Padang-Pemerintah Kota Padang terus mematangkan strategi besar untuk menembus panggung global sebagai Kota Gastronomi Dunia dalam jaringan UNESCO Creative Cities Network (UCCN) pada 2027. Ambisi ini bukan sekadar mengejar pengakuan internasional, melainkan menjadikan kekayaan kuliner lokal sebagai motor pertumbuhan ekonomi, penguatan identitas kota, dan daya tarik pariwisata berkelas dunia.
Bagi Kota Padang, kuliner bukan hanya soal rasa. Setiap sajian menyimpan sejarah panjang perjumpaan budaya yang membentuk karakter kota pelabuhan ini selama ratusan tahun.
Kepala Dinas Pariwisata Kota Padang, Yenni Yuliza, menjelaskan gastronomi merupakan perpaduan antara seni kuliner, tradisi, sejarah, dan budaya yang diwariskan lintas generasi. Nilai inilah yang menjadi modal kuat Padang untuk bersaing di tingkat global.

“Gastronomi adalah perpaduan antara budaya dan kuliner yang menjadi kekayaan warisan budaya kita. Saat ini seluruh elemen bergerak bersama untuk memperkuat identitas Padang agar diakui dunia sebagai kota gastronomi,” ujar Yenni, Selasa (16/6/2026).
Kekuatan gastronomi Padang lahir dari keberagaman budaya yang telah lama hidup berdampingan. Secara historis, kota ini dikenal melalui filosofi “Padang Jalan Berempat”, simbol harmonisasi empat etnis utama yang membentuk denyut kehidupan kota, yakni Minangkabau, Tionghoa, India, dan Nias.
Akulturasi tersebut tidak hanya melahirkan ekspresi budaya seperti Tari Balanse Madam, musik Gamad, maupun Barongsai, tetapi juga membentuk kekayaan rasa yang khas dalam dapur masyarakat Padang.
Menurut Yenni, keberagaman etnis di Padang tidak menciptakan sekat budaya, melainkan memperkaya karakter kuliner lokal.
“Keberagaman etnis di Padang tidak membuat masing-masing memasak sendiri-sendiri, tetapi justru saling memperkaya cita rasa masakan Padang,” katanya.
Jejak akulturasi itu terlihat jelas dalam berbagai hidangan legendaris. Pengaruh budaya Tionghoa, misalnya, melahirkan ragam kuliner peranakan khas di kawasan Kampung Pondok. Sementara pengaruh India Tamil terasa kuat melalui penggunaan rempah yang kaya dalam berbagai sajian.
Hal itu tercermin pada kuliner legendaris seperti Soto Garuda, Soto Rajawali, hingga martabak khas Malabar yang dikenal dengan aroma rempah kuat dan rasa autentik.
Kekuatan rempah inilah yang menjadikan kuliner Padang memiliki identitas global—berani, kompleks, dan sulit dilupakan.
Namun, ambisi menuju UNESCO tidak semata soal prestise. Pemko Padang memandang status Kota Gastronomi sebagai instrumen strategis untuk mengakselerasi pertumbuhan sektor Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM), memperluas lapangan kerja, serta meningkatkan Pendapatan Asli Daerah (PAD) dari sektor pariwisata dan jasa.
Label UNESCO diyakini mampu menciptakan efek berantai terhadap ekonomi lokal. Ketika kuliner Padang semakin dikenal dunia melalui publikasi media dan promosi digital, minat wisatawan untuk datang diperkirakan akan meningkat signifikan.
“Saat ini kami gencar mempromosikan menu-menu unik ke berbagai media. Ketika kuliner menjadi viral, orang akan datang untuk merasakan langsung. Melalui status Kota Gastronomi, kami berharap UMKM tumbuh, kunjungan wisatawan meningkat, dan PAD kota ikut naik,” jelas Yenni.
Saat ini, Pemko Padang tengah merampungkan dokumen pengajuan untuk seleksi nasional yang berlangsung ketat. Dari 17 kota kreatif di Indonesia yang masuk penilaian, hanya dua kota yang akan dipilih untuk mewakili Indonesia di tingkat dunia.
Persaingan ini menuntut kesiapan dokumen, kekuatan narasi budaya, hingga bukti konkret ekosistem ekonomi kreatif yang berkelanjutan.
Yenni optimistis Padang memiliki seluruh prasyarat untuk menjadi wakil Indonesia di kategori gastronomi.
“Kami berharap Kota Padang dapat menjadi representasi Indonesia di bidang gastronomi. Jika seluruh proses berjalan lancar, pada 2027 kuliner Padang berpeluang memperoleh pengakuan internasional dari UNESCO,” pungkasnya.
Jika target tersebut tercapai, Padang tidak hanya akan dikenal sebagai rumah bagi rendang dan masakan Minang, tetapi juga sebagai kota yang berhasil mengubah warisan kuliner menjadi kekuatan ekonomi dan diplomasi budaya di panggung dunia. (*/sal)




