OLEH: Dr. Lismomon Nata, S.Pd., M.Si.(Direktorat Bina Ketahanan Remaja, Kementerian Kependudukan dan Pembangunan Keluarga/BKKBN)
AYAH mengantar anak pada hari pertama masuk sekolah kini mulai semakin sering terlihat. Namun, bagaimana dengan ayah yang datang ke sekolah untuk mengambil rapor anaknya? Mungkin belum banyak atau lazim bukan? Selama ini, urusan pendidikan anak di sekolah masih sering dipersepsikan sebagai wilayah ibu. Mulai dari menghadiri rapat orang tua murid, berkomunikasi dengan wali kelas, mendampingi tugas sekolah, hingga mengambil rapor bahkan apabila ada anak yang bermasalah di sekolah, sebagian besar dilakukan oleh ibu. Sementara itu, ayah lebih banyak berkonsentrasi pada pekerjaan dan aktivitas di luar rumah sebagai pencari nafkah keluarga. Akibatnya, tidak banyak ayah yang mengetahui kondisi anak dalam proses Pendidikan yang dilalui oleh anaknya. Mungkin hanya dari cerita singkat di rumah atau sekadar melihat angka-angka yang tertera pada rapor.
Padahal, pendidikan anak pada hakekatnya tentu merupakan tanggung jawab bersama. Kehadiran ayah dalam proses pendidikan memiliki pengaruh yang sangat signifikan terhadap perkembangan anak. Berbagai penelitian menunjukkan bahwa keterlibatan ayah berkontribusi terhadap peningkatan prestasi akademik, kepercayaan diri, kesehatan mental, kemampuan sosial, hingga pengendalian perilaku anak dan remaja.

Oleh karena itu, Kementerian Kependudukan dan Pembangunan Keluarga/BKKBN, untuk tahun kedua ini telah mendorong Gerakan Ayah Mengambil Rapor (GEMAR) anak ke Sekolah. Harapannya gerakan ini tidak hanya sebagai aktivitas seremonial semata. Lebih dari itu, merupakan sebuah upaya dan sekaligus simbol keterlibatan ayah dalam kehidupan anak. Rapor tidak hanya berisi nilai pelajaran, tetapi juga menggambarkan proses tumbuh dan kembang seorang anak selama di institusi pendidikan. Di dalamnya terdapat informasi tentang kedisiplinan, kehadiran, perilaku, kemampuan berinteraksi, hingga berbagai potensi dan tantangan yang sedang dihadapi anak, baik dalam pelajaran maupun lingkungan sekolah, bersosialisasi dengan teman-teman.
Ketika ayah hadir langsung mengambil rapor, ayah sedang membuka ruang untuk memahami dunia anak yang selama ini mungkin tidak sepenuhnya terlihat. Ayah dapat mengetahui mata pelajaran apa yang menjadi kekuatan anak, bidang mana yang masih memerlukan pendampingan, bagaimana hubungan anak dengan teman-temannya, hingga berbagai persoalan yang mungkin sedang mereka hadapi di lingkungan sekolah.
Tidak jarang seorang anak terlihat baik-baik saja di rumah, tetapi ternyata mengalami kesulitan belajar, menjadi korban perundungan, mengalami tekanan sosial, atau menghadapi masalah psikologis yang tidak pernah disampaikan kepada orang tuanya. Informasi-informasi seperti ini sering kali hanya diketahui oleh guru atau teman-teman melalui pengamatan sehari-hari selama di sekolah. Oleh karena itu, kehadiran ayah dalam pengambilan rapor menjadi kesempatan penting untuk memperoleh gambaran yang lebih utuh mengenai perkembangan anak.
Di era digital saat ini, kebutuhan akan keterlibatan ayah menjadi semakin penting. Anak-anak dan remaja menghadapi tantangan yang jauh lebih kompleks dibandingkan generasi sebelumnya. Mereka hidup dalam lingkungan yang dipenuhi media sosial, tekanan pergaulan, risiko cyberbullying, kecanduan gawai, hingga persoalan kesehatan mental yang semakin meningkat. Dalam situasi seperti ini, anak membutuhkan figur ayah yang tidak hanya hadir secara fisik, tetapi juga hadir secara emosional.
Sayangnya, kehadiran ayah sering kali terhambat oleh kesibukan pekerjaan. Banyak ayah berangkat sebelum anak bangun dan pulang ketika anak sudah beristirahat. Interaksi yang terjadi hanya sebatas rutinitas singkat tanpa komunikasi yang mendalam. Akibatnya, hubungan ayah dan anak menjadi kurang dekat, terutama ketika anak memasuki masa remaja yang membutuhkan figur pendamping dan sahabat dalam menghadapi berbagai perubahan kehidupan.
Gerakan ini menjadi salah satu momentum yang mungkin terlihat sederhana namun dirasakan bermakna untuk memperkuat kembali hubungan tersebut. Kehadiran ayah memberikan pesan psikologis yang kuat kepada anak bahwa pendidikan mereka penting, perkembangan mereka diperhatikan, dan keberhasilan maupun kesulitan yang mereka alami merupakan bagian dari perhatian keluarga.
Namun demikian, keberhasilan gerakan ini tidak hanya bergantung pada kemauan ayah untuk hadir. Sekolah juga memiliki peran yang sangat penting bahkan kebijakan pemerintahan daerah. Kehadiran ayah di sekolah seharusnya tidak berhenti pada penyerahan rapor secara administratif saja. Akan tetapi perlu dimanfaatkan sebagai ruang dialog yang konstruktif antara sekolah dan ayah (keluarga).
Guru, khususnya wali kelas, perlu memberikan kesempatan kepada ayah untuk mendapatkan penjelasan secara berimbang dan berdiskusi mengenai perkembangan anak secara menyeluruh. Tidak hanya menjelaskan nilai akademik, tetapi juga memberikan gambaran tentang karakter, minat, bakat, perilaku sosial, kondisi emosional, hingga potensi yang dapat dikembangkan. Dialog semacam ini akan membantu ayah memahami kebutuhan anak secara lebih komprehensif. Meskipun tantangannya akan membutuhkan waktu lebih lama dan mungkin saja sedikit “membosankan”.
Di sisi lain, sekolah juga dapat memperoleh manfaat besar dari keterlibatan ayah. Komunikasi yang baik antara sekolah dan keluarga akan menciptakan lingkungan pendidikan yang lebih kondusif. Berbagai persoalan yang dihadapi anak dapat diidentifikasi lebih dini dan ditangani secara bersama-sama antara guru dan orang tua, terkhusus ayah yang tentu saja memiliki pengaruh yang besar dalam keluarganya.
Dalam perspektif pembangunan keluarga, keterlibatan ayah merupakan bagian penting dari penguatan fungsi keluarga, khususnya fungsi cinta kasih, perlindungan, sosialisasi dan pendidikan, serta fungsi pembinaan lingkungan. Kehadiran ayah tidak dimaksudkan untuk menggantikan peran ibu, melainkan menciptakan keseimbangan dalam pengasuhan dan pendampingan karena anak membutuhkan kedua orang tuanya. Mereka membutuhkan kehangatan dan perhatian ibu sekaligus keteladanan, dukungan, dan keterlibatan aktif dari ayah.
Oleh karena itu, ayah mengambil rapor anak ke sekolah sesungguhnya bukan tentang siapa yang membawa pulang lembar hasil belajar. Jauh lebih penting adalah pesan yang disampaikan kepada anak bahwa ayah hadir dan peduli dalam perjalanan hidup mereka. Ayah ingin mengetahui proses belajar mereka, memahami tantangan yang dihadapi, serta menjadi bagian dari setiap langkah pertumbuh dan kembang mereka.
Pada akhirnya, membangun generasi yang berkualitas tidak saja membutuhkan institusi sekolah yang baik, tetapi juga peran seluru anggota keluarga yang terlibat, terkhusus ayah. Walaupun terkadang, perubahan besar dapat dimulai dari cara yang mungkin saja dianggap sederhana, seperti seorang ayah meluangkan waktu untuk datang ke sekolah, duduk bersama wali kelas, mendengarkan cerita tentang anaknya, lalu pulang membawa bukan hanya rapor, tetapi juga pemahaman yang lebih dalam tentang masa depan buah hatinya karena bagi seorang anak, kehadiran ayah bukan sekadar datang, melainkan bukti bahwa ia dicintai, diperhatikan, dan tidak pernah berjalan sendirian dalam proses tumbuh kembangnya. Bagaimana bila tidak lagi “memiliki” ayah? Tentu tidak dipaksakan, seperti juga halnya dapat diwakilkan oleh orang terdekat atau memang diambil oleh ibunya pula.




