Anggaran MBG Rp 268 Trilliun Tepat Sasaran, Mayoritas Mengalir ke Rakyat dan Perkuat Ekonomi Daerah
Jakarta, ALINIANEWS.COM – Program Makan Bergizi Gratis (MBG) menunjukkan perannya tidak hanya sebagai program pemenuhan gizi nasional, tetapi juga sebagai instrumen strategis dalam menggerakkan ekonomi rakyat. Dari total anggaran sebesar Rp268 triliun, sekitar 93 persen atau setara Rp249 triliun disalurkan melalui mekanisme virtual account (VA) guna memastikan transparansi, akuntabilitas, dan ketepatan sasaran.
Wakil Kepala Badan Gizi Nasional (BGN), Sony Sonjaya, menegaskan bahwa desain penyaluran anggaran MBG memang dirancang agar manfaatnya langsung dirasakan oleh masyarakat luas.

“Sebagian besar anggaran MBG kami arahkan untuk pembelian bahan baku pangan dan pembayaran tenaga kerja di SPPG. Artinya, dana negara tersebut langsung berputar di masyarakat—menyentuh petani, pelaku usaha lokal, serta relawan di daerah,” ujar Sony Sonjaya.
Ia juga menekankan bahwa penggunaan sistem virtual account (VA) sebesar 93 persen merupakan langkah strategis untuk memastikan transparansi dan ketepatan distribusi anggaran.
“Dengan sistem VA, setiap transaksi tercatat secara digital dan dapat diawasi. Ini memastikan bahwa anggaran benar-benar sampai ke penerima manfaat dan digunakan sesuai peruntukannya,” tambahnya.
Rincian Anggaran: Fokus ke Rakyat
Dari total Rp249 triliun yang disalurkan langsung ke masyarakat, BGN merinci komposisi penggunaannya sebagai berikut:
70% atau sekitar Rp174 triliun dialokasikan untuk pembelian bahan baku pangan
20% atau sekitar Rp49,8 triliun digunakan untuk gaji sekitar 1,2 juta relawan serta biaya operasional SPPG
10% atau sekitar Rp24,9 triliun diberikan sebagai insentif bagi mitra, sebagai bentuk pengembalian investasi pembangunan SPPG
Komposisi ini menegaskan bahwa sebagian besar anggaran negara benar-benar masuk ke sektor riil, khususnya ke petani, peternak, nelayan, pelaku UMKM, serta tenaga kerja lokal.
Dampak Nyata ke Ekonomi Daerah
Dengan alokasi 70 persen untuk bahan baku, MBG menjadi salah satu program dengan daya dorong terbesar terhadap sektor pangan lokal. Perputaran dana ratusan triliun rupiah tersebut secara langsung:
Menghidupkan produksi dan distribusi pangan daerah
Mendorong pertumbuhan UMKM
Menciptakan lapangan kerja melalui keterlibatan 1,2 juta relawan
Meningkatkan daya beli masyarakat
Sementara itu, skema insentif mitra juga memastikan keberlanjutan investasi dalam pembangunan infrastruktur SPPG di berbagai wilayah.
Penegasan di Lapangan: Narasi Negatif Tidak Berdasar
Menanggapi berbagai informasi yang tidak akurat terkait Program MBG, Drs. H. Marlis, MM, Ketua DPW HMD Gemas Sumatera Barat, menegaskan bahwa pelaksanaan program di lapangan menunjukkan dampak yang nyata dan terukur.
“Kami melihat langsung bahwa anggaran MBG benar-benar berputar di masyarakat. Pembelian bahan pangan dilakukan dari sumber lokal, dan relawan yang terlibat juga menerima manfaat ekonomi secara langsung. Ini adalah program yang nyata, bukan seperti narasi yang berkembang di luar,” ujar Marlis.
Ia menambahkan bahwa persepsi negatif yang beredar perlu diluruskan dengan data dan fakta di lapangan agar tidak menyesatkan opini publik.
“Dengan komposisi anggaran seperti ini, sangat jelas bahwa MBG berpihak kepada rakyat. Jangan sampai hoaks menutupi fakta bahwa program ini menggerakkan ekonomi desa dan membuka peluang kerja luas,” tegasnya.
Instrumen Gizi dan Penguatan Ekonomi
Dengan skema yang terstruktur dan berbasis masyarakat, Program MBG kini menjadi dua kekuatan sekaligus, yaitu sebagai upaya peningkatan kualitas gizi nasional serta sebagai penggerak ekonomi kerakyatan.
Di tengah dinamika ekonomi global, model distribusi anggaran yang langsung menyentuh sektor riil ini menjadi bukti bahwa kebijakan yang tepat sasaran mampu memberikan dampak nyata, baik bagi kesejahteraan masyarakat maupun pertumbuhan ekonomi daerah. (*/ Redaksi )




