JAKARTA, ALINIANEWS.COM – China kembali menunjukkan kekuatan militernya di Asia Timur dengan pengerahan besar-besaran armada coast guard dan unsur militer lain dalam beberapa pekan terakhir. Langkah ini memicu kekhawatiran berbagai pihak, terutama Jepang dan Taiwan, yang kini mencermati peningkatan aktivitas Beijing secara intensif.
Laporan intelijen menyebutkan bahwa lebih dari 90 kapal China beroperasi di perairan Asia Timur pada Kamis (4/12) pagi, meski jumlahnya sempat mencapai 100 unit dalam beberapa hari sebelumnya. Kapal-kapal tersebut berpatroli di kawasan yang membentang dari Laut Kuning, Laut China Timur, hingga Laut China Selatan (LCS).
Sejumlah sumber keamanan yang dikutip Reuters menyebut pengerahan ini jauh lebih besar dibandingkan periode yang sama pada tahun lalu dan membuat Taiwan meningkatkan kewaspadaan.

Salah satu sumber mengatakan peningkatan pengerahan kapal China mulai terlihat sejak 14 November, bertepatan dengan protes Beijing terhadap pernyataan Perdana Menteri Jepang Sanae Takaichi.
“Ini jauh melampaui kebutuhan pertahanan nasional China dan menciptakan risiko bagi semua pihak,” ujar seorang pejabat keamanan yang mengetahui situasi tersebut.
Sumber itu juga menyebut langkah China ini berpotensi menjadi uji respons bagi Taiwan, mengingat intensitas dan bentuk pengerahan yang disebut belum pernah terjadi sebelumnya.
Dalam beberapa hari terakhir, China dikabarkan melakukan simulasi serangan terhadap kapal asing di sekitar Selat Taiwan. Jet tempur dan kapal perang digerakkan untuk latihan yang disebut-sebut sebagai bagian dari skenario pemblokiran, termasuk menghadapi kemungkinan intervensi negara asing untuk membantu Taiwan.
Meski demikian, sumber lain menyebut sejumlah negara di kawasan masih menilai latihan China tersebut belum menimbulkan risiko signifikan, meskipun tetap diawasi ketat.
Direktur Jenderal Biro Keamanan Nasional Taiwan, Tsai Ming Yen, mengingatkan bahwa China sedang memasuki periode latihan militer paling aktif dalam setahun.
Ia mengungkapkan bahwa China memiliki empat formasi angkatan laut yang beroperasi di Pasifik pada Rabu pagi. Taiwan, kata Tsai, memantau penuh pergerakan tersebut.
“Jadi, kita harus mengantisipasi musuh seluas mungkin dan terus mencermati setiap perubahan dalam aktivitas terkait,” ujarnya ketika ditanya kemungkinan latihan besar China sebelum akhir tahun.
Sementara itu, Juru Bicara Kepresidenan Taiwan Karen Kuo memastikan bahwa situasi keamanan di pulau tersebut saat ini dalam kondisi aman.
“Taiwan punya pemahaman dan bisa memastikan tak ada kekhawatiran terhadap keamanan nasional,” tegasnya.
Ia menambahkan bahwa pemerintah Taiwan terus berkoordinasi dengan mitra internasional untuk mencegah tindakan sepihak yang dapat mengganggu stabilitas kawasan.
Ketegangan antara China dan Jepang meningkat setelah PM Sanae Takaichi menyatakan bahwa serangan bersenjata ke Taiwan dapat menjadi dasar Jepang mengerahkan pasukan di bawah konsep pertahanan kolektif Tokyo.
China menuntut Takaichi menarik pernyataannya, namun sang perdana menteri menolak. Ketegangan diplomatik kedua negara pun makin meruncing.
Di saat bersamaan, Presiden Taiwan Lai Ching-te menyetujui penambahan US$40 miliar untuk anggaran pertahanan delapan tahun ke depan. Fokus peningkatan diarahkan pada modernisasi sistem pertahanan udara.
China sendiri terus menegaskan bahwa Taiwan adalah bagian dari wilayah kedaulatannya dan tidak menutup kemungkinan menggunakan kekuatan untuk merebut pulau tersebut. (*/Rel)




