Konsorsium Entrepreneur Muda Sumbar Ambil Peran Strategis dalam Mensukseskan Program MBG
Tiga SPPG ALINIA Resmi Dimulai di Dharmasraya, Menjadi Simbol Lahirnya Ekosistem Ekonomi Masa Depan
DHARMASRAYA — Semangat kolaborasi lintas generasi dalam mendukung Program Makan Bergizi Gratis (MBG) kembali terlihat nyata di Sumatera Barat. Kamis, 21 Mei 2026, telah dilakukan penandatanganan kontrak sewa tempat untuk pembangunan tiga titik strategis Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG), yaitu :

SPPG Alinia Sei. Kambut
SPPG Alinia Sikabau
SPPG Alinia Silago
di Kabupaten Dharmasraya.
Momentum tersebut menjadi penanda dimulainya proses pembangunan tiga dapur MBG yang diinisiasi oleh Konsorsium Entrepreneur Muda Sumbar, sebuah wadah kolaboratif yang dibangun untuk memberikan ruang dan kesempatan kepada generasi muda Sumatera Barat agar dapat ikut berpartisipasi langsung dalam mendukung serta mensukseskan Program Strategis Nasional MBG.

Empat entrepreneur muda yang tampil sebagai penggerak utama dalam konsorsium tersebut adalah :
M. Hagie Alinia ( Alinia Group )
Ridho Al Kafi ( Pengusaha Muda )
Ferdinan ( Pilot )
Daffa Ramadhanu ( Tazar Group )
Rifat Alfansyah ( Pengusaha Otomotif )
Mereka didampingi oleh sejumlah pengusaha senior dan tokoh lintas sektor yang selama ini dikenal aktif membangun berbagai ekosistem usaha di Sumatera Barat, yaitu :
Drs. H. Marlis, MM, C.Med ( Ketua DPW HMD GEMAS Sumbar )
Eka Kurniawan ( Pengusaha Elektronik )
Widia Nafis (Ketua PWI Sumbar)
Liswendi Kamar (Ketua APERSI Sumbar)
Kolaborasi tersebut menghadirkan sebuah model baru pembangunan ekonomi daerah yang futuristik dan progresif, dimana pengalaman para senior dipadukan dengan keberanian, kreativitas, serta semangat inovasi generasi muda.
Kehadiran Marlis, Eka Kurniawan, Widia Nafis sebagai tokoh pers Sumbar serta Liswendi Kamar yang dikenal di sektor properti dan pengembangan perumahan rakyat melalui APERSI Sumbar, semakin memperkuat karakter konsorsium ini sebagai gerakan lintas sektor yang tidak hanya berorientasi bisnis, tetapi juga memiliki visi pembangunan daerah jangka panjang.

Pembangunan tiga SPPG tersebut diproyeksikan bukan hanya menjadi fasilitas penyedia makanan bergizi, tetapi juga akan berkembang menjadi pusat pertumbuhan ekonomi baru berbasis ekonomi sirkular daerah.
Ke depan, keberadaan SPPG diperkirakan akan menggerakkan banyak sektor sekaligus, mulai dari petani, peternak, perikanan, distributor bahan pangan, UMKM, jasa transportasi, hingga penyerapan tenaga kerja lokal. Program MBG kini dipandang bukan hanya sebagai program sosial pemerintah, tetapi juga sebagai mesin penggerak ekonomi baru yang menciptakan pasar dan peluang usaha secara nyata di daerah.

Drs. H. Marlis, MM, C.Med menyampaikan bahwa pola konsorsium seperti ini sengaja dibangun agar generasi muda Sumbar memiliki ruang untuk tumbuh sebagai entrepreneur masa depan yang mampu mengambil peran strategis dalam pembangunan nasional.
“Kami ingin anak-anak muda Sumbar tidak hanya menjadi penonton dalam program besar negara. Mereka harus ikut menjadi pelaku utama, ikut membangun, ikut mengambil tanggung jawab, dan ikut menikmati pertumbuhan ekonomi yang lahir dari Program MBG ini,” ujarnya.
Menurutnya, sektor MBG merupakan salah satu sektor masa depan yang akan terus berkembang karena memiliki keterkaitan langsung dengan kebutuhan dasar masyarakat serta penguatan ekonomi lokal.
Di tengah tantangan ekonomi global yang penuh ketidakpastian, langkah Konsorsium Entrepreneur Muda Sumbar tersebut dinilai sebagai keberanian besar untuk masuk ke sektor riil yang memiliki dampak sosial dan ekonomi secara langsung.
Dharmasraya pun perlahan mulai dipandang sebagai salah satu titik lahirnya model baru kolaborasi entrepreneur muda dalam mendukung program strategis nasional berbasis pemberdayaan ekonomi masyarakat.
Dan dari tiga titik pembangunan SPPG inilah, sebuah pesan besar sedang dikirimkan kepada generasi muda Indonesia:
Bahwa masa depan tidak hanya diwariskan.
Tetapi harus dipersiapkan dan dibangun bersama. (*/Redaksi )




