KANAI PAKUOK

KANAI PAKUOK

Oleh: Drs. H. Marlis, MM, C.Med

Siang itu, Senin, 15 Juni 2026. Dalam perjalanan dari Painan menuju Padang, saya bersama istri, anak, dan sopir melintas di kawasan Nagari Sungai Pisang. Karena sedang musim durian, sepanjang jalan terlihat pemandangan yang sangat menggoda iman. Tumpukan durian berjejer di pinggir jalan seperti sedang mengadakan pameran nasional buah berduri. Sebagai manusia biasa yang kadar keimanannya terhadap durian masih naik turun, saya akhirnya menyerah.

Iklan

 

Mobil berhenti. Kami turun.

Dan tanpa melakukan riset pasar, survei harga, studi kelayakan, ataupun konsultasi dengan Badan Pusat Statistik, saya langsung duduk di sebuah bangku kayu tua dan berkata kepada penjual:

“Bu, bukakan tiga buah yang sedang saja.”

Kesalahan fatal pertama pun dimulai.

Tak lama kemudian, tiga buah durian dibuka. Isinya cukup bagus. Kami berempat makan dengan lahap dan penuh kebahagiaan.

Anak senang, Istri senang, Sopir senang, Saya juga senang.

Setidaknya sampai tagihan datang.

Dengan wajah tenang, datar, dan tanpa rasa bersalah sedikit pun, sang ibu penjual berkata:

“Dua ratus sepuluh ribu ya Pak…”

Saya terdiam, Istri terdiam, Sopir ikut terdiam, Bahkan biji durian di meja pun rasanya ikut terdiam. Dalam beberapa detik, saya mencoba menghitung kemungkinan-kemungkinan yang terjadi.

Apakah kami tadi makan tiga durian?

Atau sebenarnya tiga hektar kebun durian?

BACA JUGA  Kembali Raih WTP, Kini Padang Bidik 10 Besar Smart City

Apakah durian itu impor dari Malaysia?

Atau mungkin durian tersebut pernah sekolah di luar negeri?

Karena seumur hidup saya, baru kali itu melihat durian ukuran sedang dihargai Rp70.000 per buah.

Secara spontan saya protes.

“Bu, kok mahal sekali?”

Lalu saya membandingkan dengan harga durian di Ganting Padang yang rata-rata hanya sekitar Rp30.000 per buah.

Mendengar keberatan saya, sang ibu tersenyum. Dan di sinilah saya menyaksikan keajaiban ekonomi rakyat yang tidak pernah diajarkan di bangku kuliah.

Tanpa kalkulator, Tanpa rapat direksi, Tanpa persetujuan komisaris, Harga langsung turun.

Dari Rp210.000 menjadi Rp150.000.

Turun Rp60.000 hanya dalam waktu beberapa detik. Saya langsung kagum. Kalau kemampuan seperti ini dimiliki pemerintah, mungkin inflasi bisa selesai dalam seminggu.

Dalam budaya Minang, kejadian seperti ini memiliki istilah yang sangat populer:

KANAI PAKUOK

Bagi yang belum familiar, “Pakuok” adalah seni mematok harga setinggi mungkin kepada orang yang kebetulan lewat dan terlihat tidak sempat melakukan survei.

Sedangkan “Kanai Pakuok” adalah kondisi ketika seseorang menyadari harga yang dibayarnya ternyata jauh lebih mahal dibanding harga normal, tetapi nasi sudah menjadi bubur dan durian sudah menjadi kulit.

Ilmu ini biasanya berkembang pesat pada musim-musim tertentu.

Musim durian, Musim liburan, Musim lebaran, Musim wisata, Dan musim ketika wajah pembeli terlihat terlalu polos.

35944

Yang menarik, fenomena “Main Pakuok” sesungguhnya bukan sekadar soal durian. Ini adalah kritik sosial tentang cara sebagian kecil pedagang memandang pembeli.

BACA JUGA  39 Daerah Tak Mampu Bayar Gaji PPPK, Menkeu Purbaya: Akan Dibahas dengan Kemendagri

Logikanya sederhana:

“Orang ini paling cuma lewat sekali.”

“Besok belum tentu ketemu lagi.”

“Gas saja…”

Padahal yang sering dilupakan adalah bahwa dalam dunia modern, pengalaman buruk jauh lebih cepat menyebar dibandingkan promosi.

Orang yang puas mungkin bercerita kepada dua atau tiga orang.

Tetapi orang yang merasa Kanai Pakuok bisa menulis status, membuat video, mengirim ke grup WhatsApp keluarga, alumni sekolah, alumni kuliah, grup koperasi, grup MBG, grup relawan, sampai grup yang anggotanya tidak dikenal sama sekali.

Dalam hitungan jam, cerita sudah berkeliling Sumatera Barat.

Yang lebih lucu lagi, saya sebenarnya tidak terlalu keberatan membayar mahal jika sejak awal diberitahu.

Kalau dari awal ibu itu berkata:

“Pak, durian ini Rp70.000 per buah.”

Mungkin saya akan memilih satu, atau dua, atau bahkan batal sama sekali.

Tetapi setidaknya saya punya hak untuk mengambil keputusan.

Karena yang sering membuat orang kesal bukan harga mahalnya. Melainkan rasa “dikerjai”-nya.

Mungkin masing-masing sedang merenungkan nasib. Saya sendiri sedang menghitung-hitung. Kalau diskon bisa mencapai Rp60.000 dalam waktu lima detik, sebenarnya harga asli durian itu berapa?

Pertanyaan itu sampai hari ini belum terjawab.

Namun saya tetap bersyukur.

Hari itu saya mendapatkan dua hal sekaligus.

Pertama, makan durian.

Kedua, mendapatkan pelajaran sosial yang sangat berharga.

Bahwa transparansi harga bukan hanya soal uang. Tetapi juga soal kejujuran, kepercayaan, dan citra sebuah daerah wisata.

BACA JUGA  Mitra MBG Sumatera Barat Sampaikan Tujuh Rekomendasi Strategis untuk Menjaga Keberlanjutan Program MBG

Karena wisatawan datang bukan hanya untuk menikmati alam dan kuliner. Mereka juga ingin merasakan keramahan dan keadilan.

Dan percayalah…

Durian yang manis akan selalu dikenang.

Tetapi harga yang terasa “Main Pakuok” biasanya lebih lama tersimpan dalam ingatan. Maka kepada para pedagang musiman di mana pun berada, izinkan saya menyampaikan pesan sederhana:

“Jangan sampai wisatawan datang membawa uang, tetapi pulang membawa trauma.”

Karena dalam dunia pariwisata, pelanggan yang puas akan kembali. Sedangkan pelanggan yang Kanai Pakuok biasanya kembali… hanya untuk bercerita. (*/ Marlis )

spot_img

Latest news

- Advertisement -spot_img

Berita Terkait

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses