Ini Alasan Perang Iran Bikin Harga Minyak Dunia Melonjak

JAKARTA, ALINIANEWS.COM – Penutupan jalur perdagangan di Selat Hormuz oleh Iran memicu lonjakan signifikan biaya pengiriman bahan bakar dan barang di seluruh dunia. Kondisi ini berdampak langsung pada kenaikan harga minyak global akibat terganggunya kapasitas distribusi energi.

Gangguan tersebut terjadi setelah konflik yang melibatkan Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran pada akhir Februari 2026, yang membuat kapal-kapal tidak dapat melintasi jalur vital tersebut. Akibatnya, banyak kapal terpaksa mengambil rute alternatif yang lebih panjang dan mahal.

Berdasarkan laporan AFP, Selasa (31/3/2026), terdapat lima indikator utama yang menunjukkan dampak krisis ini terhadap biaya pengiriman global.

Iklan

Pertama, biaya sewa kapal tanker melonjak tajam. Data dari perusahaan riset maritim Clarksons menunjukkan bahwa tarif sewa kapal tanker minyak mentah kelas Suezmax meningkat lebih dari tiga kali lipat, mencapai lebih dari 330.000 dollar AS per hari. Sementara itu, kapal pengangkut gas alam cair (LNG) untuk rute Amerika Serikat ke Jepang juga mengalami kenaikan serupa hingga 90.000 dollar AS per hari.

Kedua, biaya pengiriman minyak mentah secara keseluruhan ikut melonjak drastis. Tarif pengiriman dari Teluk ke China dengan kapal tanker kelas VLCC naik hampir tiga kali lipat, dari 46 dollar AS per metrik ton pada akhir Februari menjadi sekitar 64 dollar AS pada akhir Maret.

Seorang spesialis penetapan harga di S&P Global Energy, Peter Norfolk, menyebut aktivitas pemuatan minyak kini sangat terbatas.

BACA JUGA  Indonesia Bidik Impor Minyak dan LPG Rusia, Kontrak Jangka Panjang Disiapkan

“Hampir tidak ada pemuatan yang terjadi saat ini,” ujarnya. Padahal sebelumnya, sekitar seperlima pasokan minyak mentah dan LNG global melewati Selat Hormuz.

Ketiga, biaya pengiriman kontainer juga terdampak. Tarif pengiriman untuk kontainer 40 kaki dari kawasan Timur Jauh ke Eropa dan Pantai Barat Amerika Serikat naik 20 hingga 25 persen, menjadi 2.200–2.700 dollar AS. Bahkan, menurut laporan Maritime Services International, tarif ke wilayah Teluk Timur Tengah dan Laut Merah melonjak hampir 200 persen akibat tambahan biaya perang.

Keempat, harga bahan bakar kapal mengalami lonjakan signifikan. Data dari FactSet menunjukkan harga bahan bakar kapal hampir dua kali lipat, sempat menyentuh 1.053 dollar AS per metrik ton pada 20 Maret 2026, sebelum berada di kisaran lebih dari 936 dollar AS pada akhir Maret. Angka ini meningkat tajam dibandingkan sekitar 540 dollar AS sebelum konflik pecah.

Kelima, premi asuransi risiko perang ikut melambung tinggi. Biaya asuransi untuk satu kali pelayaran melalui Selat Hormuz kini bisa mencapai puluhan juta dollar AS, terutama untuk kapal dan muatan bernilai ratusan juta dollar.

David Smith memperkirakan premi asuransi berkisar antara 3,5 hingga 10 persen dari nilai kapal.

Kondisi ini menunjukkan bahwa dampak konflik di Timur Tengah tidak hanya dirasakan di kawasan tersebut, tetapi juga menjalar ke rantai pasok global. Lonjakan biaya logistik dan energi berpotensi meningkatkan tekanan terhadap harga barang dan inflasi di berbagai negara. (*/Rel)

BACA JUGA  Apa yang Dibicarakan Prabowo dan Putin? Ini Hasilnya
spot_img

Latest news

- Advertisement -spot_img

Berita Terkait

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses