Kampus atau Pabrik Pengangguran? Saatnya Program Studi Tak Relevan “Diamputasi”

Kampus atau Pabrik Pengangguran? Saatnya Program Studi Tak Relevan “Diamputasi”

Oleh : Drs. H. Marlis, MM, C.Med

Dunia sedang berubah sangat cepat. Artificial Intelligence (AI), robotika, otomasi, dan digital intelligence bukan lagi sekadar teknologi masa depan, tetapi telah menjadi kekuatan besar yang mulai mengubah cara manusia bekerja, belajar, bahkan bertahan hidup.

Iklan

Namun ironisnya, banyak Perguruan Tinggi (PT) di Indonesia justru masih berjalan dengan pola lama. Kurikulum lambat berubah, metode pembelajaran masih dominan teoritis, dan yang paling mengkhawatirkan, masih banyak program studi yang seolah hidup di masa lalu.

Pertanyaannya sederhana namun sangat keras: Apakah kampus hari ini masih menjadi pusat pencetak masa depan, atau justru mulai berubah menjadi pabrik pengangguran intelektual?

Ini bukan tuduhan emosional, tetapi realita yang mulai terlihat di depan mata.

Setiap tahun ribuan bahkan jutaan sarjana dilahirkan. Namun pada saat yang sama, lapangan kerja semakin menyempit akibat perkembangan teknologi dan AI yang bergerak sangat agresif. Banyak pekerjaan administratif, analisis dasar, hingga pekerjaan teknis mulai digantikan oleh sistem digital dan kecerdasan buatan.

Sementara itu banyak program studi di Perguruan Tinggi masih sibuk mengajarkan pola lama yang perlahan sudah kehilangan relevansi dengan kebutuhan industri dan arah ekonomi masa depan.

Akibatnya sangat jelas: banyak lulusan akhirnya bekerja tidak sesuai bidang, menjadi pengangguran terselubung, atau hidup dalam tekanan karena ijazah yang dimiliki ternyata tidak mampu menjawab kebutuhan zaman.

BACA JUGA  Pemerintah Kucurkan Rp100 Triliun untuk Pulihkan Sumatra

Lebih menyedihkan lagi, banyak keluarga harus menghabiskan biaya besar demi pendidikan tinggi anak-anaknya, tetapi setelah lulus justru menghadapi kenyataan pahit: sarjana tanpa kompetensi masa depan.

Padahal dunia saat ini tidak lagi hanya membutuhkan lulusan yang pintar menghafal teori atau sekadar mengejar nilai akademik.

Dunia membutuhkan manusia yang mampu:

berpikir strategis, menguasai teknologi, menyelesaikan masalah nyata, beradaptasi cepat, mampu berwirausaha, dan sanggup bekerja lintas disiplin ilmu.

AI hari ini bahkan sudah mampu membuat laporan, menulis artikel, menganalisis data, membuat desain, hingga menggantikan banyak pekerjaan rutin manusia.

Kalau kondisi ini terus berkembang, maka pertanyaan besarnya adalah: masihkah seluruh program studi yang ada saat ini layak dipertahankan?

Sudah saatnya pemerintah dan Perguruan Tinggi melakukan evaluasi total secara jujur dan berani.

Program studi yang sudah tidak relevan dengan kebutuhan masa depan harus direstrukturisasi, digabungkan, bahkan bila perlu “diamputasi” secara bertahap agar tidak terus merugikan masyarakat.

Karena mempertahankan jurusan yang tidak lagi memiliki prospek jelas sama saja dengan membiarkan generasi muda masuk ke lorong gelap masa depan.

Kampus tidak boleh hanya sibuk mengejar jumlah mahasiswa, akreditasi administratif, atau bisnis pendidikan semata, tetapi harus benar-benar bertanggung jawab terhadap masa depan lulusannya.

Sebaliknya, Perguruan Tinggi harus mulai memperkuat bidang-bidang strategis masa depan seperti: Artificial Intelligence, Robotics, Data Science, Digital Business, Agritech, Renewable Energy, Cyber Security, Intelligent Manufacturing, hingga Entrepreneurship Technology.

BACA JUGA  Geger! Kejagung Mulai Usut 10 Raksasa Sawit, Dugaan Manipulasi Ekspor CPO Tembus Jutaan Dolar

Lebih penting lagi, kampus harus berhenti hanya mencetak “manusia pencari kerja”, tetapi mulai melahirkan entrepreneur, inovator, dan pencipta lapangan kerja baru.

Karena di era AI, masa depan bukan lagi milik mereka yang sekadar memiliki ijazah, tetapi milik mereka yang mampu menciptakan nilai dan solusi.

Jika tidak ada keberanian melakukan perubahan sekarang, maka lambat laun kampus hanya akan menjadi museum akademik: ramai wisuda, tetapi sepi relevansi.

Dan ketika itu terjadi, yang paling dirugikan bukan Perguruan Tinggi, melainkan jutaan anak muda Indonesia yang kehilangan arah masa depannya. (*/ Marlis – Alinia Foundation )

spot_img

Latest news

- Advertisement -spot_img

Berita Terkait

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses