Pemerintah Percepat Hilirisasi Biofuel, Disiapkan Gantikan Pertalite dan Pertamax

JAKARTA, ALINIANEWS.COM – Pemerintah mendorong percepatan hilirisasi biofuel sebagai alternatif bahan bakar pengganti Pertalite dan Pertamax di tengah lonjakan harga minyak dunia. Kebijakan ini merupakan arahan Presiden Prabowo Subianto dalam rangka memperkuat kemandirian energi nasional di tengah tekanan geopolitik global.

Menteri Pertanian (Mentan) Andi Amran Sulaiman mengatakan langkah tersebut menjadi bagian dari strategi percepatan yang dibahas dalam rapat terbatas sebelum Presiden bertolak ke Jepang dan Korea Selatan.

“Beliau sampaikan kita melakukan akselerasi hilirisasi. Yang pertama, untuk sektor pertanian hilirisasi biofuel di saat kondisi geopolitik yang memanas kita butuh langkah cepat,” ujar Amran dalam konferensi pers di Kementerian Pertanian, Jakarta Selatan, Senin (30/3).

Iklan

Menurut Amran, pengembangan biofuel tidak hanya bertujuan mengurangi ketergantungan terhadap energi fosil, tetapi juga menjadi bagian dari upaya besar pemerintah dalam mencapai swasembada energi, sejalan dengan capaian sektor pangan.

“Yang kedua adalah janji Bapak Presiden bahwa kita menyetop impor solar digantikan oleh biofuel sawit B50. Itu 5,3 juta ton. Itu tahun ini kita tidak impor. Dan itu selesai. Sudah dua, selesai,” katanya.

Selain biofuel berbasis sawit, pemerintah juga tengah menyiapkan pengembangan bahan bakar berbasis etanol melalui program E20, yaitu campuran 20 persen etanol dalam bensin. Bahan baku etanol tersebut berasal dari komoditas domestik seperti jagung, tebu, dan ubi.

BACA JUGA  BGN: Program MBG Kucurkan Hampir Rp1 Triliun per Hari, Diklaim Langsung Mengalir ke Masyarakat

“Nah, yang ketiga, mimpi kita E20. Apa itu E20? Etanol campuran bensin 20 persen. Dari mana? Jagung, ubi, dan tebu. Semua bisa tumbuh di Indonesia,” ujarnya.

Amran menjelaskan, penggunaan etanol sebagai campuran bahan bakar bukan hal baru dan telah diterapkan di berbagai negara dengan kadar campuran yang lebih tinggi.

“Ini adalah etanol. Etanol itu dicampur dengan bensin 20 persen. Brasil sudah 27 persen,” ujar Amran.

Ia menegaskan bahwa program E20 berpotensi menggantikan bahan bakar bensin yang saat ini digunakan masyarakat luas.

“Ya, itu menggantikan (Pertalite dan Pertamax),” ujarnya.

Pemerintah menilai pengembangan biofuel dan etanol menjadi momentum penting untuk memperkuat ketahanan energi nasional di tengah dinamika global. Untuk mempercepat implementasi, pemerintah juga menyiapkan kolaborasi lintas badan usaha milik negara (BUMN) agar program dapat berjalan efektif dan berkelanjutan. (*/Rel)

spot_img

Latest news

- Advertisement -spot_img

Berita Terkait

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses