen oleh Amerika Serikat.
“Kalau kita kena tarif tinggi 32 persen, berarti produk-produk Indonesia di Amerika lebih mahal 32 persen. Karena itu supaya produk-produk Indonesia kompetitif di Amerika, itulah menjadi latar belakang kenapa Indonesia menerima ART,” ungkapnya.
Melalui kesepakatan tersebut, tarif resiprokal yang dikenakan Amerika terhadap produk Indonesia turun menjadi 19 persen. Bahkan beberapa komoditas mendapatkan tarif nol persen.
Nusron juga menanggapi kekhawatiran terkait peningkatan impor sejumlah komoditas dari Amerika Serikat setelah perjanjian itu ditandatangani. Menurutnya, komoditas tersebut sebenarnya sudah lama diimpor Indonesia dari negara lain, hanya saja sumbernya kini dialihkan dari Amerika.
“Selama ini impor BBM-nya ngambil dari negara Gabon, Nigeria, kemudian Timur Tengah, dipindahkan ngambil dari Amerika. Kemudian kedelai, selama ini ngambil kedelai dari Brazil sama dari Argentina, dipindahkan ngambil kedelai dari Amerika untuk dalam rangka mengurangi tarif dari Amerika ke Indonesia,” jelas Nusron.
Ia menegaskan kebijakan tersebut dirancang sebagai solusi yang saling menguntungkan bagi kedua negara.
“Semua sudah dijelaskan sama Pak Presiden, yang intinya kebijakan itu adalah win-win solution,” ujarnya.
Dalam pertemuan yang berlangsung hangat tersebut, Presiden Prabowo juga menjelaskan secara langsung alasan keterlibatan Indonesia dalam forum Board of Peace yang berfokus pada upaya perdamaian di kawasan Timur Tengah.
Ketua PP Muhammadiyah Bidang Ekonomi, Bisnis, dan Industri Halal Muhadjir Effendy mengatakan keputusan tersebut tidak diambil secara tiba-tiba, melainkan melalui komunikasi panjang dengan sejumlah pemimpin negara di kawasan.
“Jadi beliau menegaskan bahwa keterlibatan beliau di BoP itu tidak serta-merta, tetapi sudah melalui proses yang panjang, sudah dibicarakan dengan beberapa pimpinan negara yang ada di wilayah, terutama wilayah Teluk, yang kemudian sepakat untuk bergabung,” ujar Muhadjir.
Ia menjelaskan Presiden memilih pendekatan struggle from within, yaitu memperjuangkan kepentingan perdamaian dari dalam forum internasional tersebut.
“Jadi setelah selama ini kita berada di luar, kita sekarang mencoba berjuang dari dalam. Dan insyaallah apa yang akan beliau lakukan nanti adalah tetap berada di dalam koridor konstitusi kita, terutama di dalam pembukaan undang-undang dasar kita, dan kemudian juga tetap berkomitmen kepada tujuan awal, yaitu terciptanya dua negara yang berkoeksistensi damai, yaitu negara merdeka Palestina dan Israel,” jelasnya.
Muhadjir juga menegaskan dukungan Indonesia terhadap kemerdekaan Palestina tetap menjadi prinsip utama dalam diplomasi luar negeri.
“Karena itu, ke depan kita harus terus berupaya apapun resikonya, apapun konsekuensinya, ikhtiar untuk membangun Palestina merdeka itu harus terwujud. Dan itu tercantum di dalam perjanjian 20 poin, di poin 19 dan poin 20 itu tegas bahwa memang tujuan BoP itu adalah terciptanya negara Palestina, berkoeksistensi dengan Israel,” katanya.
Sementara itu, Nusron Wahid menegaskan pemerintah tetap terbuka terhadap berbagai kritik atau pandangan yang muncul di masyarakat terkait kebijakan tersebut. Namun, ia menekankan bahwa jalur diplomasi tetap menjadi pilihan utama Indonesia dalam mendorong perdamaian.
“Tapi kalau ada yang menyarankan seperti itu, pemerintah tidak anti kritik, kita mendengarkan sambil mencermati keadaan, tetapi kita akan membuktikan di lapangan bahwa diplomasi ini jalan terbaik untuk menciptakan perdamaian, bukan dengan jalan peperangan,” ucap Nusron.
Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama Yahya Cholil Staquf menilai keterlibatan Indonesia dalam forum tersebut berpotensi menjadi instrumen untuk mendorong deeskalasi konflik di Timur Tengah, termasuk ketegangan antara Iran, Amerika Serikat, dan Israel.
“Kalau perlu misalnya Indonesia bisa menyatakan bahwa agenda-agenda BoP on hold sampai ada pembicaraan untuk deeskalasi dan perdamaian dari perang Amerika-Israel melawan Iran ini,” katanya.
Menurut Yahya, meskipun forum tersebut masih dalam tahap awal pembicaraan, keterlibatan Indonesia bersama sejumlah negara di kawasan membuka peluang bagi diplomasi perdamaian.
“Semua itu nantinya akan bisa menjadi instrumen untuk menjadikan BoP ini justru wahana mendorong terjadinya deeskalasi dan perdamaian dari perang yang sekarang sedang terjadi terkait dengan Iran,” jelasnya.
Melalui dialog bersama para ulama dan tokoh ormas Islam tersebut, Presiden Prabowo juga menekankan pentingnya menjaga komunikasi serta persatuan nasional dalam menghadapi berbagai dinamika global. Pemerintah berharap dukungan moral dan diplomatik dari para tokoh agama dapat memperkuat peran Indonesia dalam upaya menciptakan perdamaian dunia, khususnya terkait perjuangan kemerdekaan Palestina. (*/Rel)




