JAKARTA, ALINIANEWS.COM – Anjloknya harga ayam dan telur di tingkat peternak setelah program Makan Bergizi Gratis (MBG) dihentikan sementara selama masa libur sekolah mendorong pemerintah mengambil langkah cepat. Menteri Perdagangan (Mendag) Budi Santoso mengaku telah mengirim surat kepada pelaku usaha hotel, restoran, kafe (Horeka), hingga ritel modern agar membantu menyerap produksi peternak.
Langkah tersebut diharapkan mampu menjaga stabilitas harga sekaligus mengurangi tekanan yang kini dirasakan peternak unggas di berbagai daerah.
“Kami sudah menyampaikan surat ke (pengusaha) Horeka, ya. Kita restoran, kafe untuk menyerap telur, ayam, ya kemudian juga ke Aprindo, ke ritel. Ya, sudah kita kirim suratnya untuk menyerap produk-produk kita di sana,” ujar Budi saat ditemui di kawasan Tebet, Jakarta Selatan, Senin (22/6/2026).

Menurut Budi, persoalan yang terjadi saat ini bukan disebabkan oleh produksi yang berkurang, melainkan terbatasnya pasar yang mampu menyerap hasil peternakan dalam waktu cepat.
“Karena memang kita itu butuh pasar dan butuh channel distribusinya, ya, butuh tempat untuk jualan,” beber Budi.
Ia berharap sektor Horeka dapat ikut membantu meningkatkan konsumsi produk peternak melalui menu yang disajikan kepada konsumen.
“Ya, kalau di restoran, misalnya ya oke lah, menunya mungkin ditambah telurnya atau ayamnya ya, karena arena misalnya ini Ayam Pak Gembus. Jadi, kami harapkan jadi banyak menyerap dari produsen-produsen ayam kita,” jelasnya.
Sebelumnya, pemerintah juga telah menyiapkan langkah lain melalui integrasi pasokan telur dari peternak rakyat ke dalam program MBG. Kesepakatan tersebut dicapai dalam Rapat Koordinasi Stabilisasi Pasokan dan Harga Telur Ayam Ras yang melibatkan Badan Gizi Nasional (BGN), koperasi dan asosiasi peternak, serta sejumlah instansi terkait.
Direktur Stabilisasi Pasokan dan Harga Pangan Badan Pangan Nasional (Bapanas), Maino Dwi Hartono, mengatakan kerja sama tersebut menjadi bagian dari upaya pemerintah menciptakan pasar yang lebih pasti bagi peternak.
Dalam kesepakatan itu, penggunaan menu telur dalam program MBG ditetapkan minimal tiga kali dalam satu pekan.
“Esensinya sama dengan Magetan, bagaimana semua bisa jalan, bagaimana semua bisa hidup. Dari sisi produsen, para peternak, bisa punya offtaker yang pasti yaitu SPPG,” kata Maino dalam keterangan tertulis, Senin (8/6/2026).
Namun, kebijakan penghentian sementara penyaluran MBG selama masa libur sekolah berdampak pada menurunnya permintaan pasar. Kondisi tersebut turut memicu penurunan harga ayam hidup di tingkat peternak.
Keluhan datang dari peternak ayam pedaging di Jawa Tengah. Ketua Perhimpunan Insan Perunggasan Rakyat Indonesia (Pinsar) Jawa Tengah, Susilo, mengungkapkan harga ayam hidup saat ini hanya berada di kisaran Rp17.000 per kilogram, jauh di bawah harga pokok produksi yang mencapai sekitar Rp20.000 per kilogram.
Akibatnya, banyak peternak harus menanggung kerugian.
“Harga pokok produksi sekitar Rp 20 ribu, sedangkan harga yang terjadi saat ini Rp 17 ribu. Sehingga peternak mengalami kerugian,” kata Susilo usai rapat koordinasi program Makan Bergizi Gratis (MBG) di Kantor Gubernur Jawa Tengah, Jumat (19/6/2026), dikutip dari detikJateng.
Pemerintah berharap keterlibatan sektor Horeka, ritel modern, serta optimalisasi program MBG dapat menjadi solusi untuk memperluas pasar dan menjaga harga ayam maupun telur tetap menguntungkan bagi peternak rakyat.



