JAKARTA, ALINIANEWS.COM – Ketegangan geopolitik di Timur Tengah mulai menimbulkan efek berantai hingga ke sektor riil. Lebih dari lima minggu sejak serangan Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran pada 28 Februari 2026, dampaknya kini terasa pada berbagai komoditas, termasuk bahan bangunan di Indonesia.
Konflik yang memicu aksi balasan Iran mulai dari serangan ke pangkalan militer AS hingga pembatasan Selat Hormuz telah mengganggu jalur distribusi minyak global. Kondisi ini sempat mendorong kenaikan harga bahan bakar di sejumlah negara, meski Indonesia relatif stabil. Namun, tekanan harga mulai merambat ke sektor lain.
Sekretaris Jenderal DPP IKAPPI, Reynaldi Sarijowan, mengungkapkan lonjakan harga sudah terlihat, terutama pada komoditas berbasis petrokimia seperti plastik.

“Jauh sebelum memasuki Ramadhan itu masih Rp10.000. Kemudian bertahap tuh selama sepekan, sepekan, sepekan naik Rp500, naik Rp700, naik macam-macam tuh sampai hari ini puncaknya itu naiknya di kita proyeksikan di 50 persen,” kata Reynaldi, Senin (6/4/2026).
Kenaikan harga plastik tersebut menjadi sinyal awal tekanan biaya produksi yang lebih luas, termasuk ke sektor konstruksi. Ekonom Center of Economic and Law Studies (CELIOS), Bhima Yudhistira, menilai harga bahan bangunan di Indonesia berpotensi ikut terdongkrak.
“Harga bahan bangunan naik dari berbagai faktor. Pertama, kesulitan pasokan terutama industri yang bahan bakunya impor,” ujar Bhima.
Ia menjelaskan, sejumlah material seperti keramik, kaca, hingga aksesoris bangunan masih bergantung pada bahan baku impor. Ketergantungan ini membuat harga sangat sensitif terhadap gangguan global.
Selain itu, faktor nilai tukar juga menjadi tekanan tambahan. Menurut Bhima, meski pasokan tersedia, harga tetap berisiko naik karena menggunakan acuan valuta asing.
“Kalaupun pasokan ada referensi impor menggunakan valas. Jadi ada imported inflation karena kurs melemah. Transmisinya nanti ke konsumen akhir,” jelasnya.
Faktor lain yang turut memperparah adalah biaya logistik yang meningkat akibat penyesuaian harga energi. Kenaikan harga BBM secara global berdampak langsung pada ongkos distribusi bahan bangunan di dalam negeri.
Bhima juga menyoroti efek lanjutan dari kenaikan harga plastik terhadap industri konstruksi.
“Ada juga efek naiknya harga plastik pada kemasan pile cat tembok, mulai dirasakan pelaku usaha ritel,” katanya.
Menurutnya, sektor properti memiliki keterkaitan luas dengan berbagai industri lain, sehingga kenaikan di satu sektor akan menjalar ke sektor lainnya.
“Yang jelas sektor properti itu terkait 150 jenis industri atau barang. Ibarat jaring laba-laba, satu sektor naik harganya maka semua barang akan ikut naik,” ujar Bhima.
Ia mengingatkan, kondisi bisa semakin berat jika tekanan inflasi energi merambat ke sektor keuangan, khususnya pembiayaan perumahan.
“Kondisi bakal lebih buruk kalau inflasi energi merembet ke kenaikan suku bunga KPR,” tegasnya.
Dengan berbagai tekanan tersebut, pelaku industri konstruksi dan masyarakat diperkirakan harus bersiap menghadapi potensi kenaikan biaya pembangunan dalam waktu dekat, seiring belum meredanya gejolak global. (*/Rel)




