MEROBEK IJAZAH, MENEMUKAN MAKNA: Jalan Sunyi ZUKRI SAAD yang Menggetarkan

MEROBEK IJAZAH, MENEMUKAN MAKNA: Jalan Sunyi Zukri Saad yang Menggetarkan

Oleh : Drs.H. Marlis,MM, C.Med ( CEO ALINIA GROUP )

Padang, 1 April  2026 – Tidak banyak orang yang berani melawan arus. Lebih sedikit lagi yang berani merobek simbol kebanggaan terbesar dalam hidupnya sendiri.

Iklan

Zukri Saad melakukannya.

Lulus dari Teknik Kimia ITB tahun 1984—kampus yang bagi banyak orang adalah puncak prestise—Zukri justru mengambil keputusan yang sulit diterima akal sehat: ia merobek ijazah aslinya. Bukan karena gagal. Bukan karena kecewa pada nilai. Tapi karena ia merasa, delapan tahun yang ia habiskan sejak 1976 di bangku kuliah tidak cukup membekalinya untuk menghadapi realitas hidup yang sesungguhnya.

Sebuah keputusan yang bagi sebagian orang mungkin dianggap gila. Namun bagi Zukri, itu adalah titik balik.

Ia memilih jalan yang sunyi. Jalan yang tidak menjanjikan kenyamanan, apalagi kemewahan. Ia meninggalkan jalur “aman” sebagai sarjana teknik, dan justru terjun menjadi aktivis sosial—hidup di tengah masyarakat, menyatu dengan persoalan nyata yang tidak pernah diajarkan di ruang kuliah.

Di sanalah ia menemukan makna.

Dengan semangat yang tak pernah padam, Zukri bergerak. Ia tidak sekadar berbicara, tetapi hadir, mendengar, dan memperjuangkan. Komitmennya membawa dampak nyata, hingga pada periode 1992–1996, ia dipercaya menjadi Ketua WALHI Indonesia—salah satu posisi paling strategis dalam gerakan lingkungan hidup di negeri ini.

BACA JUGA  Ratusan Dapur MBG Disetop Sementara, BGN Tegaskan Ini Langkah Korektif

Namun kisahnya tidak berhenti di sana.

Paradoks justru menjadi warna utama dalam hidup Zukri Saad. Seorang yang “tidak punya ijazah”, justru dipercaya duduk sebagai Direksi di salah satu grup perusahaan terbesar di Indonesia: Sinar Mas, khususnya di sektor perkebunan.

Selama lima tahun mengemban amanah itu, Zukri tidak sekadar mengisi jabatan. Ia menyelesaikan 154 kasus sengketa antara perusahaan dan masyarakat—sebuah angka yang bukan hanya statistik, tetapi cerminan dari kepercayaan, keberanian, dan kemampuan menjembatani dua dunia yang sering kali berseberangan.

Ia membuktikan satu hal yang sering kita lupakan: nilai manusia tidak ditentukan oleh selembar kertas, tetapi oleh keberanian mengambil peran dan menyelesaikan masalah nyata.

Yang lebih menggetarkan, keberhasilan Zukri tidak hanya berhenti pada dirinya sendiri.

Tiga anaknya tumbuh menjadi generasi unggul. Dua di antaranya menempuh pendidikan di ITB, satu di Universitas Indonesia. Hari ini, ketiganya berkarier di panggung global—di Jerman, Belanda, dan Thailand.

Sebuah ironi yang indah.

Seorang ayah yang merobek ijazahnya, justru berhasil mengantarkan anak-anaknya menaklukkan dunia akademik dan profesional internasional.

Di ujung perbincangan, Zukri Saad tidak memberikan teori panjang. Tidak pula bicara tentang strategi rumit. Ia hanya menyampaikan satu pesan sederhana, namun tajam menembus masa depan:

“Kalau ingin anak-anak kita mampu bersaing di dunia global, satu kuncinya:  ” KUASAI BAHASA INGGRIS dari SMP ”

BACA JUGA  Viral Grup Chat Cabul, 16 Mahasiswa FH UI Disidang, Akui Perbuatan dan Terancam Sanksi Berat

Pesan yang mungkin terdengar biasa. Tapi datang dari perjalanan hidup yang luar biasa.

Kisah Zukri Saad adalah tamparan halus bagi kita semua—bahwa hidup bukan tentang mengikuti jalur yang sudah disiapkan, tetapi tentang keberanian menemukan jalan sendiri.

Bahwa pendidikan bukan sekadar ijazah, tetapi kemampuan untuk memberi manfaat.

Dan bahwa terkadang, untuk menemukan makna sejati kita harus berani merobek apa yang selama ini kita anggap paling berharga. (*/ MARLIS – CEO ALINIA GROUP )

spot_img

Latest news

- Advertisement -spot_img

Berita Terkait

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses