Dua Wajah Remaja (Sebuah Pengantar Analisis Remaja diantara Ancaman Digital dan Harapan Menuju Generasi Emas 2045)

IMG 20260702 WA0039

Oleh: Dr. Lismomon Nata, S.Pd., M.Si., CHt (Direktorat Bina Ketahanan Remaja, Kementerian Kependudukan dan Pembangunan Keluarga/BKKBN)

Anak-anakmu bukanlah anak-anakmu.

Iklan

Mereka adalah putra-putri kerinduan Hidup akan dirinya sendiri.

Mereka lahir melalui engkau, tetapi bukan dari engkau.

Mereka ada padamu, tetapi bukanlah milikmu

Kalimat-kalimat di atas merupakan penggalan bait paling populer dari puisi karya sastra Kahlil Gibran yang berjudul “Tentang Anak-Anak” (On Children) dari bukunya yang sangat terkenal, The Prophet. Ya, “Anakmu bukanlah anakmu”. Anak-anak kita bukan lagi hidup di zaman yang sama seperti kita dulu. Mereka hidup di dunia yang berbeda, dengan tantangan yang jauh lebih kompleks.

Buah pemikiran tersebut menggambarkan perubahan sosial yang sangat besar yang dialami pada setiap zaman, demikian juga apabila kita pahami kondisi Indonesia saat ini. Jika dahulu tantangan remaja lebih banyak berkaitan dengan keterbatasan informasi, sulitnya komunikasi, dan akses pendidikan, maka remaja masa kini justru menghadapi persoalan yang berlawanan. Mereka hidup dalam dunia yang nyaris tanpa batas, di mana informasi datang tanpa henti, teknologi berkembang begitu cepat, dan berbagai nilai dari seluruh penjuru dunia hadir di genggaman tangan, seperti air bah.

Inilah realitas yang dihadapi remaja Indonesia, terutama Generasi Z dan Generasi Alpha. Mereka lahir sebagai generasi digital (digital native), generasi yang sejak kecil telah mengenal internet, media sosial, kecerdasan buatan (artificial intelligence), hingga berbagai platform digital yang membentuk cara mereka berpikir, berinteraksi, bahkan memandang kehidupan. Di satu sisi, kondisi tersebut membuka peluang yang luar biasa. Namun di sisi lain, juga menghadirkan tantangan yang belum pernah dihadapi generasi-generasi sebelumnya.

Dalam kajian psikologi perkembangan, masa remaja sering disebut sebagai fase emas sekaligus fase paling rentan dalam kehidupan manusia. Mereka bukan lagi anak-anak, tetapi juga belum sepenuhnya dewasa. Ibarat seseorang yang sedang berdiri di persimpangan jalan, setiap keputusan yang diambil pada fase ini akan sangat menentukan arah kehidupannya di masa depan. Pada masa inilah seseorang mulai bertanya-tanya dan mencari jati diri nya sendiri. Berbagai macam pertanyaan dan rasa penasaran merupakan bagian dari proses pembentukan identitas diri.

Sebagaimana dijelaskan oleh John W. Santrock (2013), perkembangan sosioemosional remaja dipengaruhi oleh dua faktor besar, yakni faktor internal dan faktor eksternal. Dari dalam diri, remaja sedang berusaha membangun konsep diri, memahami identitasnya, menentukan arah masa depan, serta belajar mengelola emosi yang masih sangat dinamis. Dalam proses tersebut, tidak sedikit yang mengalami kebingungan identitas, kecemasan, bahkan konflik batin.

BACA JUGA  Moratorium SPPG Dipersoalkan, BGN Diminta Jangan Langgar Kepastian Hukum dan Hak Investor ( Mitra )

Di sisi lain, faktor lingkungan memiliki pengaruh besar pula. Institusi keluarga, institusi sekolah, teman sebaya, institusi masyarakat, hingga media digital menjadi ruang tempat remaja belajar sekaligus membentuk kepribadiannya.

Berbeda dengan orang tua mereka, Generasi Z dan terlebih lagi Generasi Alpha tumbuh bersama algoritma media sosial. Mereka belajar bukan hanya dari guru atau orang tua, tetapi juga dari bermacam-macam platform digital, gim daring, bahkan kecerdasan buatan. Akibatnya, agen sosialisasi dalam kehidupan remaja mengalami pergeseran. Jika dahulu keluarga merupakan pusat pembentukan nilai dan karakter, kini ruang digital menjadi “guru” baru yang bekerja selama 24 jam tanpa mengenal batas ruang maupun waktu.

Generasi Z dikenal sangat adaptif, kreatif, kritis, cepat belajar, serta terbuka terhadap perubahan. Mereka memiliki keberanian menyampaikan pendapat, lebih peduli terhadap isu lingkungan, kesehatan mental, kesetaraan, dan berbagai persoalan sosial lainnya. Namun, di balik berbagai keunggulan tersebut, mereka juga menyimpan kerentanan psikologis (mental) yang tidak boleh diabaikan.

Budaya media sosial membuat mereka hidup dalam ruang perbandingan tanpa akhir. Jumlah pengikut, tanda suka, komentar, hingga pencapaian orang lain yang terus muncul di layar telepon genggam sering kali menjadi ukuran keberhasilan hidup. Tidak mengherankan apabila banyak remaja mengalami fear of missing out (FOMO), kecemasan, kelelahan digital (digital fatigue), kesepian meskipun selalu terhubung, bahkan overthinking terhadap berbagai hal. Ironisnya, mereka hidup di tengah ribuan teman digital, tetapi tidak sedikit yang merasa kehilangan tempat untuk benar-benar didengar dan merasa mereka ada, sehingga butuh validasi.

Diantara perbedaan mendasar antara masa remaja dahulu dengan sekarang. Dulu, ketika orang tua mengatakan, “jangan berteman dengan anak itu,” ancaman datang dari luar rumah. Pergaulan buruk harus dicari di jalanan, di tempat-tempat tertentu, atau melalui kelompok-kelompok tertentu. Kini kondisinya berubah total. Dunia telah “dilipat”, ungkap Yasraf Amir Piliang. Berbagai bentuk kekerasan, pornografi, perjudian daring, penyalahgunaan narkoba, ujaran kebencian, penipuan digital, hingga berbagai gaya hidup yang tidak sesuai dengan nilai-nilai keluarga dapat masuk langsung ke ruang paling privat dalam rumah, bahkan ke kamar anak, melalui layar telepon pintar.

BACA JUGA  Mengukir Jejak Keilmuan, Mengabdi untuk Bangsa : Prof. Dr. dr. Rima Semiarty, MARS, FISPH, FISCM, SpKKLP, Subsp. COPC Resmi Menyandang Gelar Guru Besar

Remaja tidak perlu lagi keluar rumah untuk menghadapi berbagai pengaruh negatif. Justru pengaruh tersebut yang datang menghampiri mereka melalui algoritma yang bekerja tanpa henti dalam genggaman mereka. Inilah mengapa pola pengasuhan masa lalu tidak bisa lagi diterapkan sepenuhnya pada kondisi saat ini.

Banyak orang tua berkata, “dulu kami dibiarkan mandiri, tanpa diawasi seperti sekarang, tetapi kami tetap berhasil.” Pernyataan tersebut memang tidak sepenuhnya salah. Namun yang sering terlupakan adalah konteks zamannya telah berubah. Tantangan yang dihadapi anak-anak hari ini jauh lebih kompleks dibandingkan satu atau dua dekade yang lalu. Oleh karena itu, pengasuhan juga harus ikut bertransformasi.

Berbagai penelitian menunjukkan bahwa keluarga tetap menjadi faktor pelindung (protective factor) yang paling kuat bagi perkembangan remaja. Papalia, Olds, dan Feldman (2011) menegaskan bahwa kualitas hubungan remaja dengan keluarga, sekolah, teman sebaya, dan masyarakat sangat menentukan arah perkembangan mereka.

Remaja yang tumbuh dalam keluarga penuh kasih sayang, komunikasi yang terbuka, serta teladan yang baik cenderung memiliki ketahanan psikologis yang lebih kuat. Mereka lebih mampu mengendalikan diri, memiliki konsep diri yang positif, serta lebih siap menghadapi tekanan lingkungan. Sebaliknya, ketika rumah kehilangan fungsi sebagai tempat yang aman, remaja akan mencari tempat lain untuk memperoleh penerimaan. Tidak jarang mereka menemukan “keluarga baru” dalam kelompok pergaulan, komunitas digital, atau figur-figur di media sosial yang belum tentu membawa pengaruh positif.

Oleh karena itu, tugas orang tua saat ini tidak hanya mengawasi, melainkan hadir. Hadir untuk mendengar sebelum menghakimi, berdialog sebelum memerintah, memahami sebelum menyalahkan, serta menjadi teladan sebelum memberikan nasihat. Pendampingan emosional menjadi sama pentingnya dengan pemenuhan kebutuhan materi. Setiap hari media sosial menyajikan berbagai berita yang membuat kita menggelengkan kepala. Tawuran antarremaja yang telah “terencana”, penyalahgunaan narkoba, kekerasan seksual, perjudian daring, perundungan (bullying), bunuh diri, hingga berbagai pelanggaran hukum dilakukan oleh anak-anak yang sesungguhnya sedang mencari jati diri.

Sebagai orang dewasa, kita sering kali hanya menjadi penonton, mengomentari, menyalahkan, bahkan mengutuk perilaku mereka. Namun, pernahkah kita bertanya kepada diri sendiri: apakah kita benar-benar telah hadir mendampingi mereka? Apakah kita masih menyediakan waktu untuk berbicara tanpa gangguan telepon genggam? Apakah kita mengetahui siapa teman-teman mereka? Apakah kita memahami dunia digital yang setiap hari mereka masuki? Ataukah kita justru terlalu sibuk dengan pekerjaan, media sosial, dan urusan pribadi sehingga membiarkan mereka tumbuh sendirian di tengah dunia yang semakin rumit? Pertanyaan-pertanyaan tersebut menjadi penting karena remaja bukan sekadar kelompok usia. Mereka adalah cermin masa depan bangsa.

BACA JUGA  Mengukir Jejak Keilmuan, Mengabdi untuk Bangsa : Prof. Dr. dr. Rima Semiarty, MARS, FISPH, FISCM, SpKKLP, Subsp. COPC Resmi Menyandang Gelar Guru Besar

Indonesia sedang menikmati bonus demografi yang akan mencapai puncaknya menjelang 2045. Sebagian besar penduduk produktif saat itu berasal dari Generasi Z dan Generasi Alpha yang saat ini sedang tumbuh sebagai remaja dan anak-anak. Artinya, keberhasilan Indonesia Emas 2045 bukan hanya ditentukan oleh pembangunan infrastruktur, investasi, atau pertumbuhan ekonomi, tetapi juga oleh kualitas karakter generasi mudanya.

Dalam konteks tersebut, kehadiran Kementerian Kependudukan dan Pembangunan Keluarga/BKKBN (Kemendukbangga/BKKBN) menjadi langkah strategis pemerintah dalam memperkuat pembangunan keluarga sebagai fondasi pembangunan manusia. Melalui Direktorat Bina Ketahanan Remaja di bawah Kedeputian Keluarga Sejahtera dan Pemberdayaan Keluarga, pemerintah menegaskan bahwa pembangunan remaja tidak cukup dilakukan melalui pendekatan pendidikan formal semata, tetapi juga melalui penguatan fungsi keluarga, peningkatan kapasitas orang tua, dan penciptaan lingkungan sosial yang sehat.

Langkah ini tentu memerlukan dukungan seluruh elemen bangsa. Pemerintah daerah, sekolah, organisasi kemasyarakatan, tokoh agama, komunitas, media, hingga pemerintah desa dan kelurahan memiliki tanggung jawab yang sama untuk menciptakan ekosistem yang mendukung tumbuh kembang remaja. Pada akhirnya, membangun generasi emas tidak dapat dilakukan secara instan. Ia dimulai dari ruang-ruang sederhana: ruang makan tempat keluarga berbincang, ruang kelas yang memberi inspirasi, lingkungan yang aman untuk berekspresi, serta masyarakat yang memilih membimbing daripada menghakimi.

Remaja memang penuh gejolak. Mereka bisa rapuh, mudah terpengaruh, bahkan terjatuh. Namun mereka juga menyimpan energi, kreativitas, keberanian, empati, dan daya inovasi yang luar biasa. Mereka bukan sekadar harapan masa depan, melainkan kekuatan pembangunan yang sedang tumbuh hari ini. Oleh karena itu, pertanyaan yang sesungguhnya bukanlah apakah remaja kita mampu menjadi generasi emas. Pertanyaan yang jauh lebih penting adalah: sudahkah kita sebagai orang tua, keluarga, sekolah, masyarakat, dan negara benar-benar hadir untuk menemani perjalanan mereka menuju masa depan? Jika jawabannya adalah “sudah”, maka optimisme menuju Indonesia Emas 2045 bukan sekadar slogan, melainkan cita-cita yang dapat diwujudkan bersama.

spot_img

Latest news

- Advertisement -spot_img

Berita Terkait

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses