Anak-Anak Muda Sumbar Bangun Konsorsium MBG, Ketua PWI dan Ketua APERSI Turut Bergabung
PADANG — Semangat kolaborasi dan keberanian membangun usaha sektor riil mulai tumbuh di kalangan entrepreneur muda Sumatera Barat. Hal itu terlihat dalam penandatanganan kerja sama pembangunan tiga unit Dapur Makan Bergizi Gratis (MBG), yang dilaksanakan di Padang, Selasa (12/5/2026).
Yang menarik, konsorsium ini tidak hanya diisi oleh pelaku usaha, tetapi juga melibatkan tokoh media, organisasi profesi, dan generasi muda lintas bidang yang memiliki visi sama: membangun usaha produktif sekaligus turut menyukseskan Program Strategis Nasional Makan Bergizi Gratis (MBG).

Anggota konsorsium tersebut terdiri dari: Drs. H. Marlis, MM, C.Med, Widia Nafis, Eka Kurniawan, Liswendi Kamar, M. Hagie Alinia, Dafa Ramadanu, Ferdinan, Ridho Al Kafi, dan Rifat Alfansyah.
Nama Widia Nafis menjadi perhatian tersendiri dalam konsorsium ini. Selain dikenal sebagai wartawan senior Sumatera Barat, ia juga merupakan Ketua Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Provinsi Sumatera Barat yang selama ini aktif mendorong pembangunan daerah melalui peran media dan edukasi publik.
Sementara itu, keterlibatan Liswendi Kamar, yang merupakan Ketua APERSI (Asosiasi Pengembang Perumahan dan Permukiman Seluruh Indonesia) Provinsi Sumatera Barat, memperlihatkan bahwa dunia properti dan pengembang mulai melihat Program MBG sebagai ekosistem ekonomi baru yang memiliki prospek jangka panjang.
Drs. H. Marlis, MM, C.Med selaku penggagas konsorsium sekaligus Ketua DPW HMD GEMAS Provinsi Sumatera Barat menyampaikan bahwa pola usaha bersama seperti ini sengaja dibangun untuk membuka ruang tumbuh bagi generasi muda dan para pengusaha daerah agar berani masuk ke sektor usaha nyata yang memiliki dampak sosial dan ekonomi langsung.
“Program MBG bukan hanya program makan bergizi. Ini adalah ekosistem ekonomi baru yang membuka peluang lahirnya entrepreneur muda di daerah. Kita ingin anak-anak muda belajar membangun usaha secara profesional, membangun jaringan, mengelola SDM, dan memahami tata kelola usaha modern,” ujar Marlis.
Marlis menambahkan, pembentukan konsorsium tersebut juga dilatarbelakangi oleh banyaknya pengusaha daerah yang ingin ikut terlibat dalam Program MBG, namun terkendala oleh skala investasi dan kesiapan sistem usaha.
“Konsorsium ini memang sengaja saya bentuk untuk menampung banyaknya rekan-rekan sesama pengusaha yang berkeinginan untuk turut berpartisipasi dalam Program MBG. Dengan pola kerja sama seperti ini, risiko usaha bisa dibagi bersama, kekuatan modal menjadi lebih besar, dan yang paling penting muncul semangat gotong royong dalam membangun usaha,” tegasnya.
Menurutnya, pola konsorsium menjadi solusi realistis dalam membangun dapur MBG yang membutuhkan kesiapan manajemen, operasional, SDM, hingga penguatan rantai pasok pangan lokal.
Konsorsium pembangunan tiga dapur MBG tersebut diperkirakan akan membuka peluang ekonomi baru bagi masyarakat sekitar, mulai dari petani, peternak, pelaku UMKM, jasa transportasi, hingga tenaga relawan dan pekerja operasional dapur.
Widia Nafis menilai bahwa pola kemitraan lintas profesi seperti ini merupakan sesuatu yang positif dan patut dicontoh.
“Hari ini kita tidak bisa lagi berjalan sendiri-sendiri. Dunia usaha membutuhkan kolaborasi, jaringan, dan kepercayaan. Program MBG membuka ruang besar untuk itu,” ujarnya.
Hal senada juga disampaikan Liswendi Kamar. Menurutnya, MBG memiliki efek domino ekonomi yang sangat luas karena melibatkan banyak sektor usaha secara bersamaan.
“Yang bergerak bukan hanya dapurnya, tetapi juga sektor pertanian, peternakan, logistik, UMKM, bahkan properti dan pembangunan kawasan. Ini peluang ekonomi baru yang sangat besar,” tegasnya.
Keterlibatan generasi muda seperti M. Hagie Alinia, Dafa Ramadanu, Ridho Al Kafi, dan Rifat Alfansyah juga menjadi simbol bahwa sektor MBG mulai dilihat sebagai peluang usaha modern yang memiliki nilai sosial tinggi sekaligus prospek ekonomi menjanjikan.
Dengan semangat kolaborasi lintas generasi dan lintas profesi, konsorsium pembangunan SPPG Alinia tersebut diharapkan menjadi contoh bagi pengusaha lainnya dalam membangun usaha produktif yang tidak hanya mengejar keuntungan, tetapi juga memberikan dampak nyata bagi masyarakat dan pembangunan daerah. (*/Redaksi )



