spot_img
spot_img

1.376 Anak Sekolah Diduga Keracunan Makan Bergizi Gratis

Siswa di Cianjur dan Bandung, Jawa Barat, terbaring karena diduga keracunan makanan bergizi gratis pada akhir April 2025.(kompas.com) 

JAKARTA, ALINIANEWS.COM — Setidaknya 1.376 anak sekolah diduga menjadi korban keracunan Makan Bergizi Gratis (MBG) di berbagai daerah. Pakar gizi masyarakat menyarankan agar program ini dihentikan sementara sambil menunggu evaluasi menyeluruh terhadap insiden keracunan yang terjadi di berbagai daerah.

Hasil investigasi dinas kesehatan di Bandung, Bogor, dan Tasikmalaya di Jawa Barat serta Kabupaten Penukal Abab Lematang Ilir di Sumatra Selatan menemukan adanya kontaminasi bakteri Salmonella, E.coli, Bacilius cereus, Stapylococcus aereus, Bacillus subtilis, hingga jamur Candidatropicalis.

Iklan

Sejumlah orang tua mengaku trauma dan melarang anak mereka menyantap makanan dari pemerintah itu.

“Saya pikir kalau dapat makan gratis bisa meringankan [beban], tapi ini bukannya meringankan malah [mau] membunuh. Tidak usah lagi makan gratis, daripada keracunan,” tutur Fitri Febrianti, salah satu orang tua di Kabupaten Penukal Abab Lematang Ilir, Sumatra Selatan.

“Kalau ada MBG jangan dikasih dulu, anak saya takut. Saya juga melarang, soalnya jadi trauma. Kasihan kalau anak keracunan,” imbuh Irma Nurliana, orang tua di Kabupaten Tasikmalaya, Jawa Barat.

Sampai laporan ini diterbitkan, Badan Gizi Nasional (BGN) belum menanggapi pertanyaan yang BBC News Indonesia kirimkan sejak Senin (09/06).

Tapi sebelumnya Kepala BGN, Dadan Hindayana, bilang pemerintah akan bertanggung jawab membiayai ongkos pengobatan siswa korban keracunan MBG. Termasuk memberikan kompensasi, meskipun tidak semuanya.

Ada bakteri Bacillus subtilis pada menu MBG di Tasikmalaya

“Anak saya buang air besar terus-terusan dari tengah malam sampai subuh, saya kira sakit perut biasa,” tutur Irma Nurliana cemas.

“Pas pagi-pagi, saya buka grup [WhatsApp] sekolah, ternyata hampir semua anak yang makan MBG sama, pada buang air sama mual.”

Pagi itu, Jumat (02/05), Irma sadar ada yang tak beres dengan sakit Syaina, anaknya. Ia langsung menyuruh bocah tersebut meneguk air kelapa muda sebagai pertolongan pertama.

Tapi, karena putrinya yang duduk di kelas 2 sekolah dasar itu terus merasakan mual, dia memutuskan memboyong Syaina ke puskesmas terdekat.

“Kata dokter puskesmas, ada keracunan [akibat] bakteri. Mual-mual itu karena masih ada sisa bakteri ternyata.

Irma bercerita, sehari sebelumnya anak-anak SDN Rajapolah di Kabupaten Tasikmalaya, Jawa Barat, melahap menu MBG berupa ayam teriyaki, sayur waluh, tahu goreng, jagung, dan buah anggur.

Namun, Irma tak pernah menyangka makanan gratis dari pemerintah itu bermasalah.

Anaknya juga menuturkan kepadanya, beberapa menu MBG yang dibagikan pihak sekolah terkadang rasanya hambar, tetapi selalu dihabiskan sang anak.

“Namanya anak-anak kalau dengar dari ibu guru harus dimakan, ya nurut, dimakan…”

“Untungnya anak saya enggak ada alergi, enggak pilih-pilih makanan. Apa aja dia suka.”

Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Tasikmalaya mencatat setidaknya 400 pelajar, mulai dari TK, SD, Madrasah Ibtidaiyah, dan SMP mengalami keracunan setelah mengonsumsi menu MBG.

Rata-rata dari mereka mengeluh sakit perut, mual, muntah, dan diare.

Sehari setelah kejadian, Dinas Kesehatan setempat melakukan investigasi soal penyebab keracunan.

BACA JUGA  Gus Yahya Nyatakan Perlawanan Usai Syuriyah PBNU Terbitkan Surat Edaran Pemberhentian

Hasil pemeriksaan di UPTD laboratorium Jawa Barat menunjukkan ada kandungan bakteri Bacillus subtilis pada lauk ayam teriyaki.

Hanya saja, Kepala Bidang Pengawasan Fasilitas Pelayanan Kesehatan dan Tempat Usaha di Dinas Kesehatan Kabupaten Tasikmalaya, Epi Edwar Lutpi, tak menjelaskan mengapa bakteri tersebut bisa muncul dalam makanan MBG.

Ia berdalih saat penyajian pihaknya tidak berada di dapur.

“Cuma kalau melihat kulkasnya, cukup [aman]. Tapi kemungkinan ada ketidakcermatan di distribusi dan waktu penyajian,” ungkap Epi.

“Rekomendasi kami, karena masing-masing tahap ada kerawanan, jadi mestinya masaknya bergelombang, distribusinya juga bergelombang, termasuk penyajiannya.”

“Jadi tidak semua [dimasak] dalam waktu bersamaan.”

Epi juga bilang, pasca-keracunan itu operasional Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi atau SPPG—unit layanan yang bertugas menyiapkan dan mendistribuskan MBG—langsung dihentikan selama seminggu sembari dilakukan evaluasi.

Dinkes, sambungnya, tak tahu seluk beluk yayasan yang ditunjuk oleh Badan Gizi Nasional menjadi pengelola SPPG.

Agar insiden itu tak berulang, dia bilang dinkes telah memberikan pelatihan higienitas dan sanitasi ke pekerja dapur MBG.

Sebagai informasi, dinkes mengawasi 26 dapur di Kota Bandung, dari puluhan SPPG, baru 11 yang dilatih.

Tindakan pencegahan lainnya, dinkes bakal menguji sampel makanan MBG minimal satu kali per bulan.

“Kami juga meminta pihak SPPG agar memperhatikan arsip makanan,” ucapnya.

Arsip makanan yang dimaksud Anhar adalah satu set makanan yang disimpan di dalam freezer paling lama 2×24 jam setiap kali memasak.

SPPG bungkam, bagaimana cara kerja mereka?

BBC News Indonesia telah berupaya menghubungi seluruh SPPG yang makanannya diklaim mengandung bakteri dan menyebabkan keracunan.

Tapi, tak ada satupun yang memberikan tanggapan.

Salah satu SPPG di Kota Makassar, Sulawesi Selatan, yakni Yayasan Yasika Centre Indonesia—bukan bagian dari SPPG yang diduga menyebabkan keracunan— membeberkan seperti apa kerja mereka di dapur.

Aditia, ketua yayasan ini bilang, mulai menyediakan MBG pada 6 Januari 2025, yang serentak dilakukan di 26 provinsi.

Dalam sehari, mereka harus menyiapkan 3.300 porsi makanan untuk disantap oleh pelajar di lima sekolah di wilayah Kecamatan Manggala, Makassar.

Di dapurnya, total ada 47 pekerja.

Terdiri dari Kepala Sarjana Penggerak Pembangunan Indonesia (SPPI) yang tugasnya memimpin dan mengoordinasikan penyelenggaraan MBG, ahli gizi, tenaga relawan memasak, mencuci, mengemas, pengemudi, hingga sekuriti.

Untuk menyediakan ribuan porsi makanan, yayasan membagi jam kerja karyawan menjadi beberapa shift.

“Memasak dari jam 12 malam sampai 3 subuh. Kemudian pukul 3 subuh sampai 7 pagi pengemasan. Pendistribusian mulai dari jam 7 pagi hingga pukul 9 pagi,” jelas Aditia.

Demi menjaga higienitas, Aditia mengeklaim menerapkan sistem Hazard Analysis Critical Control Points (HACPP), untuk mengidentifikasi, mengevaluasi, dan mengendalikan bahaya Meski begitu, dia tidak menjelaskan dengan detail bagaimana sistem ini dijalankan.

Sedangkan untuk bahan baku, Aditia mengaku mendapatkan dari pemasok yang bermitra dengan Badan Gizi Nasional (BGN).

Selain itu, dia juga membuka kesempatan bagi warga sekitar yang ingin menjual bahan baku. Hanya saja, karena stok dari warga terbatas, yayasan menyiasati dengan membeli dari beberapa pedagang lain.

BACA JUGA  Prabowo Rehabilitasi Tiga Pejabat ASDP, Pemerintah dan DPR Ungkap Alasan serta Prosesnya

“Kalau telur beli dari warga. Tapi kami komitmen, harga rata-rata, tidak boleh lebih mahal atau lebih murah.”

Hitungannya, dalam sehari anggaran yang dikeluarkan untuk menyediakan 3.300 porsi makanan adalah Rp30 juta.

Dalam kontrak kerja, harga satu porsi makanan tertera Rp15.000.

Tapi, kenyataannya tak begitu, kata Aditia. Angka itu harus dibagi untuk keperluan operasional dan keuntungan bagi SPPG.

Pembagiannya, untuk satu porsi makanan berkisar antara Rp8.000–Rp10.000. Selanjutnya ongkos operasional besarannya Rp3.000 dan sisanya Rp2.000 masuk ke kantong yayasan.

“Jadi Rp2.000 itu menjadi hak yayasan,” katanya.

Ia bercerita sebelum sah menjadi mitra BGN, modal yang harus dikeluarkan untuk membangun dapur dan membeli perlengkapan masak mencapai Rp2 miliar.

Rinciannya Rp1,3 miliar untuk peralatan dapur serta makan, kemudian sisanya menyewa tempat dan membeli bahan baku.

Sebab, kata Aditia, supaya diterima menjadi mitra, dapurnya harus lolos standar BGN. Semisal, luas dapur 20×20 meter persegi yang dilengkapi peralatan memasak dan makanan untuk 3.500 porsi. Lokasi dapur juga mesti dekat dengan sekolah yang disasar.

Lantas, dari mana munculnya kontaminasi tersebut? Dia bilang ada banyak kemungkinan.

Pertama, bisa dari cara memasak yang salah sehingga makanannya tidak matang betul alias masih mentah, seperti yang terjadi Waingapu, NTT.

“Artinya kalau seandainya ada bakteri, bakterinya bisa berkembang juga dari situ.”

Kedua, bisa dari orang atau pekerja di dapur.

Dia mendasarkan dugaannya itu merujuk peristiwa pada abad ke-18 hingga 19, kala penyakit tipes menyebar di Amerika yang dicurigai dibawa oleh seorang juru masak Mary Mallon—yang belakangan diketahui bahwa dia adalah healthy carrier atau pembawa penyakit.

“Kita enggak pernah tahu bagaimana kesehatan orang yang bekerja di dapur, padahal itu penting banget,” jelas dokter Tan.

Apalagi, katanya, ditambah kebiasaan orang Indonesia yang masih enggan menggunakan penutup kepala dan hidung, juga sarung tangan.

Tanpa itu, maka rentan terjadi risiko kontaminasi silang.

Ketiga, bisa dari bahan baku yang tidak segar, plus tak berkualitas baik. Termasuk tempat penyimpanannya.

Untuk daging ayam dan ikan, harus disimpan dalam lemari pendingin dengan suhu konstan.

“Nah, apakah listrik untuk lemari pendinginnya itu konstan? Begitu juga dengan sayur dan sebagainya, harus dengan penyimpanan yang benar.”

Keempat, kebersihan dapur beserta perlengkapannya.

Ia mewanti-wanti agar kebersihan dapur harus dilakukan secara berkala. Begitu juga peralatan seperti pisau, panci, penggorengan, dan sebagainya.

Sebab kalau tidak, lagi-lagi bakal terjadi kontaminasi silang.

Kelima, proses pengemasan sampai pengantaran ke lokasi tujuan.

Hal ini tujuannya agar menjaga suhu makanan tetap di atas 60 derajat, karena suhu antara 5 derajat hingga 60 derajat disebut sebagai “zona bahaya” atau “zona pertumbuhan bakteri”.

Artinya, di kisaran suhu tersebut, bakteri, kuman, dan jamur bisa tumbuh dan berkembang biak.

“Jadi kalau di acara pernikahan misalnya, makanannya kan biasa ada alat pemanas ya, itu tujuannya bukan supaya kalau dimakan jadi enak dan hangat,” imbuhnya.

“Tapi demi mempertahankan agar makanan tersebut harus di atas 60 derajat.”

Terakhir, yang tak kalah penting cara mengonsumsinya, apakah memakai peralatan yang bersih atau mencuci tangan sebelum makan.

BACA JUGA  KPK Lelang 176 Aset Koruptor Senilai Rp 289 M, Rumah Setya Novanto Ikut Dijual

Bagaimana idealnya MBG dilaksanakan?

Dengan segala risiko itu, dokter Tan sebetulnya sedari awal menyarankan agar pemerintah menggandeng pengelola kantin sekolah menyediakan MBG.

Selain lokasinya dekat dengan sekolah, pemerintah hanya perlu mendidik mereka untuk memasak sesuai aturan.

Penyajiannya pun bisa dengan prasmanan, sembari melatih anak sekolah berperilaku tertib, tambahnya.

“Itu yang paling ideal sebetulnya,” katanya.

“Kalau selama ini kantin hanya jualan pentol, seblak, ajari dong mereka bikin bakso ikan.”

“Ajari mereka masak sesuai preferensi anak-anak, jangan dikasih chicken katsu, ayam teriyaki, dari namanya aja asing.”

Ia juga menyarankan supaya mengajak orang tua siswa, dinas kesehatan, dinas pendidikan, dan puskesmas untuk menampung masukan soal menu dan memantau jalannya program ini jika terjadi hal-hal yang tak diinginkan, seperti keracunan.

Tapi terlepas dari itu semua, yang utama menurut dokter Tan, harus tepat sasaran. Karena baginya, tidak harus semua anak-anak mendapatkan makanan gratis bergizi ala pemerintah.

Prioritas MBG, kata dia, seharusnya ditujukan kepada anak-anak di daerah 3T: terdepan, terluar, dan tertinggal.

Sebab bagaimanapun mereka yang lebih membutuhkan makan bergizi, ketimbang anak-anak perkotaan yang bersekolah mewah.

“Jangan sampai uangnya sudah dihamburkan sekian triliun, hanya dihabiskan untuk orang-orang di perkotaan, yang sebetulnya kurang urgen.”

Apakah MBG masih layak dipertahankan?

Lebih dari seribu kasus keracunan MBG, pakar gizi masyarakat ini menyarankan agar pelaksanaan MBG dihentikan seluruhnya untuk sementara waktu sambil melakukan evaluasi atas rentetan kasus dugaan keracunan di berbagai daerah.

Tanpa itu, dia hakul yakin, keracunan dari makanan gratis ini akan berulang terus menerus.

Dan, menurutnya, capaian angka berapa banyak anak yang sudah menerima MBG bukan satu-satunya tolok ukur keberhasilan mega proyek tersebut.

Namun, bagaimana respons anak-anak menyambut makan gratis ini, serta kesehatan mereka.

“Kayaknya kita harus malu kalau memberikan anak-anak makanan yang justru merugikan kesehatan mereka,” ucap dokter Tan.

“Jadi buat saya, cepat itu bagus, tapi lebih baik, caranya benar terlebih dahulu. Jangan sampai MBG ini ditolak.”

Presiden Prabowo sebut keberhasilan MBG 99%

Badan Gizi Nasional (BGN) sebelumnya membuat klaim hingga April 2025 setidaknya sudah 3,3 juta anak sekolah di Indonesia tersentuh proyek MBG.

Pada Agustus nanti jumlah penerimanya ditargetkan mencapai 6 juta.

Presiden Prabowo Subianto bahkan menyebut keberhasilan program prioritasnya ini mencapai 99,99% meski terdapat kasus keracunan di berbagai daerah.

Prabowo berdalih, korban keracunan akibat MBG hanya 200 orang atau lebih kecil dibandingkan angka penerima makan gratis.

“Hari ini memang ada yang keracunan, yang keracunan sampai hari ini dari tiga sekian juta, kalau tidak salah di bawah 200 orang [keracunan], yang rawat inap hanya lima orang,” kata Prabowo dalam Sidang Kabinet Paripurna di Istana Kepresidenan, awal Mei lalu.

“Jadi bisa dikatakan yang keracunan atau yang perutnya enggak enak sejumlah 200 orang dari tiga juta, kalau tidak salah 0,005%. Berarti keberhasilannya adalah 99,99%.” (BBC/NAL)

spot_img

Latest news

- Advertisement -spot_img

Berita Terkait

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses