ALINIANEWS.COM — Tidak semua orang sanggup bertahan ketika berhadapan langsung dengan lorong-lorong gelap kekuasaan. Tidak semua orang mampu tetap tegak ketika godaan uang, ancaman, tekanan, dan fitnah datang silih berganti. Namun selama kurang lebih satu tahun memimpin DPW BPI KPNPA RI Sumatera Barat, Drs. H. Marlis, MM memilih jalan yang paling berat: berdiri di garis depan, menantang ketidakberesan, dan menjaga marwah integritas hingga akhir masa pengabdiannya.
Bagi sebagian orang, jabatan organisasi hanyalah status sosial. Tetapi bagi Marlis, amanah itu menjelma menjadi medan perang moral. Hari-harinya bukan diisi seremoni atau tepuk tangan, melainkan perjalanan panjang ke pelosok daerah, menelusuri proyek-proyek pemerintah, menggali data, menemui sumber informasi, dan menyusun temuan atas dugaan penyimpangan anggaran negara.
Ia turun langsung ke lapangan, menembus jalan rusak, kawasan terpencil, hingga lokasi proyek yang nyaris tak pernah disentuh pengawasan publik. Dari sana, berbagai persoalan terkuak: dugaan penyimpangan proyek fisik, persoalan Dana Pokir, penggunaan Dana BOS, pungutan liar berkedok uang komite sekolah, perjalanan dinas yang dipertanyakan, hingga isu upah pungut yang dinikmati segelintir pejabat.

“Jabatan ini bukan ruang nyaman. Ini ruang tempur. Banyak kepentingan yang terganggu ketika kebenaran mulai dibuka,” ungkap Marlis dalam pernyataan reflektifnya.
Ruang Sidang, Kantor Polisi, dan Tekanan Tanpa Henti
Di balik berita dan laporan yang muncul ke publik, ada harga mahal yang harus dibayar. Marlis mengaku nyaris tak memiliki waktu tenang. Ia bolak-balik menghadiri sidang di Komisi Informasi Sumbar, menyusun dokumen sengketa informasi, membuat BAP di kantor kepolisian dan kejaksaan, hingga menghadapi berbagai bentuk intimidasi.
Tekanan datang bukan hanya secara administratif, tetapi juga fisik dan psikologis. Teror halus maupun kasar, serangan karakter, fitnah di ruang publik, hingga upaya-upaya membungkam dengan iming-iming uang dalam jumlah besar menjadi bagian dari realitas yang harus dihadapinya.
Namun ia memilih menolak semua itu.
“Allah menjaga saya dari segala bentuk perbuatan tercela. Saya tidak pernah memeras, meminta uang, ataupun menerima hadiah demi kepentingan pribadi,” tegasnya.
Di tengah budaya kompromi yang sering dianggap lumrah, sikap seperti itu adalah kemewahan moral yang langka.
Semakin Tegak, Semakin Banyak Musuh
Ada hukum tidak tertulis dalam dunia pengawasan: semakin keras seseorang melawan penyimpangan, semakin banyak pula pihak yang merasa terusik.
Marlis mengaku selama masa kepemimpinannya, hampir setiap hari namanya diperbincangkan. Di ruang-ruang kantor, warung kopi, grup percakapan, hingga meja-meja kekuasaan. Jumlah lawan bertambah, sementara lingkaran kawan perlahan menyusut.
Tetapi justru dalam kesendirian itulah integritas diuji.
Ia menggambarkan dirinya harus tetap tampil gagah perkasa bak komandan perang di medan laga, menjaga mental, keberanian, dan fokus agar tidak tumbang oleh tekanan.
Bagi banyak aktivis, fase seperti ini sering menjadi titik patah. Namun Marlis memilih tetap istiqomah.
Pengakuan Diam-Diam dari Dalam Sistem
Menariknya, di tengah kerasnya pertarungan itu, sejumlah pejabat di Sumatera Barat yang enggan disebutkan namanya justru memberikan apresiasi tersendiri terhadap sosok Marlis.
Seorang pejabat senior menyebut, keberanian Marlis adalah sesuatu yang langka di era sekarang.
“Tidak banyak orang berani menyentuh persoalan sensitif. Pak Marlis punya nyali besar. Dia bicara berdasarkan data dan berani menanggung risikonya sendiri,” ujarnya.
Pejabat lain di lingkungan pemerintahan daerah mengaku salut terhadap keteguhan sikap Marlis yang tidak mudah digoyang dengan tekanan maupun pendekatan materi.
“Kalau mau cari aman, tentu beliau bisa diam. Tapi beliau memilih jalan terjal. Itu menunjukkan integritas yang tidak bisa dibeli,” katanya.
Sementara seorang tokoh birokrasi lainnya menilai, meski langkah-langkah Marlis kerap menimbulkan kegelisahan di kalangan tertentu, kehadirannya justru memberi efek positif bagi tata kelola pemerintahan.
“Kadang orang seperti beliau memang tidak disukai saat masih aktif. Tapi ketika sudah tidak ada, barulah terasa bahwa fungsi kontrol itu penting,” ucapnya.
Meninggalkan Jabatan dengan Kepala Tegak
Kini, setelah satu tahun yang ia sebut sebagai masa “berat, mencekam, dan penuh sandiwara”, Marlis memutuskan kembali ke habitat aslinya sebagai seorang entrepreneur.
Ia menutup pengabdian itu bukan dengan skandal, bukan dengan catatan hitam, tetapi dengan kepala tegak dan nama baik yang tetap utuh.
Dalam pernyataannya, ia juga menunjukkan kebesaran jiwa dengan menyampaikan permohonan maaf kepada semua pihak yang selama ini merasa terganggu oleh langkah-langkahnya.
“Sebagai manusia biasa, saya mohon maaf yang tulus kepada semua pihak yang merasa terusik. Mudah-mudahan Allah SWT melindungi kita semua.”
Warisan Moral yang Sulit Dibeli
Di tengah zaman ketika banyak orang mudah tunduk pada kenyamanan, kisah Marlis menjadi pengingat bahwa masih ada figur yang berani memilih jalan sunyi: melawan tanpa pamrih, bekerja tanpa amplop, dan mundur tanpa cela.
Setahun di garis api itu mungkin telah berakhir. Namun jejak keberanian, keteguhan, dan integritasnya akan tetap dikenang sebagai pesan penting bagi Sumatera Barat: bahwa jabatan boleh selesai, tetapi kehormatan tidak pernah pensiun. (*/Redaksi )



