“Pajak Telat Didendo, Dalam Elek Dijarno”: Protes Halus dari Jalan Rusak di Rimbo Bujang
Rimbo Bujang, 22 Mei 2026 – Di tengah terik matahari siang, di salah satu ruas Jalan Raya Rimbo Bujang, berdiri sebuah spanduk kecil yang sederhana. Tidak megah. Tidak pula dipasang dengan fasilitas mewah. Hanya menempel di batang pisang yang mulai layu, tepat di tengah jalan berlubang yang dipenuhi genangan air dan bebatuan kasar.
Namun justru dari kesederhanaan itulah, lahir sebuah pesan yang terasa sangat kuat.

“Pajak telat didendo, dalam elek dijarno. Pie tohh kii!!! Pengen kembali ke jalan yang benar, tapi jalannya gak benar-benar.”
Kalimat itu terdengar satir, lucu, bahkan mengundang senyum kecil. Tetapi bagi masyarakat Rimbo Bujang, spanduk tersebut sejatinya adalah jeritan panjang yang mulai kehilangan tempat untuk didengar.
Tidak ada orasi.
Tidak ada aksi bakar ban.
Tidak ada kericuhan.
Hanya sebuah spanduk kecil sebagai simbol bahwa kesabaran masyarakat mulai menipis menghadapi kondisi jalan yang rusak parah dan seolah tak kunjung mendapatkan perhatian serius.
Ironisnya, jalan tersebut merupakan akses penting yang setiap hari dilalui masyarakat untuk bekerja, mengangkut hasil usaha, membawa anak sekolah, hingga aktivitas ekonomi lainnya. Namun kondisi yang tampak justru seperti jalan yang ditinggalkan tanpa kepastian.
Lubang besar menganga di berbagai titik. Saat hujan turun, jalan berubah menjadi kubangan lumpur yang sulit dibedakan mana aspal dan mana lubang. Kendaraan harus berjalan perlahan sambil bermanuver menghindari kerusakan. Tidak sedikit warga mengaku khawatir akan risiko kecelakaan, terutama pada malam hari.
Spanduk itu pun menjadi viral di media sosial karena dianggap mewakili suara hati masyarakat kecil. Bahasa lokal yang digunakan terasa dekat, jujur, dan menusuk tanpa harus marah-marah.
Ada kritik sosial yang sangat dalam di balik tulisan tersebut.
Masyarakat merasa bahwa kewajiban mereka kepada negara selalu dituntut tepat waktu. Pajak terlambat dikenakan denda. Administrasi telat ada sanksi. Tetapi ketika masyarakat membutuhkan hak dasar berupa infrastruktur jalan yang layak, prosesnya sering kali terasa sangat lambat.
Inilah bentuk protes yang paling sunyi, tetapi sering kali paling menyentuh.
Masyarakat Rimbo Bujang tampaknya masih memilih jalur yang santun. Mereka belum turun dengan demonstrasi besar. Mereka hanya ingin menyampaikan pesan sederhana: bahwa jalan bukan sekadar hamparan aspal, tetapi urat nadi kehidupan masyarakat.
Spanduk kecil di tengah jalan rusak itu kini bukan lagi sekadar papan tulisan. Ia telah berubah menjadi simbol keresahan publik. Sebuah pengingat bahwa pembangunan bukan hanya soal angka dan laporan, tetapi tentang apa yang benar-benar dirasakan rakyat di lapangan.
Dan mungkin, di tengah berbagai pidato tentang pembangunan, suara paling jujur justru datang dari sebuah spanduk kecil yang berdiri sendirian di jalan rusak Rimbo Bujang. (*/ Marlis – CEO ALINIA GROUP )




