JAKARTA, ALINIANEWS.COM – Safari Ramadhan yang dilakukan Ketua Umum Kaesang Pangarep ke sejumlah pondok pesantren di Yogyakarta disebut tidak diisi dengan pembahasan politik. Kunjungan tersebut lebih diarahkan sebagai ajang silaturahmi sekaligus mendengarkan nasihat dari para ulama.
Ketua Harian Partai Solidaritas Indonesia, Ahmad Ali, yang kerap mendampingi Kaesang dalam safari Ramadhan mengatakan pertemuan dengan para kiai berlangsung dalam suasana kekeluargaan.
“Masa kiai dengan politisi bicara politik, kiai dengan politisi itu mendengar nasihat,” ujar Ali, Selasa (10/3/2026).

Menurut Ali, dalam kunjungan tersebut para ulama lebih banyak memberikan pesan moral kepada jajaran PSI, khususnya kepada Kaesang sebagai pemimpin partai yang masih muda.
“Tadi kita bertemu pengasuh utama pondok pesantren menerima langsung diskusi banyak menerima nasihat intinya lebih banyak bersabar, intinya PSI harus lebih banyak menjadi soko guru jadi rumah bisa nyaman untuk semua orang,” ujarnya.
Ia menambahkan, para ulama juga berharap PSI dapat memberi ruang dan perhatian bagi kalangan santri serta masyarakat luas.
“PSI kemudian memfasilitasi kepentingan santri baik itu masyarakat biasa dan lain-lain. kemudian nanti partai ini jadi harapan semua orang menjauhkan politik identitas seperti itu,” lanjut Ali.
Dalam rangkaian safari Ramadhan tersebut, Kaesang bersama jajaran pengurus DPP PSI mengunjungi beberapa pondok pesantren di Daerah Istimewa Yogyakarta. Di antaranya adalah Pondok Pesantren Minggir di Kabupaten Sleman dan Pondok Pesantren Krapyak di Kabupaten Bantul.
Kunjungan ke pesantren bukan kali pertama dilakukan oleh Kaesang dan jajaran PSI dalam beberapa waktu terakhir. Sebelumnya, rombongan PSI juga menyambangi kediaman Rois Syuriah PWNU DKI Jakarta, KH Muhiddin Ishaq, di kawasan Cipete, Jakarta Selatan, pada Jumat (27/2/2026) malam.
Dalam pertemuan tersebut, Kaesang didampingi sejumlah elite PSI lainnya, di antaranya Raja Juli Antoni dan Isyana Bagoes Oka.
Usai bersilaturahmi di kediamannya, Muhiddin Ishaq mengajak rombongan PSI menuju Pondok Pesantren Miftahul Ulum yang berada tidak jauh dari rumahnya.
Di hadapan para santri, Ishaq memperkenalkan Kaesang sebagai tamu istimewa yang datang berkunjung ke pesantren tersebut. Ia bahkan memanggil Kaesang dengan sebutan “gus”.
“Malam ini kita kedatangan tamu yang luar biasa. Seorang ketua umum partai yang masih muda, saya panggilnya tadi Gus. Kenapa? Karena mertua beliau Wakil Ketua Muslimat NU Jakarta,” ujar Ishaq.
Dalam tradisi masyarakat santri di Jawa, panggilan “gus” atau “bagus” lazim digunakan sebagai sapaan bagi putra seorang kiai. Sebutan tersebut mencerminkan kedekatan budaya pesantren dengan sosok yang dihormati di lingkungan keagamaan. (*/Rel)




