JAKARTA, ALINIANEWS.COM – Presiden RI Prabowo Subianto secara resmi mengumumkan Indonesia kembali mencapai swasembada beras pada 2025. Pengumuman tersebut disampaikan saat menghadiri Panen Raya dan Pencanangan Swasembada Pangan di Karawang, Jawa Barat, Rabu (7/1/2026).
Capaian ini ditandai dengan cadangan beras nasional yang dikelola Perum Bulog mencapai lebih dari 3 juta ton, tertinggi sepanjang sejarah Indonesia. Prabowo menyebut keberhasilan tersebut diraih hanya dalam waktu satu tahun pemerintahan, lebih cepat dari target awal yang dipatok empat tahun.
“Hari ini kita telah mencatat suatu kemenangan yang penting. Tidak ada bangsa yang merdeka kalau makan tidak bisa tersedia untuk rakyat. Tidak mungkin bangsa itu merdeka kalau pangannya tergantung bangsa lain,” ujar Prabowo dalam sambutannya.

Presiden tiba di lokasi panen raya sekitar pukul 11.13 WIB mengenakan safari berwarna krem. Ia disambut masyarakat dan menyapa warga dari atas kendaraan sebelum mengikuti rangkaian acara. Prabowo didampingi Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman, Wakil Menteri Pertanian Sudaryono, Menteri Koordinator Bidang Pangan Zulkifli Hasan, Menteri Pertahanan Sjafrie Sjamsoeddin, Ketua Komisi IV DPR Titiek Hediyati Soeharto, serta Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi.
Panen raya di Karawang menjadi simbol capaian satu tahun pemerintahan Prabowo-Gibran dalam memperkuat ketahanan pangan nasional. Sepanjang 2025, Indonesia tercatat tidak melakukan impor beras.
Dalam kegiatan tersebut, Presiden meninjau pameran produk hasil inovasi hilirisasi pertanian, perkebunan, dan peternakan. Sejumlah teknologi pertanian modern juga diperlihatkan, termasuk penggunaan combine harvester, mesin panen modern yang mampu memotong, merontokkan, dan membersihkan padi dalam satu proses.
Prabowo menjelaskan, capaian swasembada beras merupakan hasil konsolidasi kebijakan dan kerja keras lintas sektor, mulai dari pemerintah pusat, pemerintah daerah, hingga para petani di seluruh Indonesia. Menurutnya, petani adalah tulang punggung ketahanan pangan dan bagian penting dari sejarah perjuangan bangsa.
“Target awal kita empat tahun. Lalu kita percepat jadi tiga tahun. Ternyata bangsa Indonesia mampu mencapainya dalam satu tahun,” kata Prabowo.
Ia menekankan bahwa swasembada beras bukan sekadar persoalan angka produksi, melainkan menyangkut harga diri dan kedaulatan bangsa. Prabowo juga mengingatkan pengalaman Indonesia saat pandemi Covid-19, ketika banyak negara pengekspor pangan menutup keran ekspor untuk kebutuhan domestik masing-masing.
“Waktu Covid itu adalah peringatan keras. Negara yang punya beras tidak mau menjual ke kita. Dari situ kita belajar, jangan lengah dan jangan tergantung bangsa lain,” ujarnya.
Meski demikian, Prabowo mengakui tantangan ke depan masih besar, terutama terkait perubahan iklim dan cuaca ekstrem. Pemerintah, kata dia, akan mengantisipasi hal tersebut melalui penguatan produksi, penyediaan sarana pertanian, serta perlindungan lahan pangan.
Ke depan, pemerintah berkomitmen tidak hanya mempertahankan swasembada beras, tetapi juga memperluasnya ke komoditas strategis lain.
“Setelah beras, kita akan kejar swasembada jagung dan komoditas pangan lainnya,” pungkas Prabowo. (*/Rel)




