MENYUSURI JEJAK SEJARAH DI SUNGAI MELAKA, MENIKMATI SORE YANG MEMIKAT HATI
Oleh : Drs. H. Marlis, MM, C.Med ( CEO ALINIA GROUP )
Melaka, 19 Juni 2036 – Jika berkunjung ke Kota Melaka, Malaysia, rasanya belum lengkap tanpa menikmati salah satu ikon wisata terbaiknya, yaitu Melaka River Cruise atau wisata menyusuri Sungai Melaka dengan kapal wisata yang nyaman dan modern.

Sore itu, saya bersama Istri memilih menaiki sebuah boat wisata berkapasitas sekitar 10 orang, dengan harga tiket RM 32 per orang. Perlahan kapal meninggalkan dermaga, membelah tenangnya aliran Sungai Melaka yang sejak ratusan tahun lalu menjadi urat nadi perdagangan dan peradaban di kawasan Asia Tenggara.
Perjalanan ini bukan sekadar wisata sungai biasa. Setiap meter sungai menyimpan kisah sejarah yang begitu panjang. Di sepanjang tepian sungai berdiri bangunan-bangunan tua peninggalan masa kolonial Portugis, Belanda, hingga Inggris yang masih terawat dengan baik. Dinding-dinding bangunan dihiasi mural warna-warni yang artistik, menjadikan setiap sudut sungai layak diabadikan dalam foto.
Yang menarik, Sungai Melaka dahulu merupakan jalur perdagangan utama yang menghubungkan para pedagang dari Tiongkok, India, Timur Tengah, hingga Nusantara. Dari sungai inilah Melaka tumbuh menjadi salah satu pelabuhan tersibuk di dunia pada abad ke-15.
Selain memiliki nilai sejarah yang tinggi, Sungai Melaka juga menjadi contoh bagaimana sebuah sungai dapat dikelola secara profesional dan berkelanjutan. Menurut informasi yang kami peroleh, untuk menjaga kualitas dan kebersihan air sungai, Pemerintah atau Kerajaan Negeri Melaka secara rutin melakukan pengelolaan aliran air pada malam hari. Sekitar pukul 01.00 hingga 04.00 dini hari, air sungai dialirkan keluar dan digantikan dengan air laut yang baru melalui sistem pintu air yang telah dirancang sedemikian rupa.
Sistem ini menjadi salah satu faktor yang membuat air Sungai Melaka tetap terjaga, tidak menimbulkan bau, dan nyaman dinikmati oleh wisatawan sepanjang tahun. Sebuah bentuk komitmen yang menunjukkan bahwa pengembangan pariwisata harus berjalan seiring dengan pengelolaan lingkungan yang baik.
Selama pelayaran, wisatawan juga dapat melihat berbagai jembatan unik dengan desain berbeda-beda, taman kota yang tertata rapi, hotel-hotel klasik, hingga rumah-rumah tua yang telah disulap menjadi pusat seni dan budaya. Pada malam hari, kawasan ini bahkan berubah menjadi lautan cahaya yang sangat romantis dan mempesona.
Tak heran jika Melaka River Cruise menjadi salah satu destinasi favorit wisatawan domestik maupun mancanegara. Perpaduan antara sejarah, budaya, tata kota yang baik, serta kebersihan lingkungan menjadikan pengalaman menyusuri sungai ini begitu berkesan.
Setelah perjalanan menyenangkan tersebut berakhir, kami memilih beristirahat sambil menikmati suasana sore di salah satu cafe yang berjajar rapi di sepanjang tepian Sungai Melaka. Duduk santai menikmati secangkir kopi hangat sembari memandangi kapal-kapal wisata yang lalu lalang memberikan sensasi ketenangan yang sulit digambarkan dengan kata-kata.
Angin sore berhembus lembut, suara percakapan wisatawan terdengar samar, sementara cahaya matahari yang mulai tenggelam memantulkan warna keemasan di permukaan sungai. Sebuah suasana yang sederhana, namun mampu menghadirkan kebahagiaan yang luar biasa.
Di tengah suasana itulah, pikiran saya melayang jauh ke Kota Padang, kota yang saya cintai.
Saya membayangkan, alangkah indahnya apabila suatu saat Kota Padang memiliki kawasan wisata sungai yang tertata baik seperti Sungai Melaka. Sungai-sungai yang ada tidak lagi dipandang sebagai saluran air semata, melainkan sebagai aset wisata, budaya, ekonomi, dan ruang publik yang mampu menghidupkan kota.
Bayangkan jika tepian sungai ditata dengan baik, dilengkapi jalur pedestrian yang nyaman, taman kota yang asri, mural bertema budaya Minangkabau, cafe-cafe lokal yang hidup, pusat UMKM, panggung seni rakyat, serta boat wisata yang membawa pengunjung menikmati wajah Kota Padang dari perspektif yang berbeda. Tentu hal ini akan menjadi magnet wisata baru yang mampu menarik wisatawan sekaligus menggerakkan ekonomi masyarakat.
Melaka telah membuktikan bahwa sungai yang dulunya hanya berfungsi sebagai jalur air biasa dapat disulap menjadi destinasi wisata kelas dunia yang bersih, indah, dan produktif. Dengan kreativitas, kemauan politik, serta dukungan masyarakat, saya yakin Kota Padang juga memiliki potensi yang sama.
Karena sesungguhnya, kota yang maju bukan hanya ditandai oleh gedung-gedung tinggi dan jalan-jalan lebar, tetapi juga oleh kemampuannya mengelola aset alam dan budayanya menjadi sumber kebanggaan bersama.
Dan sore itu, di tepian Sungai Melaka, saya bukan hanya menikmati sebuah perjalanan wisata, tetapi juga membawa pulang sebuah inspirasi dan mimpi besar: suatu hari nanti, semoga Kota Padang memiliki wisata sungai yang indah, bersih, hidup, dan menjadi kebanggaan masyarakat Sumatera Barat. (*/ Marlis – CEO ALINIA GROUP )



