JAKARTA, ALINIANEWS.COM – Pemimpin Korea Utara, Kim Jong Un, kembali mengirim sinyal keras kepada dunia internasional. Di tengah meningkatnya ketegangan geopolitik global, Kim bertekad memperbesar kekuatan nuklir negaranya dan mengumumkan peningkatan kapasitas produksi bahan baku senjata nuklir secara signifikan.
Pernyataan itu disampaikan setelah Kim mengunjungi sebuah fasilitas produksi material nuklir yang baru diresmikan, sebagaimana dilaporkan media pemerintah Korea Utara, KCNA, pada Rabu (3/6/2026).
Dalam kunjungan tersebut, Kim menegaskan ambisinya untuk mempercepat penguatan kemampuan nuklir Korea Utara.

KCNA melaporkan Kim menekankan pentingnya “rencana masa depan yang ambisius yang dirancang untuk meningkatkan kekuatan nuklir negara kita dengan laju eksponensial.”
Saat meninjau fasilitas tersebut, Kim juga mengklaim kapasitas produksi bahan nuklir untuk kepentingan militer mengalami lonjakan signifikan dalam beberapa tahun terakhir.
“Kapasitas produksi material nuklir kelas senjata meningkat lebih dari dua kali lipat selama 5 tahun terakhir,” kata Kim seperti dikutip KCNA.
Meski pemerintah Korea Utara tidak mengungkap lokasi fasilitas tersebut, sejumlah analis internasional meyakini lokasi itu kemungkinan merupakan pabrik pengayaan uranium baru di kawasan Yongbyon, kompleks nuklir utama negara tersebut.
Laporan KCNA menyebut fasilitas itu menggunakan teknologi yang lebih maju dibandingkan fasilitas sebelumnya. Foto-foto yang dirilis media pemerintah juga memperlihatkan ruangan berisi deretan sentrifus yang diduga digunakan untuk memperkaya uranium hingga mencapai tingkat yang dapat digunakan sebagai bahan senjata nuklir.
Dalam pernyataannya, Kim menilai penguatan persenjataan nuklir menjadi kebutuhan mendesak untuk menghadapi ancaman eksternal yang menurutnya terus meningkat.
Ia menyebut Korea Utara sedang berhadapan dengan “musuh yang paling ganas”, sehingga kemampuan nuklir harus terus diperkuat sebagai alat penangkal perang.
Setelah bertemu sejumlah pejabat tinggi di fasilitas tersebut, Kim kembali menegaskan arah kebijakan pertahanan negaranya.
Ia mengatakan telah “menegaskan urutan prioritas terkait pelaksanaan rencana ambisius jangka panjang yang dirancang untuk memperkuat kekuatan nuklir negara secara besar-besaran.”
Pernyataan tersebut sejalan dengan strategi Pyongyang yang dalam beberapa tahun terakhir terus mempercepat pengembangan program nuklir dan rudal balistik meski menghadapi berbagai sanksi internasional.
Korea Utara diketahui telah menarik diri dari Perjanjian Non-Proliferasi Nuklir (NPT) pada 1993 dan sejak saat itu telah melakukan enam kali uji coba nuklir. Sejumlah lembaga internasional memperkirakan negara tersebut kini memiliki puluhan hulu ledak nuklir.
Sepanjang tahun 2026, Korea Utara juga tercatat telah melakukan sedikitnya delapan uji coba rudal. Sejumlah analis menilai langkah itu merupakan upaya Pyongyang memperkuat posisi tawarnya di tengah perubahan dinamika keamanan global.
Dorongan untuk memperkuat arsenal nuklir semakin menguat setelah konflik yang melibatkan Amerika Serikat dan Iran beberapa waktu lalu. Pada Maret lalu, Kim bahkan menuduh Washington melakukan “terorisme dan agresi global.”
Sementara itu, Direktur Jenderal Badan Energi Atom Internasional (IAEA), Rafael Grossi, pada April lalu mengungkap pihaknya mendeteksi adanya peningkatan aktivitas yang signifikan di fasilitas-fasilitas nuklir Korea Utara.
“Kami telah mengonfirmasi adanya peningkatan aktivitas yang cepat,” kata Grossi kepada wartawan.
Meski terus mendapat tekanan internasional, Korea Utara menegaskan program nuklirnya merupakan bagian dari strategi pertahanan negara yang tidak dapat ditawar. Pyongyang juga berulang kali menyatakan statusnya sebagai negara bersenjata nuklir bersifat permanen dan tidak dapat diubah. (*/Rel)




