PADANG, ALINIANEWS.COM — Badan Gizi Nasional (BGN) mencatat sebanyak 27 ribu dapur Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) telah terbentuk di seluruh Indonesia dalam rangka mendukung Program Makan Bergizi Gratis (MBG). Dari jumlah tersebut, 402 unit berada di Sumatera Barat, dengan 70 dapur tersebar di Kota Padang.
Kepala BGN RI, Dadan Hindayana, menyebut capaian ini telah menjangkau sekitar 62 juta penerima manfaat dari target nasional 82,9 juta orang.
“Alhamdulillah, sekitar 62 juta penerima manfaat telah merasakan program MBG dari target 82,9 juta secara nasional. Kami mengajak semua pihak untuk bersinergi menyukseskan program ini,” ujar Dadan di Padang, Rabu (22/4/2026).

Instrumen gizi sekaligus pemulihan ekonomi
Menurut Dadan, program MBG tidak semata soal pemenuhan gizi, tetapi juga menjadi instrumen strategis untuk menggerakkan ekonomi masyarakat, terutama di wilayah terdampak bencana.
“Kami hadir untuk membangkitkan UMKM dan usaha lokal agar kehidupan ekonomi masyarakat bisa kembali normal,” katanya.
Ia menjelaskan, sekitar 93 persen anggaran BGN disalurkan langsung ke daerah melalui SPPG dengan alokasi sekitar Rp1 miliar per unit setiap bulan. Dari total tersebut, sekitar 70 persen digunakan untuk pembelian bahan baku, lebih dari 95 persen di antaranya berasal dari produk lokal.
“Sementara itu, 20 persen digunakan untuk operasional dan 10 persen untuk pengembalian investasi,” ujarnya.
Kebutuhan bahan baku dalam jumlah besar setiap hari dinilai mampu membuka peluang usaha bagi masyarakat, mulai dari petani, peternak hingga nelayan.
“Setiap hari dibutuhkan bahan baku dalam jumlah besar, sehingga peluang usaha masyarakat, termasuk ibu-ibu, akan meningkat,” kata Dadan.
Tantangan pascabencana masih terasa
Meski demikian, pelaksanaan program di lapangan masih menghadapi sejumlah tantangan, terutama dampak bencana alam yang terjadi pada akhir 2025 yang memengaruhi kondisi sosial ekonomi masyarakat di Sumbar.
Untuk itu, implementasi MBG juga diiringi dengan berbagai kegiatan seperti sosialisasi, pasar murah, serta dialog dengan pelaku usaha lokal yang menjadi pemasok bahan pangan bagi SPPG. Langkah ini dilakukan guna memperkuat rantai pasok dan menjaga stabilitas ekonomi daerah.
Belajar dari Jepang
Dalam kesempatan itu, Dadan juga menyinggung keberhasilan Jepang dalam menjalankan program makan bergizi secara berkelanjutan.
“Pengalaman Jepang menjalankan program makan bergizi secara kontinu, mereka berhasil menaikkan rata-rata tinggi badan penduduknya,” ujarnya.
Ia menjelaskan, sebelum program tersebut berjalan, rata-rata tinggi badan masyarakat Jepang sekitar 159 sentimeter, namun meningkat menjadi 170 sentimeter setelah diterapkan secara konsisten.
“Dalam 15 tahun terakhir di Jepang, rata-rata tinggi badan masyarakatnya naik tapi berat badannya justru turun. Hal ini dikarenakan gaya hidup sehat yang dijalankan sejak belasan tahun,” sebutnya.
Menu lokal dan visi jangka panjang
Ke depan, BGN tidak hanya fokus pada pemerataan gizi, tetapi juga mendorong edukasi pola hidup sehat di masyarakat. SPPG diminta menyajikan menu berbasis potensi lokal agar lebih variatif dan berkelanjutan.
Saat ini, BGN telah membukukan sekitar 80 menu masakan Nusantara khusus untuk program MBG.
Program ini menjadi bagian dari strategi peningkatan kualitas sumber daya manusia menuju Indonesia Emas 2045, dengan target 92 juta penerima manfaat pada 2029 sesuai Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) 2025–2029.
BGN berharap, kehadiran MBG tidak hanya meningkatkan kualitas gizi masyarakat, tetapi juga menjadi motor penggerak ekonomi daerah, khususnya di wilayah yang tengah bangkit dari dampak bencana.




