Keputusan itu ditetapkan dalam rapat koordinasi yang dipimpin Bupati Eka Putra bersama Forkopimda dan Organisasi Perangkat Daerah (OPD) di Gedung Indo Jolito, Batusangkar, Senin (25/5/2026) malam.
Pemerintah daerah selanjutnya menetapkan masa transisi darurat menuju pemulihan pascabencana selama tujuh bulan, terhitung mulai 27 Mei hingga 27 Desember 2026.
“Malam ini kami putuskan masa tanggap darurat bencana berakhir dan terhitung mulai tanggal 27 Mei sampai 27 Desember, Tanahdatar memasuki masa transisi darurat ke pemulihan pascabencana,” ujar Eka Putra.

Ia menegaskan, berakhirnya status tanggap darurat bukan berarti seluruh persoalan di lapangan telah selesai. Menurutnya, pola penanganan kini bergeser dari fase penyelamatan dan evakuasi menuju rehabilitasi serta rekonstruksi.
“Di lokasi bencana masih terdapat kerusakan yang berdampak pada kehidupan masyarakat sehingga diperlukan penanganan terpadu sesuai prosedur pascabencana melalui masa transisi darurat,” katanya.
Pemerintah daerah, lanjut Eka Putra, akan memfokuskan penanganan pada percepatan pemulihan infrastruktur vital serta pemulihan aktivitas sosial dan ekonomi masyarakat terdampak.
Sebelum rapat koordinasi digelar, Eka Putra bersama anggota DPRD Tanahdatar Wendri Aswil, Camat Lintau Buo Ikrar Pahlevi, dan Kabag Prokopim Roza Melfita meninjau langsung kondisi Jembatan Titian Putiah di Nagari Taluak, Kecamatan Lintau Buo.
Jembatan tersebut mengalami kerusakan parah akibat diterjang banjir dua pekan lalu hingga tak bisa lagi dilalui kendaraan. Putusnya akses itu membuat jalur penghubung antara Kabupaten Tanahdatar dan Kabupaten Sijunjung sementara dialihkan melalui rute Pasar Tigo Jangko–Koto Panjang–Kumanih.
Untuk penanganan darurat, Pemerintah Provinsi Sumatera Barat disebut segera membangun jembatan Bailey sepanjang sekitar 23 meter guna memulihkan konektivitas antarwilayah.
“Karena ini merupakan jalan provinsi yang menghubungkan Kabupaten Tanah Datar dengan Kabupaten Sijunjung, maka untuk kondisi darurat akan dibangun jembatan Bailey dengan bentang sekitar 23 meter,” jelas Eka Putra.
Selain jembatan darurat, pemerintah provinsi juga telah menyiapkan anggaran melalui dana Transfer ke Daerah (TKD) untuk pembangunan jembatan permanen di lokasi tersebut.
Dalam peninjauan itu, Eka Putra turut mengapresiasi warga yang menyerahkan lahan secara sukarela demi pembangunan jembatan darurat maupun permanen tanpa meminta ganti rugi.
“Alhamdulillah, lahan yang dibutuhkan sudah diserahkan masyarakat, baik untuk pembangunan jembatan darurat maupun jembatan permanen nantinya. Atas nama pribadi dan pemerintah daerah, saya mengucapkan terima kasih atas dukungan penuh masyarakat,” ujarnya.
Usai meninjau lokasi jembatan, rombongan melanjutkan pemantauan ke posko bantuan bencana di kawasan jembatan timbang Setangkai untuk memastikan distribusi logistik kepada korban berjalan lancar.
Sementara itu, Kepala Pelaksana BPBD Tanahdatar Ermon Revlin memastikan seluruh bantuan selama masa tanggap darurat telah tersalurkan dengan baik. Ia menyebut kondisi di empat wilayah terdampak mulai berangsur membaik, yakni Kecamatan Tanjung Emas, Padang Ganting, Lintau Buo, dan Lintau Buo Utara.
“Pengungsi sudah kembali ke rumah masing-masing dan dibekali bantuan sembako menjelang Idul Adha. Ke depan, pendampingan ketat tetap dilakukan selama masa transisi darurat,” ujar Ermon Revlin.
Menutup rangkaian kegiatan, Bupati Eka Putra menyampaikan apresiasi kepada seluruh unsur yang terlibat dalam penanganan bencana, mulai dari TNI, Polri, relawan, OPD hingga para donatur yang dinilai berperan besar dalam percepatan penanganan dampak bencana di Tanahdatar.




