JAKARTA, ALINIANEWS.COM — Pemerintah China angkat suara terkait serangan militer Israel dan Amerika Serikat terhadap Iran. Melalui Menteri Luar Negeri Wang Yi, Beijing mendesak penghentian segera operasi militer tersebut guna mencegah eskalasi konflik yang lebih luas.
Dalam percakapan telepon dengan Menteri Luar Negeri Israel Gideon Saar pada Selasa (3/3/2026) waktu setempat, Wang menilai serangan itu terjadi ketika jalur diplomasi antara Washington dan Teheran menunjukkan perkembangan positif.
Menurut pernyataan Kementerian Luar Negeri China yang dikutip Al Jazeera, Rabu (4/3/2026), negosiasi antara Amerika Serikat dan Iran disebut telah “mencapai kemajuan signifikan, termasuk mengatasi kekhawatiran keamanan Israel.”

“Sayangnya, proses ini telah terganggu oleh aksi militer. China menentang serangan militer yang dilancarkan oleh Israel dan AS terhadap Iran,” kata Wang.
Ia menambahkan, “China mendesak penghentian segera operasi militer untuk mencegah eskalasi lebih lanjut dan hilangnya kendali atas konflik.”
Wang juga menegaskan bahwa pendekatan kekerasan tidak akan menyelesaikan persoalan secara mendasar. “Kekerasan tidak dapat benar-benar menyelesaikan masalah; sebaliknya, itu akan membawa masalah baru dan konsekuensi jangka panjang yang serius,” ujarnya.
Dalam pernyataan yang sama, disebutkan bahwa Saar menyetujui permintaan China untuk mengambil “langkah-langkah konkret untuk memastikan keselamatan personel dan lembaga-lembaga China” di Iran.
AS Kerahkan B-52
Serangan terhadap Iran telah berlangsung sejak Sabtu (28/2/2026). Perkembangan terbaru menunjukkan Amerika Serikat untuk pertama kalinya mengerahkan pesawat pengebom B-52 dalam operasi tersebut.
Komando Pusat Amerika Serikat (CENTCOM) atau United States Central Command, yang mengawasi operasi militer AS di kawasan Timur Tengah, merilis lembar fakta harian terkait Operasi Epic Fury.
Dalam laporan tersebut, CENTCOM menyebut sejumlah pesawat pengebom B-52 digunakan dalam serangan ke berbagai target di Iran. Pesawat jenis ini diketahui mampu membawa amunisi dalam jumlah besar.
Namun, tidak dijelaskan secara rinci kapan tepatnya B-52 mulai dikerahkan. Sebelumnya, militer AS telah menggunakan pesawat pengebom siluman B-2 dan B-1 dalam rangkaian serangan awal.
Menurut data terbaru CENTCOM, dalam 72 jam pertama Operasi Epic Fury, pasukan AS telah menyerang lebih dari 1.700 target di berbagai wilayah Iran. Angka ini meningkat dibandingkan laporan sebelumnya yang menyebut sekitar 1.200 target dihantam dalam 48 jam pertama operasi.
Peningkatan intensitas serangan tersebut memicu kekhawatiran berbagai pihak, termasuk China, atas potensi konflik yang semakin meluas dan sulit dikendalikan. Beijing pun kembali menegaskan pentingnya dialog serta penyelesaian melalui jalur diplomatik guna menjaga stabilitas kawasan dan mencegah dampak jangka panjang terhadap keamanan global.




