JAKARTA, ALINIANEWS.COM – Konflik yang berkecamuk di Iran membawa dampak global yang tak terduga. Di tengah ketegangan geopolitik dan lonjakan harga energi dunia, Rusia justru muncul sebagai pihak yang diuntungkan secara ekonomi.
Sebagai salah satu produsen utama minyak dan gas dunia, Moskow menikmati lonjakan pendapatan signifikan seiring naiknya harga energi global. Situasi ini dipicu oleh langkah Iran yang nyaris menutup Selat Hormuz, jalur perdagangan strategis yang menjadi nadi distribusi minyak dunia.
Penutupan jalur tersebut menyebabkan terganggunya pasokan global dan memaksa kapal-kapal mencari rute alternatif yang lebih panjang dan mahal. Dampaknya, harga minyak melonjak tajam dan secara langsung menguntungkan Rusia, yang tengah menghadapi tekanan sanksi Barat.

Senior Fellow di Carnegie Russia Eurasia Center, Sergey Vakulenko, menyebut Rusia meraup tambahan pendapatan besar dari kondisi tersebut.
“Sejauh ini harga minyak, khususnya jenis Urals, telah melonjak lebih dari US$60 per barel dan ini memberikan negara Rusia hampir US$ 9 miliar (Rp153 triliun) per bulan, itu angka yang sangat substansial,” ujar Vakulenko, dikutip Rabu (1/4/2026).
Ia menambahkan, lonjakan harga energi membuat sejumlah negara kembali bergantung pada pasokan Rusia. Bahkan, negara-negara yang sebelumnya berupaya mengurangi impor kini justru meningkatkan pembelian.
“Bahkan negara-negara yang sebelumnya mempertimbangkan untuk mengurangi minyak dari Rusia, seperti India, kini membeli lebih banyak lagi dan Amerika Serikat bahkan mengeluarkan dispensasi untuk itu,” kata Vakulenko, merujuk pada pembebasan sanksi selama 30 hari yang dikeluarkan Gedung Putih pada awal Maret.
Data menunjukkan harga minyak mentah Urals Rusia melonjak drastis dari sekitar US$57 per barel pada akhir Februari menjadi US$115 per barel pada akhir Maret, setelah serangan militer Amerika Serikat dan Israel ke Iran.
Kenaikan ini memberi ruang napas bagi anggaran Rusia yang sempat tertekan. Dalam dua bulan pertama 2026, defisit anggaran negara tersebut mencapai sekitar US$35 miliar (Rp595 triliun). Namun, lonjakan pendapatan energi kini membantu menahan tekanan fiskal tersebut.
“Rejeki nomplok ini membantu Presiden Vladimir Putin untuk menunda rencana pemotongan pengeluaran negara di berbagai sektor ekonomi yang diprediksi akan tidak populer. Apa yang dia habiskan untuk perang berarti dia pada dasarnya menggadaikan negara. Sekarang, dia tidak perlu melakukan itu lagi,” ujar Vakulenko.
Meski demikian, sejumlah pihak menilai keuntungan tersebut hanya bersifat sementara. Pensiunan Jenderal Richard Shirreff, mantan Wakil Panglima Tertinggi Sekutu NATO di Eropa, menyebut kondisi ekonomi Rusia tetap rapuh dalam jangka panjang.
“Ini adalah ekonomi yang berada di zona kematian posisinya persis seperti pendaki di atas 8.000 kaki di mana tubuh mulai memakan dirinya sendiri. Rusia menghadapi kerusakan jangka panjang yang eksistensial, tetapi Putin memang sedang diuntungkan secara ekonomi saat ini,” tegas Shirreff.
Di sisi lain, Ukraina mengungkapkan kekhawatiran atas situasi tersebut. Presiden Volodymyr Zelenskyy menyebut beberapa mitra internasional bahkan meminta Kyiv mengurangi serangan terhadap sektor energi Rusia guna mencegah lonjakan harga minyak global.
Konflik Iran juga dinilai memberi keuntungan geopolitik bagi Rusia. Shirreff menyoroti bagaimana fokus militer Amerika Serikat terpecah, sehingga dukungan terhadap Ukraina berpotensi berkurang.
“Amerika menembakkan sekitar empat kali lebih banyak rudal Patriot dalam empat hari pertama perang dibandingkan dengan yang mereka pasok ke Ukraina dalam empat tahun. Jadi, Putin menang karena akan ada lebih sedikit peralatan yang tersedia untuk diberikan kepada warga Ukraina,” pungkasnya.
Sementara itu, sejumlah pejabat Barat menilai hubungan Rusia dan Iran semakin erat dalam beberapa tahun terakhir. Seorang pejabat Inggris menyebut kerja sama pertahanan kedua negara meningkat pesat, termasuk transfer teknologi drone.
Menteri Luar Negeri Prancis Jean-Noël Barrot bahkan menyebut hubungan tersebut sebagai “kerja sama dua arah”.
“Ada alasan untuk percaya bahwa Rusia sekarang mendukung upaya militer Iran, yang tampaknya diarahkan khususnya pada target Amerika,” kata Barrot.
Presiden Ukraina Volodymyr Zelenskyy juga mengklaim negaranya memiliki bukti bahwa Rusia memberikan dukungan intelijen kepada Iran, termasuk pemantauan fasilitas militer Amerika Serikat di Timur Tengah.
“Kita melihat bahwa Rusia membantu Iran dengan intelijen untuk menargetkan warga Amerika, untuk membunuh warga Amerika, dan Rusia juga mendukung Iran sekarang dengan drone sehingga mereka dapat menyerang negara-negara tetangga dan juga pangkalan militer AS,” kata Kepala Diplomasi Uni Eropa Kaja Kallas.
Meski demikian, Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio menepis dampak signifikan kerja sama tersebut terhadap operasi militer Amerika.
“Tidak ada yang dilakukan Rusia untuk Iran yang dengan cara apa pun menghambat atau memengaruhi operasi kami atau efektivitasnya. Itulah cara terbaik yang dapat saya katakan,” ujar Rubio.
Di tengah dinamika tersebut, laporan intelijen AS menyebut adanya “kerja sama selektif” antara Rusia, Iran, China, dan Korea Utara dalam upaya menyeimbangkan pengaruh Amerika Serikat, meski belum sepenuhnya solid.
Perang Iran pun tidak hanya mengubah peta konflik global, tetapi juga memicu efek domino pada ekonomi dan geopolitik dunia dengan Rusia sebagai salah satu pihak yang untuk sementara berada di posisi paling diuntungkan. (*/Rel)




